Makam keluarga Karto Dikromo di antara ladang pertanian warga di bekas Dusun Pencar, Desa Klakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Selasa (19/11/2019). (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Wilayah yang berjarak 3 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi itu dulunya merupakan permukiman penduduk. Pencar namanya.

Wilayah itu masuk Desa Klakah, Kecamatan Selo, Boyolali. Kini, di kampung itu hanya ada hamparan ladang dan permakaman. Belasan batu nisan tampak di antara ladang-ladang milik warga.

Pencar yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) itu terlihat sepi ketika Solopos.com mendatanginya, Selasa (19/11/2019). Jalan beton selebar kira-kira 2,5 meter hanya cukup dilalui dua motor bersimpangan.

Kisah Penjual Soto Yang Mendadak Buta Setelah Berobat ke RS Mata Solo

Perkampungan terdekat dari Pencar adalah Dusun Klakah Duwur dan Dusun Bangunsari, Desa Klakah. Di sisi kanan dan kiri jalan utama itu, wilayah Pencar hanya dipenuhi area ladang sayur seperti cabai dan wortel.

Tidak ada rumah penduduk maupun perkampungan. Orang-orang yang berseliweran dengan sepeda motor hanya membawa alat pertanian.

Sejumlah area yang kini berubah menjadi ladang diyakini dulunya merupakan bekas kawasan permakaman. Salah satu nisan bertuliskan nama Mbah Sarmi.

Makam itu masih terawat dan sudah diberi kijing. Selain nama Mbah Sarmi ada pula makam keluarga Karto Dikromo yang hanya berupa gundukan tanah. Permakaman itu hanya dipagari bambu dan diberi penanda tulisan.

Punya Kamera Berbentuk Ketupat, Vivo S1 Pro Sudah Bisa Dipesan

Pencar dulunya merupakan sebuah perkampungan. Namun kini perkampungan itu tinggal kenangan. Dusun itu luluh lantak saat tragedi erupsi Merapi pada 18 Januari 1954.

Setelah erupsi Merapi berakhir, tak ada lagi warga yang berani tinggal di Pencar. Kawasan itu berubah menjadi ladang pertanian.

Seorang warga Desa Klakah, Mbah Gino, 75, mengungkapkan letusan Merapi lebih dari 65 tahun lalu itu berdampak sangat parah. Mbah Gino sudah tak terlalu banyak mengingat peristiwa yang terjadi saat dirinya masih berusia sepuluh tahun itu.

“Dulu seperti ada awan kemudian orang-orang lari mengungsi,” tutur Mbah Gino.

Gibran Puji Program Akta Kelahiran Solo, Rudy: Terima Kasih Ada yang Memuji

Warga saat itu meninggalkan rumah dan ternak untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih rendah. Bahkan ada yang sampai mengungsi ke daerah Magelang.

Setelah letusan itu berhenti beberapa hari kemudian, warga menemukan banyak hewan ternak mati terpanggang awan panas dari letusan Merapi.

Kabar mengenai letusan Merapi 1954 itu juga menjadi pemberitaan di media massa. Penelusuran lewat arsip koleksi Monumen Pers Nasional (MPN), Selasa (11/9/2019), Koran Suara Rakjat edisi sore Selasa Pon 19 Januari 1954 menuliskan Merapi meletus.

Lahar menuju ke Boyolali disertai hujan abu dalam jarak lingkar 25 km. Pada pukul 11.40 WIB Gunung Merapi meletus mengeluarkan lahar sampai di Desa Tlogolele perbatasan Boyolali-Magelang.

Es Teh di Warung Dekat Puskesmas Purwodiningratan Jebres Solo Viral, Apa Istimewanya?

Pukul 13.30 WIB puncak Merapi itu tertutup seluruhnya oleh abu dan hujan abu terjadi di daerah Magelang. Sementara warga Selo mengungsi ke daerah Gunung Merbabu.

Suara Rakjat edisi pagi Rabu Wage 20 Januari 1954 juga memuat pemberitaan serupa. Surat kabar itu memberi informasi ada sekitar 23 warga meninggal dunia dan 66 warga luka karena terbakar.

Mereka berasal dari Desa Jrakah yang bersebelahan dengan Desa Klakah. Lalu Suara Rakjat edisi pagi Kamis Kliwon 21 Januari 1954 menuliskan Merapi sudah tenang kembali, tetapi telah menimbulkan korban 37 orang tewas dan banyak kerusakan.

Di Boyolali ada 37 orang tewas dan 66 orang luka-luka disebabkan wedhus gembel yang turun saat letusan, disusul lahar dan asap tebal putih yang mengarah ke Kali Apu, Selo.

Korban Teror Sperma Tasikmalaya Jadi 5 Orang, Motif Masih Misterius

Ada 2.500 warga dari Desa Klakah dan Desa Tlogolele yang diungsikan ke Boyolali. Kerugian di dua desa tersebut ditaksir ada lebih kurang 100 ekor sapi, 500 ekor kambing, dan seratus rumah, serta 240-an hektare lahan yang musnah. Abu yang jatuh itu tebalnya sekitar 16 cm.

Terpisah, seorang sukarelawan sekaligus pegiat Jalin Merapi, Mujianto, mengatakan hingga saat ini bekas perkampungan di Pencar masih digunakan untuk napak tilas tragedi Merapi. Misalnya dalam kegiatan jambore atau kegiatan sukarelawan lainnya.

“Pada 1954 kabarnya letusan Merapi memang dahsyat hingga menghancurkan satu dusun yang kini jadi ladang warga,” kata Mujianto.

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten