Tutup Iklan -->
Ribuan Perantau Pulkam, Seluruh Desa di Wonogiri Bentuk Tim Tanggap Corona
Sukarelawan anggota tim tanggap virus corona (Covid-19) menyemprotkan disinfektan ke badan mobil yang akan memasuki Desa Ngambarsari, Karangtengah, Wonogiri, Jumat (27/3). (Istimewa/Fitri Hanani)

Solopos.com, WONOGIRI -- Seluruh desa di Wonogiri diinstruksikan membentuk tim tanggap corona atau gugus tugas penangkal penularan virus corona (Covid-19).

Pembentukan tim mendesak dilakukan mengingat para perantau dari berbagai daerah mulai pulang kampung atau pulkam di tengah pandemi virus tersebut.

Desa menjawab instruksi itu dengan merealisasikan anggaran di pos kedaruratan atau mengalihkan anggaran dari pos tertentu. Di Wonogiri terdapat 251 desa.

2 Pasien Positif Virus Corona di Jateng Sembuh, dari Solo dan Semarang

Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Wonogiri, Zyqma Idatya Fitha, kepada Solopos.com, Jumat (27/3/2020), menyampaikan instruksi terkait pembentukan tim tanggap corona itu dikeluarkan 24 Maret 2020 lalu.

Instruksi itu tertuang dalam surat No. 140/2532 perihal Peningkatan Kewaspadaan Risiko Penularan Infeksi Covid-19 bagi Desa. Kebijakan tersebut untuk merespons kondisi terkini di Wonogiri.

Seperti diketahui, virus corona sudah merambah Kota Sukses. Ada dua warga yang terkonfirmasi positif. Salah satunya sudah meninggal dunia.

Pulau-Pulau Ini Jadi Angker Setelah Ditinggalkan Penduduknya, Berani Datang?

Di tengah situasi wabah ini, belasan ribu perantau yang mayoritas dari Jakarta dan sekitar pulkam ke berbagai desa dalam beberapa hari terakhir. Jakarta merupakan wilayah yang juga endemik Covid-19.

Realisasikan Anggaran Kedaruratan

Desa harus turut andil menangkal penularan virus corona secepatnya. Langkah cepatnya dengan membentuk tim tanggap corona. Bagi desa yang sudah menjadi desa tanggap bencana (destana) bisa segera memberdayakan sukarelawan dan elemen masyarakat lainnya.

Desa tersebut tinggal merealisasikan anggaran kedaruratan yang sudah ditetapkan dalam APB Desa 2020.

Pasien Meninggal Corona Asal Semanggi Solo: Anak, Istri, Kerabat Dinyatakan Positif

“Bagi desa yang belum mempunyai pos anggaran tanggap bencana atau kedaruratan, bisa mengalihkan anggaran dari pos lain mendahului APB desa perubahan. Yang penting prosedurnya dijalankan sesuai aturan,” kata perempuan yang akrab disapa Fitha itu saat dihubungi Solopos.com.

Dia melanjutkan tim tanggap corona yang harus dibentuk desa terdiri atas berbagai unsur, seperti kepala desa (kades), anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pengurus rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), dan bidan desa.

Selain itu juga melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, PKK, karang taruna, dan elemen di tingkat desa lainnya. Tugas tim mengedukasi, mendata warga yang keluar masuk desa, termasuk perantau, memastikan tidak ada warga yang berkumpul, dan sebagainya.

Ada Ujaran Kebencian Ibu Jokowi Meninggal, Respons Kaesang Dipuji

Kades Ngambarsari, Karangtengah, Fitri Hanani, mengaku sudah membentuk tim khusus tanggap corona. Tim terdiri atas 30 anggota sukarelawan dari setiap dusun.

Tim bersiaga di pintu masuk dusun/desa. Jika ada kendaraan masuk, tim menyetop lalu meminta seluruh penumpang turun. Selanjutnya sukarelawan menyemprot disinfektan ke bagian luar kendaraan.

Round Up Corona Solo: 1 Pasien Sembuh, Meninggal Tambah 1

Sukarelawan lainnya memberi edukasi kepada para penumpang seputar pencegahan penularan virus corona. Selain itu sukarelawan mendata warga rentan sakit dan para perantau yang sudah masuk desa. Sukarelawan juga memonitor kesehatan mereka.

“Tim kami bentuk dengan SK [surat keputusan]. Dana operasional tim kami ambilkan dari anggaran sarpras olahraga yang sudah dialihkan dengan mendahului APB desa perubahan,” terang Fitri.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho