Akademisi: Kasus Jual-Beli Lahan Bong Mojo, Pemkot Solo Dianggap Lalai

PP No.27/2014 dan Permendagri No.19/2016 yang harusnya menjadi pegangan Pemkot Solo dalam mengamankan aset bong Mojo.

 Petugas menggunakan meteran mengukur lahan di kawasan Bong Mojo, Jebres, Solo, Rabu (20/7/2022). (Solopos/Nicolous Irawan)

SOLOPOS.COM - Petugas menggunakan meteran mengukur lahan di kawasan Bong Mojo, Jebres, Solo, Rabu (20/7/2022). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Jual beli tanah di Kawasan Pemakaman Bong Mojo menurut ahli, tidak lepas dari minimnya pengawasan Pemkot Solo terhadap aset-aset yang dimiliki.

Pemkot Solo dianggap abai dengan sejumlah aset baik dari segi pemeliharaan dan pengamanan.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Selain itu, jual beli tanah di lahan milik Pemkot Solo dipastikan adalah tindakan kriminal.

Penjual hanya melihat dari sisi ekonomi yang menguntungkan dirinya. Sedangkan lahan di Bong Mojo adalah tanah milik Pemkot Solo yang tidak diperjualbelikan.

Menurut Dosen Hukum Agraria Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lego Karjoko, ada dua dasar hukum mengenai aset daerah, yakni PP No.27/2014 dan Permendagri No.19/2016.

Baca Juga: Ada 2 Calon Tersangka Jual Beli Lahan Makam Bong Mojo Solo, Siapa Saja?

Dalam dua aturan tersebut, dijabarkan secara rinci bagaimana Pemkot Solo memiliki hingga melepaskan aset daerah. Hal tersebut membutuhkan proses yang cukup panjang.

“Ada dua aturan yang digunakan yakni PP No.27 Tahun 2014 dan Permendagri No.19 Tahun 2016, keduanya mengenai penyelenggaraan dan kepemilikan aset daerah. Jadi untuk tanah termasuk praktik jual beli, ada beberapa kemungkinan atau tukar menukar atau hibah dan harus ada persetujuan DPRD dalam pelaksanaannya. Sedangkan yang terjadi di Bong Mojo, di sana ada mafia atau calo yang melihat itu tanah kosong dan nilai eknominya tinggi lalu kemudian dijual, jadi itu dari sisi aturan bukan orang yang berhak,” jelas dia, kepada Solopos.com, Minggu (15/8/2022), .

Lego juga mengkritik adanya pengawasan yang lemah terhadap aset-aset Pemkot Solo selama ini. Menurutnya setiap aset yang dimiliki harus dikelola dengan baik dan terdata secara administrasi.

“Cuman persoalan dasarnya menurut saya banyak hal aset aset daerah tidak dikelola dengan baik, mestinya ada perintah di situ ada pemeliharaan dan pengamanan, minimal fisik dan administrasi. Ini banyak terjadi di pemerintahan, tidak dikelola dengan baik padahal berpotensi. Lihat dari tata ruangnya, jika tidak untuk pemakaman dan bisa dialih fungsikan, menjadi bangunan yang lebih bermanfaat,” papar dia.

Baca Juga: Kasus Jual Beli Lahan Bong Mojo Solo, Sudah 12 Saksi Diperiksa Polisi

Sebelumnya, Penyidik Satreskrim Polresta Solo akan melakukan pemeriksaan saksi-saksi  terkait kasus jual-beli lahan makam Bong Mojo, Jebres, Solo.

Gelar perkara itu salah satunya untuk menentukan tersangka dalam kasus itu. Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, mengatakan penyidik telah mengantongi dua nama yang berpotensi menjadi tersangka.

Ade mengungkapkan modus pelaku jual-beli lahan makam Bong Mojo bermula dari pembersihan dan pemerataan lahan oleh oknum tak bertanggung jawab. Mereka nekat melakukan hal itu setelah tahu lahan milik Pemkot Solo itu tak lagi difungsikan sebagai permakaman.

Oknum tak bertanggung jawab itu kemudian menawarkan lahan yang sudah dibersihkan kepada masyarakat yang ingin mendirikan bangunan. Untuk itu, oknum tersebut meminta sejumlah uang sebagai pengganti jasa pembersihan dan perataan lahan.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Gas Air Mata Penyebab Asfiksia, Mati Lemas Kurang Oksigen di Tragedi Kanjuruhan

      Gas Air Mata Penyebab Asfiksia, Mati Lemas Kurang Oksigen di Tragedi Kanjuruhan

      Gas air mata hingga mengakibatkan penghirupnya mengalami asfiksia diduga menjadi penyebab utama jatuhnya ratusan korban jiwa pada tragedi di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) malam.

      Berita Terkini

      Badan Wakaf Sukoharjo: Yuk, Berwakaf Juga Bisa dengan Uang Tunai

      Badan Wakaf Kabupaten Sukoharjo diminta mulai menyosialisasikan gerakan wakaf tunai.

      Walah, 50 Persen ASN Pemkot Solo Ternyata Belum Punya Rumah

      Sebanyak 50% dari total jumlah ASN di Pemkot Solo diketahui belum memiliki rumah sendiri. Pemkot bersama PT Taspen akan membangunkan rumah untuk mereka.

      Berantas Narkoba di Klaten, 5 Pengendar dan 1 Pemakai Dibekuk Polisi

      Satnarkoba Polres Klaten mengungkap empat kasus dengan enam tersangka selama September 2022.

      DPUPR Solo: Jurug A Jadi Jembatan Darurat Khusus Pengendara Sepeda Motor

      DPUPR Solo menegaskan jembatan darurat tidak dibangun di Beton, Sewu, ke Gadingan, Sukoharjo, melainkan menggunakan Jembatan Jurug A yang kini tengah diuji dan akan diperbaiki.

      Inilah Rute ke Air Terjun Jurug Kemukus Wonogiri

      Rute ke Air Terjun Jurug Kemukus Wonogiri dinilai sangat gampang.

      Soal Tragedi Kanjuruhan, Psikolog UIN RM Said Surakarta: Perlu Saling Evaluasi

      Psikolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said, Kartasura, Sukoharjo, Ernawati, mengajak semua pihak saling evaluasi terkait tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan Malang.

      Pemilihan Rektor UNS Solo, Pendaftar Boleh dari Perguruan Tinggi Lain

      Panitia Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor UNS Solo belum mendapat satu pun pendaftar hingga hari kedua pendaftaran, Selasa (4/10/2022).

      Jumlah Pengguna QRIS Wonogiri Terendah di Soloraya, Ini Data Lengkapnya

      Merchant atau pedagang pengguna QRIS di Wonogiri hanya 8% dari total 358.410 pengguna di Soloraya.

      Marak KDRT hingga Kalangan Artis: Selingkuh dan Budaya Patriarki Penyebabnya

      Perselingkuhan dan budaya patriarki menjadi salah satu penyebab maraknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

      Berikut Data Produksi Kopi Arabika dan Robusta di Wonogiri

      Festival Kopi dan Batik di Wonogiri akan dijadikan sebagai agenda tahunan di waktu mendatang.

      Soal Jembatan Sasak Beton-Gadingan, DPUPR Solo Pasrahkan ke Balai Besar Sungai

      DPUPR Solo sudah mengadukan permasalahan jembatan sasak yang menghubungkan Kampung Beton, Sewu, dengan Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo, ke Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.

      Bupati Sragen Minta Cakades yang Tak Siap Kalah Untuk Mundur

      Sebanyak 48 calon kepala desa (cakades) di Sragen mendeklarasikan komitmen untuk menjaga Pilkades Serentak 2022 berlangsung damai dan lancar.

      Flyover Manahan dan Purwosari Solo Dilengkapi JPO, Konsepnya Modern Pakai Lift

      Dua jembatan penyeberangan orang atau JPO yang masing-masing akan dibangun di flyover Manahan dan Purwosari Solo berkonsep modern dilengkapi lift.

      Pendataan Calon Penerima Bantuan Sapu Jagat di Karanganyar Belum Juga Klir

      Pendataan calon penerima bantuan sapu jagat di Karanganyar belum juga klir. Dinsos Karanganyar mengembalikan data calon penerima ke Disdagnakerkop UKM karena tak lengkap.

      Merasa Sudah Paham, FPDIP DPRD Solo Tak Berikan Pandangan Umum atas APBD 2023

      FPDIP DPRD Solo tidak memberikan pandangan umum terhadap APBD 2023 padahal fraksi-fraksi lain memberikan pandangan mereka.