Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, dalam Forum CDI di Ballroom Hotel Hyatt Sleman, Jumat (24/1/2020). (Harian Jogja-Abdul Hamid Razak)

Solopos.com, JAKARTA -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengimbau para khatib untuk menyebarkan toleransi dengan menyampaikan khutbah Jumat yang memuat konten kerukunan antarumat beragama. Imbauan ini sebagai salah satu upaya untuk mencegah terorisme sebagai dampak pemahaman radikal.

"Radikalisme itu melahirkan sikap terorisme, yang dimulai dari sikap intoleran atau ananiyah. Jangan sampai khatib mengobarkan sikap-sikap seperti itu, itu gaduh nanti umat. Itu komitmen yang harus dimiliki khatib-khatib," kata Wapres Ma'ruf saat membuka Rakernas II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wapres Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Sultan HB X Komentari Erupsi Merapi: Hanya Meleleh, Mending Keluar daripada Tidak

Sebagai salah satu hulu dari penyebaran ajaran Islam, para khatib diminta memiliki komitmen menjaga keutuhan dan persatuan nasional. Caranya, kata Ma'ruf Amin, adalah mengajak umat Islam meningkatkan toleransi, baik kepada sesama umat Islam maupun pemeluk agama lain.

"Perbedaan agama juga kita harus bertoleransi. Kita diajarkan lakum diinukum wa liya diin, jadi ya kita masing-masing saja. Di dalam persaudaraan Islam tidak boleh ada sikap ananiyah [intoleran]; jangankan kepada non-Muslim, kepada sesama Muslim saja sudah meng-kafir-kan. Nah, itu namanya sikap ananiyah," jelas Wapres.

Gunung Semeru Meletus, Waspada Runtuhnya Kubah Lava Kawah Jongging Seloko

Untuk menyampaikan ceramah agama yang toleran, lanjut Wapres, para khatib harus memiliki wawasan luas dan mengutamakan narasi-narasi kerukunan. Dengan demikian, khutbah-khutbah yang disampaikan di setiap ibadah salat Jumat tidak akan menimbulkan konflik antarsesama.

"Kita harus menjaga toleransi kerukunan, dan kita harus membangun narasi-narasi kerukunan. Di dalam khotbah itu jangan membangun narasi konflik dan narasi permusuhan," tegasnya.

Gunung Semeru 2 Kali Meletus, Radius 4 Km Harus Steril

Wapres meminta Ikatan Khatib Dewan Masjid Indonesia (DMI) turut mendorong program pemerintah menanggulangi radikalisme dan terorisme. DMI diminta memberikan pemahaman kepada para khatib akan bahaya paham radikal.

"Oleh karena itu saya minta itu dipahami betul oleh para khatib karena khatib merupakan juru dakwah utama dan terdepan, mempunyai peran penting dalam ibadah dan peran sosial yang luas," ujarnya.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten