SOLOPOS.COM - Petugas mengevakuasi jenazah dari kediaman Kades Puhgogor, Bendosari, Sukoharjo, Selasa (21/10/2014) (Aries Susanto/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SUKOHARJO–Tragedi berdarah di Dukuh Ngesong, Desa Puhgogor, Bendosari, Selasa (21/10/2014) berpotensi menimbulkan korban berikutnya, yakni puteri sulungnya yang masih hidup.

(Baca Juga: Tragedi Sukoharjo, Kades Diduga Bunuh Anak dan Istri Lalu Bunuh Diri)

Promosi Lebaran Zaman Now, Saatnya Bagi-bagi THR Emas dari Pegadaian

Untuk itulah, puteri korban yang kini menempuh pendidikan di Universitas di Surakarta itu harus mendapatkan pendampingan dari psikiater secara intens. (Baca Juga: Ini Surat Wasiat Kades Puhgogor untuk Putrinya)

“Psikiater itu bisa diambilkan dari kampusnya sendiri. Kalau tidak ada, UNS siap menjadi pendamping puteri korban itu,” ujar psikolog dari UNS Solo, Tuti Harjayani saat dihubungi Solopos.com, Selasa (21/10).

Pantauan Solopos.com, puteri korban, Danie Sulistyaningrum seketika menjerit histeris begitu tiba di depan rumahnya. Saking shocknya, Danie sempat dipapah keluarganya untuk duduk di teras rumahnya.(Baca Juga: Ini Kronologi Penemuan Mayat Keluarga Kades Puhgogor)

Matanya sembab dan terus menangis di tengah kerabatanya. Menurut Tuti, kondisi kejiwaan Danie saat ini sangat rawan melakukan hal-hal yang tak diinginkan, seperti ingin mengakhiri hidupnya karena guncangan hebat dalam jiwanya. (Baca Juga: Ini Bentuk Surat Wasiat Kades Puhgogor, dari Pujian TMMD hingga Curhat Soal Staf)

Danie, kata Tuti, tak hanya merasa kehilangan orang-orang dekatnya, namun ia juga merasa kehilangan masa depannya dan bayang-bayang ancaman lainnya.

“Dia masih sekolah, secara ekonomi mungkin ia bingung mau cari uang dari mana lagi. Ia juga terguncang hebat karena semua keluarga kandungnya tiada secara mengejutkan,” paparnya.

Saat-saat seperti inilah, pihak kampus harus aktif menemui puteri korban. Kampus harus memberikan pendampingan secara khusus agar Danie memiliki semangat hidup. Selain itu, pihak keluarga juga harus memberikan dukungan moral dan semangat hidup.

“Dia kan masih mahasiswa, bisa juga labil. Namun, harus diberikan pemahaman bahwa dia harus kuat,” tuturnya.

Model pendampingan kepada Danie, jelas Tuti, ialah dengan terapi kognitif behaviour atau terapi cara berpikir yang benar. Model tesebut dilakukan dengan wawancara secara intensif atas persoalan-persoalan yang dialami Danie.

“Termasuk rekan-rekan kuliahnya juga harus bisa memahami kondisi Danie. Rekan yang baik akan sangat membantu proses pemulihan kejiwaan Danie,” katanya.

Tuti juga berharap, pihak-pihak yang mungkin masih memiliki piutang dengan keluarga korban bisa bersikap bijak. Meski utang harus tetap dibayar, namun jangan sampai membuat kondisi puteri korban terjerembab pada hal-hal yang tak diinginkan.

“Utang tetap harus dibayar, namun tetap dengan memakai cara-cara bijaksana agar puteri korban ini memiliki kesempatan untuk bangkit,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya