Tak Ada Proteksi, Pengusaha Bus Lokal Wonogiri Semakin Tergerus

Ada dua proteksi yang diharapkan pengusaha bus AKAP lokal Wonogiri, yakni pemberian izin trayek sesuai faktor muat penumpang atau loadfactor dan pembatasan akses bus AKAP dari luar daerah sampai terminal tipe A.

 Beberapa unit bus Sedya Mulya milik PT Sedya Mulya Dwipa berada di garasi, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Rabu (12/1/2022). (Solopos.com/Rudi Hartono)

SOLOPOS.COM - Beberapa unit bus Sedya Mulya milik PT Sedya Mulya Dwipa berada di garasi, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Rabu (12/1/2022). (Solopos.com/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI—Proteksi yang diharapkan pengusaha transportasi bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Kabupaten Wonogiri untuk menjaga bisnis tetap eksis belum terwujud. Hal itu membuat usaha bus AKAP lokal semakin tergerus.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Wonogiri, Edi Purwanto, kepada Solopos.com, Jumat (28/1/2022), menyampaikan ada dua proteksi yang diharapkan pengusaha bus AKAP lokal, yakni pemberian izin trayek sesuai faktor muat penumpang atau loadfactor dan pembatasan akses bus AKAP dari luar daerah, yakni hanya sampai terminal tipe A.

PromosiJalan dr Radjiman, Poros Merapi, Saksi Boyongan Keraton Kartasura

Keduanya hingga saat ini belum terwujud. Sebab, pemberian izin trayek merupakan kewenangan pemerintah pusat. Masalah muncul karena pemerintah dalam memberi izin trayek berdasar loadfactor tanpa berkomunikasi dengan pemerintah daerah (pemda).

Baca Juga: Kisah PO Bus Wonogiri, dari 100 Unit Kini Tergerus Bus Luar Daerah

Edi mencontohkan berdasar penghitungan loadfactor di daerah mestinya bus AKAP yang masuk ke Kabupaten Wonogiri 100 unit bus. Idealnya pemerintah hanya memberi izin trayek untuk 100 unit bus.

Namun yang terjadi bus yang memiliki trayek masuk Kabupaten Wonogiri jauh lebih banyak dari itu. Alhasil, bus AKAP dari luar daerah yang masuk Kabupaten Wonogiri sangat banyak. Bus AKAP lokal semakin tersisih.

Apabila pemerintah berkomunikasi dengan pemda, pemda melalui dinas perhubungan (Dishub) dapat memberi rekomendasi loadfactor. Selanjutnya pemerintah dapat memberi izin trayek sesuai loadfactor tersebut.

Baca Juga: Imbas Larangan Mudik, PO Bus Wonogiri Terpukul

“Dulu yang menentukan loadfactor adalah daerah. Sekarang loadfactor ditentukan terminal [tipe A]. Sementara, terminal kewenangan pusat. Daerah seolah enggak diajak komunikasi, enggak dimintai rekomendasi,” ulas Edi saat dihubungi Solopos.com.

Sejatinya, lanjut dia, pemda dapat memberi proteksi dengan membatasi akses bus AKAP dari luar daerah. Dalam konteks Kabupaten Wonogiri, bus AKAP dari luar daerah mestinya hanya sampai di Terminal Tipe A Giri Adipura atau Terminal Krisak.

Akses hingga ke kecamatan-kecamatan diserahkan kepada bus AKAP lokal. Namun, hingga kini belum ada kebijakan itu, sehingga bus AKAP dari luar daerah mencari penumpang hingga ke kecamatan-kecamatan.

Baca Juga: Tak Hanya Cantik, Kartini-Kartini Sopir Bus Wonogiri-Jakarta Ini Juga Pantang Menyerah

Terpisah, pengelola usaha di PT Tunggal Daya Dwipa Wonogiri, Endang Pawitri, menyampaikan bisnis transportasi umum AKAP di Kabupaten Wonogiri mulai goyah sejak bus-bus dari luar daerah masuk Kabupaten Wonogiri. Bus-bus itu bisa dengan bebas mencari penumpang hingga ke kecamatan yang selama ini menjadi lahan bagi bus lokal.

Pemilik modal dari luar daerah mengekspansi menggunakan bus baru yang dilengkapi fasilitas-fasilitas. Dari waktu ke waktu bus dari luar daerah yang masuk Kabupaten Wonogiri semakin banyak. Bus-bus lokal, seperti Tunggal Daya milik PT Tunggal Daya Dwipa kian tersisih.

“Orang bilang kami kalah bersaing karena tidak bisa memenuhi permintaan pasar, enggak bisa pakai bus yang bagus seperti bus-bus dari luar daerah itu,” kata perempuan yang biasa disapa Witri itu.

Baca Juga: Perusahaan Otobus Wonogiri: Kebijakan Menhub Harus Jelas!

“Tapi saya kira persoalannya bukan itu saja. Ini lebih karena ketiadaan proteksi bagi pelaku usaha lokal. Kalau begini terus sama halnya kami dibiarkan berperang tanpa menggunakan tameng. Lama-lama bisa benar-benar berhenti usaha lokal ini.”

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

IPAL Terpadu Limbah Ciu di Sukoharjo Diharapkan Segera Dibangun

Dampak yang dirasakan dari pembuangan limbah ciu yakni bau yang menyengat. 

Pedagang di Pasar Mebel Gilingan Solo Kesulitan Cari Lokasi Penyimpanan

Para pedagang Pasar Mebel Gilingan, Solo, mengaku bingung dan kesulitan mencari lokasi penyimpanan barang-barang dagangan mereka setelah kios dibongkar.

Ssttt... Rektor UNS Solo Beri Bocoran Kapan PTM Penuh Dimulai

Rektor UNS Solo, Jamal Wiwoho, memberikan bocoran kapan perkuliatan tatap muka atau PTM secara penuh akan dimulai setelah dua kuliah daring dan hybrid.

Teka-Teki Bantuan Hukum Rp795 Juta yang Jerat BUMDes Berjo Ngargoyoso

Dana bantuan hukum Rp795 juta dalam proyek pemugawan Telaga Madirda diduga jadi sumber penyimpangan di BUMDes Berjo yang merugikan negara. Kasus ini sedang ditangani Kejari Karanganyar.

Di Balik Mistis Alas Donoloyo Wonogiri dan Pohon Jati Ratusan Tahun

Alas Donoloyo Wonogiri yang telah berstatus Cagar Alam memiliki cerita mistis, salah satunya pantangan menebang pohon jati ratusan tahun di kawasan itu.

Revitalisasi Rawa Jombor Jalan Terus, Ini Harapan Penjaring Ikan

Revitalisasi Rawa Jombor, Kecamatan Bayat, Klaten, masih berjalan hingga sekarang, Selasa (17/5/2022).

Peserta Membeludak, Kejurkab Bulu Tangkis Sragen Diperpanjang

PBSI Sragen menggelar Kejurkab Bulu Tangkis yang diikuti 405 peserta dari berbagai daerah di Soloraya. Kejurkab ini memperebutkan piala Bupati Sragen.

Siswa SMP di Sukoharjo Bikin Eco Enzyme untuk Netralkan Limbah Ciu

Aksi penuangan eco enzyme untuk menetralisasikan lingkungan, mengingat aliran sungai di persawahan itu tercampur limbah ciu dari pabrik etanol setempat.

Warga Klaten Pemilik 9 Bidang di 5 Desa Terima UGR Tol Solo-Jogja

Proses pembayaran uang ganti rugi (UGR) lahan terdampak proyek tol Solo-Jogja di Klaten terus bergulir.

Kendaraan Listrik Wisata Solo Dan Sepur Kelinci Boleh Jalan, Tapi...

Kendaraan wisata berbasis listrik dari Pemkot Solo maupun sepur keinci sebenarnya boleh boleh beroperasi namun ada syarat yang harus dipenuhi.

Ternyata Banyak Juga, Ini Jumlah Kereta Kelinci di Klaten

Usaha mengoperasikan kereta kelinci di Klaten terus menjamur. Hingga sekarang, jumlah kereta kelinci di Klaten sudah lebih dari 200 unit.

Waspadai PMK, Disnakkan Sragen Gandeng Polisi Awasi Hewan Ternak

Disnakkan menggandeng Polres Sragen dalam melakukan pemeriksaan kesehatan hewan di masyarakat untuk mendeteksi ada tidaknya indikasi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).

Tak Terawat, Area Bermain Anak di Utara SMAN 8 Solo Mirip Taman Mati

Taman dan area bermain anak-anak di kawasan Mojosongo, Jebres, tepatnya di utara SMAN 8 Solo kini kondisinya tak terawat hingga mirip taman mati.

Kereta Kelinci di Klaten Jadi Transportasi Favorit Warga untuk Tilik

Keberadaan kereta kelinci alias sepur kelinci dinilai sangat membantu masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.

Murah Pol! Segini Tarif Jarak Dekat dan Jauh Kereta Kelinci di Klaten

Keberadaan kereta kelinci alias sepur kelinci dinilai sangat membantu masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Di sisi lain, tarif untuk naik kereta kelinci di Klaten ternyata terbilang murah.

Jembatan Jurug: Saksi Modernisasi Masyarakat Kuli di Kota Bandar, Solo

Jembatan Jurug yang bakal direvitalisasi tahun ini menjadi salah satu saksi bisu modernisasi Kota Solo yang semula adalah kota bandar yang dihuni masyarakat kuli, menjadi kota kerajaan.