Pakar ekonomi dari Unika Soegijapranata, Prof. Andreas Leko (paling kanan), dan Kepala BPS Jateng, Sentot B. Widoyono (tengah), saat menggelar diskusi terkait perekonomian Jateng di Verve Cafe, Room Inc. Hotel, Kota Semarang, Kamis (21/11/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — Pakar ekonomi dari Universitas Katolik (Unik) Soegijapranata Semarang, Prof. Dr. Andreas Leko, memprediksi perekonomian di Jawa Tengah (Jateng) akan mengalami anomali pada 2019 ini. Hal itu dikarenakan saat daerah lain perekonomiannya mengalami penurunan, Jateng justru mengalami pertumbuhan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyebutkan perekonomian Jateng sampai dengan triwulan III 2019 (c-to-c) mencapai 5,46%. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2019 (c-to-c) yang hanya berkisar 5,04%.

Sementara itu, jika dilihat secara year on year (yoy), pencapaian ekonomi Jateng triwulan III 2019 mencapai 5,66% atau naik dibanding pencapaian ekonomi Jateng pada periode yang sama tahun 2018, yakni 5,21%.

“Kalau estimasi saya pertumbuhan ekonomi Jateng hingga akhir tahun nanti mencapai 5,45%. Tapi ini bagus, karena mengalami pertumbuhan dibanding daerah lain yang cenderung turun, kecuali DKI Jakarta,” ujar Leko seusai menghadiri acara talkshow bertajuk “Membangun Literasi Data Statistik di Era Digital” yang digelar BPS Jateng di Kota Semarang, Kamis (21/11/2019).

Leko menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat perekonomian Jateng tumbuh pesat dibanding daerah lain, salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi di sektor tersier atau jasa, seperti penyediaan akomodasi, makanan minuman, informasi dan komunikasi, serta jasa perusahaan.

Selain itu, kondisi dan situasi di Jateng yang aman juga menumbuhkan minat investor untuk menanamkan modalnya.

“Jateng itu kan dianggap provinsi yang aman untuk aktivitas ekonomi,” ujar Guru Besar Akuntansi Unika Soegijapranata itu.

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi Jateng ini belum mampu memenuhi target yang dicanangkan pemerintah mencapai 7%.

Leko menilai ada beberapa hal yang harus dilakukan agar perekonomian Jateng mencapai angka yang diharapkan. Salah satunya, pemerataan pembangunan infrastruktur di daerah-daerah yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi tinggi, seperti Cilacap, Brebes, Banyumas, dan Banjarnegara,

Sementara itu, Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono, menilai ada beberapa sektor yang perlu didorong pemerintah untuk mengenjot pertumbuhan ekonomi.

“Kami bicara dari sisi data. Dari data itu bisa dilihat ada potensi yang bisa tumbuh, misal industry, sektor yang terlibat dengan pariwisata, seperti hotel, tempat rekreasi, dan transportasi. Sektor-sektor itu yang perlu didorong agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten