Suasana pameran produk unggulan UMKM Cinta Indonesia Expo Ke-7. (Antara-Wisnu Adhi)

Solopos.com, SOLO — Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan tahunan akhir Desember 2018 lalu, menyatakan prospek ekonomi Indonesia termasuk Jawa Tengah akan lebih baik pada 2019. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat pada 2019, hingga mencapai kisaran 5%-5,4%.

Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Bandoe Widiarto, meyakini inflasi nasional akan tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5±1% di tahun 2019, seiring dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan, volatile foods dan administered prices, ekspektasi inflasi, serta stabilnya nilai tukar rupiah.

“Di sisi lain, pertumbuhan kredit pada 2019 diperkirakan mencapai 10%-12% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan dalam kisaran 8%-10%. Sementara defisit transaksi berjalan 2019 akan turun menjadi sekitar 2,5% dari PDB dengan langkah-langkah pengendalian impor serta peningkatan ekspor dan pariwisata,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Selain itu, perekonomian Jawa Tengah diproyeksikan akan tumbuh lebih tinggi di rentang 5,3%-5,7% pada 2019 dengan inflasi yang terjaga pada kisaran 3,5±1%. Percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah salah satunya dipengaruhi oleh konsumsi serta investasi yang tetap kuat pada tahun mendatang.

“Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Soloraya pada 2019 masih cukup solid ditopang oleh keempat sektor utamanya, yakni industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, dan konstruksi. Kami juga optimis inflasi Kota Solo pada 2019 diperkirakan mampu mendukung pencapaian target inflasi nasional 3,5±1%, karena didukung solidnya pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kota Solo,” imbuhnya.

Di sisi lain, 2019 merupakan tahun politik dengan digelarnya dua hajatan besar sekaligus, yakni Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) pada 17 April mendatang. Meskipun begitu, tahun politik ini justru menjadi peluang bagi pemerintah untuk menggenjot sektor pajak.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah (Jateng) II, Rida Handanu, menyebut partai politik beramai-ramai kampanye dan membutuhkan alat peraga maupun pendukung. Pembelian alat maupun sarana pendukung secara masif ini bakal menaikkan jumlah pajak yang mesti dibayarkan.

“Boleh dibilang kami bisa ambil untung dari sini. Parpol kampanye dan butuh alat. Secara tidak langsung menaikkan jumlah pembayaran serta penerimaan pajak tertentu,” ungkapnya.

Sementara itu, pengusaha advertising, event organizer, dan multimedia asal Solo, Ginda Ferachtriawan, menilai peluang bisnis tahun ini makin terbuka lebar dengan berfungsinya jalan tol trans Jawa. Selain itu, 2019 yang juga tahun politik semestinya bisa dimanfaatkan secara maksimal.

“Banyak usaha yang baru mulai, seperti rumah makan dan properti sehingga ini menjadi peluang bagi advertising karena mereka pasti butuh promosi,” paparnya.

Menurutnya, dalam berbisnis harus optimistis dan tak takut bersaing. Ia mencontohkan di bidang periklanan ini ada seninya sehingga harga tidak jadi patokan, tetapi yang terpenting konsep. Maka dari itu, pelaku bisnis mesti pandai-pandai menawarkan konsep serta memanfaatkan jaringan.

Sedangkan mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo, Baningsih Tedjokartono, ini siap memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Solo untuk menarik mereka dalam satu market place. Pemilik Kursus Pengembangan Pribadi Baningsih Tedjokartono ini berharap dengan adanya wadah ini, UMKM Solo makin dikenal.

“Saya mengajak UMKM untuk lebih dikenal hingga internasional. Saya mau bikin Solomart, nanti belanja online dan hanya produk Solo,” jelasnya. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten