Ilustrasi pekerja anak. (Solopos-dok)

Solopos.com, SOLO – Solo merupakan salah satu Kota Layak Anak di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan Presiden Joko Widodo pada 2017 yang mampu dipertahankan hingga 2019. Namun, predikat tersebut belum paripurna.

Sebab, masih banyak permasalahan sosial tentang anak yang ada di Kota Solo, Jawa Tengah. Sampai saat ini, pemerintah Kota Solo terus berupaya mewujudkan Kota Layak Anak yang paripurna. Salah satunya dengan menghilangkan pekerja anak.

Buktinya, sampai saat ini masih banyak anak yang bekerja mengais rezeki di Kota Solo. Berikut sederet kisah realita anak yang bekerja di Kota Layak Anak.

SOLO UNDERCOVER : Tempat Hiburan Malam Diduga Libatkan Anak-Anak

Rumah petak di sudut perkampungan Kandangsapi, Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Sabtu (26/10/2019) siang terlihat lengang. Tak ada aktivitas berarti dari luar. Sayup-sayup cuma terdengar suara siaran televisi.

Ketiga penghuninya sedang menekuni televisi di dalam rumah sembari tiduran. Anisa Safitri, 16, menemani kedua adiknya yang masih SD dan TK beristirahat di rumah. Sementara bapaknya bekerja di proyek bangunan, ibunya mencari nafkah di Pasar Klewer.

Solo Undercover: Kisah Esha Jadi Simpanan Om-Om Demi Gaya Hidup Part 1

Sehari-hari siswi kelas IX di salah satu SMP Negeri di Kota Bengawan ini menjalani rutinitas sebagai pelajar. Selain itu juga membantu orang tuanya berjualan koran di perempatan Panggung, sekira 500 meter dari tempat tinggalnya.

“Ini mood-nya libur, ingin istirahat saja. Enggak jualan,” tutur Anisa.

Sejak duduk di bangku kelas II SD, Anisa sukarela membantu bapaknya menjadi loper koran. Semula dia prihatin melihat dagangan sang ayah tak kunjung tandas. Dia pun berinisiatif membantu menjajakan sisanya di salah satu ruas jalan sibuk Kota Bengawan tersebut.

Solo Undercover: Kisah Esha Jadi Simpanan Om-Om Part 2, Kenalan Online

Selama bertahun-tahun, rutinitas harian Anisa diawali sebelum subuh. Dia biasanya bangun pukul 03.00 WIB. Sembari menanti ibadah pagi dan ayahnya mengambil dagangan koran, dia menyempatkan diri belajar.

“Biasanya pagi 05.30 WIB jualan dulu. Terus sekolah diantar ayah,” ujarnya.

Sepulang sekolah yang menerapkan sistem full day, Anisa beristirahat sejenak. Jika dagangan koran sisa ayahnya belum habis, dia kembali menjajakannya mulai pukul 16.00 WIB hingga petang hari. Uang yang terkumpul dari berjualan koran diserahkan kepada orang tuanya untuk ditabung.

“Ya, sekarang memang koran enggak seramai dulu. Lumayanlah masih bisa laku 20 sampai 30 koran. Bisa buat bantu-bantu beli LKS,” bebernya.

Solo Undercover: Kisah Esha Jadi Simpanan Om-Om Part 3, Berasa Jadi Ratu

Kendati membantu orang tuanya mendapatkan tambahan penghasilan, Anisa mengaku masih sempat bermain walaupun tak selonggar anak sebayanya. Biasanya saat akhir pekan, dia menghabiskan waktu dengan menongkrong atau sekadar wedangan untuk melepas penat.

Perempuan berjilbab ini menyebut cita-citanya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Jika orang tuanya mampu, dia juga ingin mengenyam bangku kuliah.

“Ya, memang kadang ada teman sekolah mengolok aku jualan. Wajar namanya juga anak SMP. Tapi kalau pas malas sekolah gitu, aku ingat pesan mama enggak boleh berhenti sekolah. Ini lagi semangat karena matematikaku nilainya delapan lebih,” kata dia.

Ibunda Anisa, Prasetyowati, sadar betul pentingnya pendidikan bagi anak. Dia berharap anaknya bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi ketimbang dirinya.

“Pendidikan itu penting. Biar kita enggak dibodohi sama orang lain. Kalau bisa anak-anak saya sekolahnya lebih baik dari orang tuanya,” imbuh ibunda Anisa, Prasetyowati.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten