Soal Warung Karaoke di Kemukus Sragen, Warga Masih Pro dan Kontra
Permukiman di kompleks Gunung Kemukus, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Selasa (10/12/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN - Warga di kompleks Objek Wisata Religi Gunung Kemukus belum satu suara terkait keberadaan warung yang menjajakan jasa karaoke. Sejumlah warga meminta warung karaoke itu dipertahankan, namun sebagian warga ingin The New Kemukus yang dibangun pada 2020-2021 bersih dari warung karaoke.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan warga yang membangun warung karaoke di sekitar Gunung Kemukus itu umumnya adalah pendatang. Dia mengklaim warga asli yang lahir dan dibesarkan di sekitar Gunung Kemukus mendukung langkah Pemkab Sragen yang ingin membersihkan warung karaoke di kompleks objek wisata itu.

Jadwal Pemadaman Listrik di Karanganyar, Kamis (20/2/2020)

“Sekarang mereka itu melanggar aturan dengan mendirikan warung karaoke. Sudah jelas dilarang, hla kok nekat membuka karaoke itu. Giliran aturan itu mau ditegakkan, hla kok malah bengak-bengok [teriak] minta dipertahankan,” ujarnya saat ditemui Solopos.com, Senin (17/2/2020).

Warga lainnya mengungkapkan warung karaoke menjadikan citra Gunung Kemukus menjadi tidak baik. Pasalnya, warung karaoke itu tidak jarang dijadikan tempat mangkal para pekerja seks komersial (PSK).

Lebih parah lagi, kata dia, kebanyakan para pelanggan karaoke itu ternyata emoh membayar karcis masuk ke kompleks objek wisata. “Namanya tamu kalau berkunjung ya harus bayar tiket. Jangan mentang-mentang tidak datang untuk ziarah, lalu tak mau bayar tiket,” ujarnya.

Bentrok Suporter Persebaya-Arema di Blitar: 3 Orang Luka, 13 Motor Terbakar

Sebagian warga mendukung langkah Pemkab Sragen yang ingin memperbaiki citra objek wisata dengan menggulirkan proyek The New Kemukus senilai Rp88 miliar. Warga optimistis penataan objek wisata dengan dana sebesar itu bisa membangkitkan perekonomian warga sekitar.

“Warga bisa membuka usaha warung makan maupun cinderamata. Karena warung karaoke dilarang, silakan cari tempat lain untuk membukanya,” bebernya.

Sebelumnya, sebagian warga lain mengkhawatirkan penutupan usaha karaoke akan membuat perekonomian mereka terpuruk. Warga merasa trauma dengan dampak dari penutupan usaha karaoke oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng pada 2013 dan oleh Pemkab Sragen pada 2016. Alasannya, usaha karaoke itu dianggap sebagai pemicu munculnya citra negatif Gunung Kemukus sebagai tempat esek-esek.

Maling Bobol Alfamart di Ampel Boyolali Bawa Kabur Rokok Ratusan Kardus

Warga sekitar merasa tidak memiliki hubungan dengan para wanita penjaja cinta terlarang itu. Terlebih, para wanita itu bukanlah warga setempat. Bagi warga, yang penting tempat usaha mereka ramai demi menjaga tungku dapur tetap mengepul.

“Penutupan usaha karaoke pada 2013 telah membuat objek wisata mati suri. Saat itu, objek wisata ini benar-benar sepi pengunjung. Dampaknya, warga tidak lagi punya penghasilan karena warung-warung menjadi sepi. Untuk mencukupi kebutuhan makan saja susah. Bahkan dulu sampai ada posko dapur umum karena banyak warga kami yang tidak bisa makan karena tak punya penghasilan,” kenang Yos, 45, warga setempat.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menegaskan semua usaha warung karaoke di kawasan Gunung Kemukus belum mengantongi izin. Orang nomor satu di Sragen itu juga menegaskan Gunung Kemukus bukan tempat yang cocok untuk bisnis karaoke. Bupati menilai Pemkab Sragen tidak perlu menutup paksa usaha-usaha karaoke di kawasan Gunung Kemukus itu.

Petani Sukoharjo Tenggelam Di Saluran Colo Barat Saat Berusaha Selamatkan Kambing

“Semua usaha karaoke di sana tidak ada yang berizin. Di sana memang tidak boleh ada usaha karaoke. Tidak usah ditutup [paksa], karena tidak berizin ya secara otomatis usaha itu tidak boleh berdiri di sana,” jelas Bupati kepada wartawan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom