Seusai Banjir Lahar Hujan, Pejuang Sekop Berbondong-Bondong Ke Kali Woro Klaten
Aktivitas penambangan pasir dan batu di alur Kali Woro sekitar Cekdam 1 Dukuh Karangbutan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Selasa (26/1/2021). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Banjir lahar hujan yang mengalir ke Kali Woro wilayah Kemalang, Klaten, pada Senin (25/1/2021) sore, menjadi berkah bagi para penambang manual.

Mereka berbondong-bondong mendatangi alur kali tersebut pada Selasa (26/1/2021). Status Gunung Merapi yang masih level siaga tak menghalangi mereka untuk tetap menambang.

Sedari subuh bahkan dini hari para penambang berdatangan. Menggunakan peralatan sederhana seperti sekop, belencong, dan ember, mereka mengumpulkan sisa material vulkanik Gunung Merapi berupa pasir dan batu yang hanyut terbawa banjir dan menumpuk pada alur sungai.

Baca Juga: Sehari Setelah Vaksinasi Covid-19, Belum Ada Laporan Efek Samping Berat Di Sukoharjo

Material banjir lahar hujan yang terkumpul mereka tawarkan kepada para sopir truk yang juga berdatangan ke Kali Woro. Seperti terlihat pada kawasan Cekdam 1, Dukuh Karangbutan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang.

Ratusan penambang menyebar ke berbagai lokasi sepanjang dasar sungai yang dibatasi dua tebing tinggi antara Desa Sidorejo dan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. Truk-truk parkir tak beraturan menyesuaikan lokasi yang sedang ditambang warga.

Kaum Wanita Tak Ketinggalan

Membentuk kelompok terdiri dari empat hingga tujuh orang, para penambang berbagi tugas mengumpulkan pasir dan batu hingga memasukkan ke bak truk. Sesekali bakul sayur keliling mengklakson sepeda motor menawarkan aneka dagangan.

Baca Juga: Pengendara Motor Meninggal Tertimpa Pohon Tumbang Di Ring Road Selatan Sragen

Tak jarang pedagang cilok berhenti menanti penambang yang beristirahat dan jajan. Para penambang sisa banjir lahar hujan Kali Woro itu tak hanya kaum pria. Banyak perempuan yang ikut mengayunkan sekop dan belencong mengumpulkan pasir dan batu.

Usia para penambang beragam mulai dari lansia hingga pelajar. Tujuan mereka sama, mengais rezeki dari setiap sopir truk yang berdatangan mengisi muatan. Para penambang manual itu sepakat menyebut diri mereka pejuang sekop.

Salah satu penambang, Sarju, 50, mengatakan sudah datang ke Cekdam 1 Dukuh Karangbutan sejak pukul 04.00 WIB. Sarju biasanya menambang di alur Kali Woro, Dukuh Segadung, Desa Sidorejo, yang posisinya lebih rendah daripada Cekdam 1 Karangbutan.

Baca Juga: Bupati Sukoharjo Pastikan Tak Ada Kompensasi Untuk Pelaku Usaha Terdampak PPKM

Namun, Sarju memilih menambang di Cekdam 1 pada Selasa lantaran sisa material vulkanik terbawa banjir lahar hujan banyak yang mengendap di kawasan Cekdam 1 Kali Woro. Sarju mengaku biasanya hanya bisa mengisi satu bak truk dengan ongkos Rp600.000/truk dalam sehari.

Material Vulkanik

Namun, pada Selasa ia minimal bisa mengisi dua bak truk dengan ongkos Rp500.000/truk lantaran melimpahnya material. Hasil itu masih ia bagi bersama satu kelompok penambangnya.

Banjir lahar hujan justru dinanti-nanti lantaran membawa material vulkanik dan menambah potensi material yang akan ditambang. “Banjir niki berkah. Diteri rejeki saking Merapi kok [banjir lahar hujan ya menjadi berkah. Rezeki diantarkan dari Merapi],” kata Sarju.

Baca Juga: Waduh, 2 Anggota DPRD Solo Dari Fraksi PDIP Positif Covid-19

Mengenai aktivitas Merapi yang masih level siaga, Sarju mengaku tak khawatir. Alasannya, potensi erupsi cenderung mengarah ke barat atau tidak ke wilayah Klaten termasuk Kali Woro. Selain itu, lokasi yang dia tambang masih berada pada daerah aman atau berjarak sekitar 9 km dari puncak Merapi.

Namun, Sarju selama ini tetap meningkatkan kewaspadaannya terhadap aktivitas Merapi. “Biasane mbeta HT dadose ngertos perkembangan aktivitas Merapi. Kaliyan nonton gununge [Biasanya membawa HT agar mengerti perkembangan aktivita Merapi. Selain itu melihat kondisi gunung],” kata Sarju.

Mengaveling Dasar Sungai

Penambang lainnya, Ny Cempluk, 60, mengatakan sejak Senin sore para penambang sudah antusias menyambut banjir lahar hujan mengalir ke Kali Woro. Sisa material vulkanik mengisi kembali material pasir dan batu yang sudah mulai habis ditambang selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Merasa Sehat-Sehat Saja, 2 Anggota DPRD Solo Ini Heran Positif Covid-19

Pada Senin petang hingga malam, sebagian penambang yang merupakan warga sekitar alur kali mulai mengaveling dasar sungai sebagai lokasi yang akan mereka tambang keesokan harinya. Lokasi itu mereka beri tanda berupa ranting pohon, gundukan pasir, atau pun kayu. Tak ada aturan penentuan lokasi. Siapa cepat ia dapat.

Sebelumnya, banjir lahar hujan menerjang Kali Woro hingga ke alur sungai di wilayah antara Desa Sidorejo dan Balerante, Kecamatan Kemalang, Senin sore. Banjir lahar hujan tersebut kali pertama terjadi sejak Merapi berada pada status siaga. Banjir lahar hujan sebelumnya terjadi sekitar setahun lalu dengan aliran tak sebesar pada Senin sore.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom