Kategori: Bisnis

Pertumbuhan Keuangan Syariah Bisa Lebih Baik Dibanding Konvensional, Benarkah?


Solopos.com/Farida Trisnaningtyas

Solopos.com, SOLO — Webinar Sharia Economic Outlook Ekonomi Syariah Indonesia 2021, Selasa (19/1/2021), menyimpulkan ekonomi syariah berpotensi menjadi motor baru untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Asumsi itu didasarkan pada kenyataan adanya daya tahan industri keuangan syariah sepanjang pandemi pada 2020. Industri keuangan syariah dapat tumbuh lebih baik hingga melampaui capaian industri keuangan konvensional.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan pertumbuhan positif di sektor industri perbankan syariah terjadi sepanjang 2020. Hingga akhir tahun lalu, pembiayaan bank umum syariah di Indonesia tumbuh 9,5% secara tahunan (year on year).

Baca Juga: Di Denpasar, Pemuda Lecehkan Kakek-Kakek Sampai Viral

Menurutnya, pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan pembiayaan industri perbankan nasional di level -2,41%. Pertumbuhan ini ditopang ketahanan yang cukup baik dengan rasio CAR sebesar 21,59%, NPF Gross 3,13 %, dan FDR 76,35%.

Selain itu, sepanjang 2020 pertumbuhan aset industri keuangan syariah mencapai 21,48% menjadi Rp1.770,32 triliun. Jumlah ini mencakup aset yang dimiliki industri perbankan syariah sebesar Rp593,35 triliun, pasar modal syariah Rp1.063,81 triliun, dan IKNB syariah Rp113,16 triliun.

Tempati Peringkat Kedua

“Indikator-indikator ini memberikan kepercayaan kita akan lebih bagus pada 2021. Kami juga menyambut baik pada Islamic Finance Development Report 2020 Indonesia menempati ranking kedua sebagai the most developed country in Islamic finance. Indonesia juga menempati ranking keempat di Global Islamic Indicator 2020/2021 dan peringkat keenam di kategori keuangan syariah. Ini indikator kita bisa ke depan lebih baik lagi pada pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah. Kita bisa menjadi kelas dunia mengalahkan negara-negara lain,” kata dia.

Baca Juga: Iklim Tropis Indonesia Jadi Inspirasi GVFI Rilis Alter Vision

Wimboh membeberkan ada empat hal yang harus dilakukan pelaku industri keuangan serta perbankan syariah agar mampu membawa Indonesia menjadi negara terdepan dalam penerapan ekonomi dan keuangan syariah. Pertama, mendongkrak market share keuangan syariah Indonesia bisa tumbuh hingga target sebesar 20%.

Kedua, inklusi dan literasi keuangan syariah harus ditingkatkan. Ketiga, pelaku industri keuangan syariah harus menghadirkan lebih banyak lagi produk berbasis syariah. Keempat, penggunaan teknologi serta sumber daya manusia (SDM) yang tangguh untuk menghadirkan akses layanan keuangan syariah yang masif, luas, murah, dan akurat.

Pihaknya pun menyambut baik rencana Kementerian BUMN menggabungkan tiga bank syariah yang dimiliki kementerian. Menurutnya, ini akan menjadi benchmark baik dari segi produk, inovasi, akses masyarakat, SDM, dan menjadi role model. Dalam hal ini di Indonesia (domestik), tapi juga level regional dan global.

Baca Juga: Pria Jadi Korban Begal Payudara, Malah Viral di Medsos…

Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN, Nawal Nely, menambahkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk sebagai entitas hasil merger tiga bank syariah milik negara bisa membantu mempercepat perwujudan multiplayer effect bagi ekonomi nasional.

Menurutnya, melalui merger tersebut diharapkan skala cakupan dan layanan perbankan syariah bisa semakin menjangkau masyarakat. Terlebih nantinya Bank Syariah Indonesia akan beroperasi dengan mengandalkan keberadaan 1.200 cabang dan 20.000 lebih pekerja yang tersebar di seluruh Tanah Air.

“Dalam peta perbankan di Indonesia BSI diharapkan akan menduduki ranking ke-7 atau ke-8 berdasarkan skala asetnya. Secara global, Bank Syariah Indonesia akan menjadi satu dari top 10 global bank yang islamic. Sedangkan efisiensi biaya terhadap pendapatan secara kolektif, akan membaik jika skala aset perbankan syariah ini disatukan. Harapannya adanya konsolidasi, rasio biaya terhadap pendapatan ini bisa menurun ke 45% hingga 50%,” papar dia.

Baca Juga: Film Animasi Siswa SMK RUS Berprestasi Internasional

Ketua Project Management Office (PMO) Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN, Hery Gunardi, membeberkan, integrasi tiga bank syariah milik BUMN merupakan wujud inisiatif pemerintah untuk membangkitkan industri syariah, yang selama ini dianggap sebagai raksasa tidur. Dengan nilai aset yang mencapai sekitar Rp240 triliun dan melayani lebih dari 14,9 juta nasabah, Bank Syariah Indonesia akan berupaya menjawab berbagai tantangan pengembangan ekonomi dan industri keuangan syariah.

“Kita harus bisa memperkuat daya saing perbankan syariah di industri. Dari sisi produk, kita mesti punya produk yang lebih variatif dengan kombinasi kapabilitas tiga bank yang membawa kelebihannya masing-masing. Kami juga akan mendorong capability technology system karena kami sadar bank ini ke depan harus punya kemampuan digital yang lebih baik daripada sekarang,” ujar Hery.

Hery menambahkan Bank Syariah Indonesia diprediksi mampu mewujudkan visi menjadi pemain global dan pemain utama di industri perbankan syariah dunia dalam kurun 3-4 tahun mendatang. Visi ini bisa terwujud dengan pelayanan Bank Syariah Indonesia yang akan fokus pada segmen UMKM, ritel, konsumer, dengan kemampuan mengelola nasabah wholesale yang baik.

Baca Juga: Kristen Gray Dideportasi Via Bandara Soekarno-Hatta

Bank Syariah Indonesia digadang memiliki total aset hingga Rp239 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Selain memiliki fundamental yang kuat, Bank Syariah Indonesia juga memiliki beragam produk untuk ditawarkan kepada masyarakat, baik di segmen ritel, UMKM, serta korporasi. Bank Syariah Indonesia juga berkomitmen menyediakan pengalaman perbankan digital.

Tumbuhkan Asa

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana, berharap Bank Syariah Indonesia ke depannya dapat memfasilitasi seluruh kebutuhan pelaku industri di ekosistem ekonomi syariah. Selain itu, bank hasil merger ini diharap membantu peningkatan share asset perbankan syariah yang kini berada di angka 6,51% dibandingkan total aset perbankan nasional.

“Tantangan dalam jangka pendek adalah bagaimana perbankan kita bisa melakukan pemulihan sektor rill dan konsolidasi bisnis untuk mengatasi pandemi. Kami juga akan address supaya nanti perbankan mempunyai daya tahan untuk menyerap cadangan sebagai dampak dari restrukturisasi kredit yang masih berlangsung. Perbankan digital tidak boleh kita abaikan karena nasabah maunya perbankan kita melakukan transaksi dengan digital,” ungkap Heru.

Baca Juga: Gempa Sulawesi Barat Dinilai Tak Lazim, Mengapa?

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Ventje Rahardjo, menjelaskan empat fokus pengembangan ekonomi syariah telah ada dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024, yakni pengembangan industri halal, keuangan, dana sosial, dan perluasan kegiatan usaha syariah. “Potensi perbankan syariah ini memang jangka menengah-panjang. Pada level menengah harus mengambil zakat yang kuat untuk masyarakat keluar dari garis kemiskinan. Pemanfaatan wakaf juga diperkirakan memiliki potensi besar. Berbagai upaya muncul untuk pengembangan wakaf,” ujar Ventje.

Peneliti Senior Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, menambahkan perbankan syariah bisa menjadi pusat pertumbuhan dengan berbagai inisiatif yang sudah ada. Perbankan syariah juga diharap turut mempromosikan research & development di bidang keuangan melalui investasi ke lembaga riset.

“Selama ini OJK dan BI sudah sangat luar biasa untuk mendorong R&D, mungkin Bank Syariah Indonesia boleh lah memiliki lembaga penelitian independen sendiri atau memberi dukungan terhadap R&D. Tugas besar Bank Syariah Indonesia adalah bisa menarik likuiditas yang besar dari Timur Tengah dengan aksi korporasi seperti pembukaan cabang/representative office atau menjadi salah satu backbone untuk mendukung sukuk insurance sampai Dubai sehingga dana yang abandon di sana mampu mendorong perekonomian Indonesia,” jelas dia.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Share
Dipublikasikan oleh
Rahmat Wibisono