Kategori: Sragen

Pernah Zona Merah, DKK Sragen Ingatkan DBD Tak Kalah Bahaya Dibanding Covid-19


Solopos.com/Tri Rahayu

Solopos.com, SRAGEN — Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen mengingatkan kepada para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan, desa/kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya supaya tetap waspada terhadap serangan demam berdarah dengue atau DBD di masa pandemi Covid-19.

Kendati kasus DBD sepanjang Januari-September di Sragen sebanyak 42 kasus dan terhitung rendah, kewaspadaan tetap dilakukan mengingat tren peningkatan DBD terjadi pada Oktober mendatang.

Peringatan soal DBD tersebut disampaikan Kepala DKK Sragen dr. Hargiyanto saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela Rapat Koordinasi Penanganan DBD di Gedung Korpri Sragen, Rabu (30/9/2020).

Perajin Batik Jarum Klaten Ini Pilih Jual Mobil Ketimbang Berutang Agar Produksi Tetap Berjalan

Dalam forum tersebut, DKK mendatangkan pejabat di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD) sampai pada tim penggerak PKK, kepala desa, dan kepala UPTD puskesmas.

Rakor ini dilakukan sebagai upaya antisipasi supaya tidak terjadi lonjakan kasus DBD di Sragen.

“Pada 2018 lalu, Sragen pernah zona merah DBD. Namun, sekarang terhitung rendah dengan 42 kasus dan dua orang di antaranya meninggal dunia," ungkap dia.

Kepala DKK Sragen Masuk Daftar Penerima BPUM Rp2,4 Juta, Kok Bisa?

Dalam situsasi pandemi Covid-19 ini, pihaknya berharap  supaya masyarakat tidak fokus pada Covid-19 tetapi juga waspada terhadap DBD.

"Gejalanya ada yang sama, seperti demam. Kehati-hatian itu perlu mengingat sampai September sudah ada 42 kasus DBD," jelas Hargiyanto.

Sesuai Tugas Pokok dan Fungsinya

Hargiyanto sengaja mengundang sejumlah OPD dan perangkat di level UPTD itu supaya mereka bergerak di lingkungan masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Dia mencontohkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen bisa sosialisasi langsung ke siswa dan guru.

Unik, Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Klaten Ini Digelar di Jalan Umum

Kemudian, dia juga menyebut Badan Perencanaan dan Pembangunan serta Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Sragen yang memiliki fungsi anggaran.

Lebih lanjut, dia mengatakan RSUD diundang karena berperan mendiagnosa, puskesmas juga berperan sebagai penemuan surveilans DBD, sampai Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pun diundang supaya bisa sosialisasi lewat ceramah agama.

“Jadi memang lintas sektoral yang diundang. Kami mengingatkan lewat rakor seperti ini supaya mereka tidak lupa tentang bahaya DBD. Mereka diingatkan juga bahwa tren Oktober itu ada lonjakan kasus DBD. Hal itu supaya diwaspadai dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Rohmah Ermawati