Perajin Batik Jarum Klaten Ini Pilih Jual Mobil Ketimbang Berutang Agar Produksi Tetap Berjalan
Pekerja menjemur kain batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, Rabu (30/9/2020). (Solopos-Taufiq Sidik Parkoso)

Solopos.com, KLATEN -- Aktivitas produksi batik di kalangan perajin batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, macet sejak Maret lalu karena penjualan lesu akibat pandemi Covid-19.

Sarwidi, 45, menjadi salah satu perajin batik di Jarum yang terpukul akibat pandemi Covid-19. Penjualan batik yang diproduksinya terhenti, bahkan selama 3,5 bulan tak ada penjualan sama sekali.

Jadwal kunjungan tamu dari berbagai daerah dan negara pun dibatalkan. Setidaknya ada 11 kunjungan tamu ke rumah sekaligus tempat produksi dan show room yang dibatalkan.

Kepala DKK Sragen Masuk Daftar Penerima BPUM Rp2,4 Juta, Kok Bisa?

Para tamu yang batal berkunjung di antaranya berasal dari Pasuruan, Surabaya, Sumenep, Magelang, Blitar, dosen dari Semarang, Jogja, Jepang, dan Kanada.

Selama hampir tujuh bulan terakhir, Sarwidi pun tak melakukan perjalanan keluar kota seperti yang kerap dia lakukan sebelum ada pandemi.

Sebelumnya, Sarwidi kerap diundang ke berbagai daerah untuk menjadi pembicara dan bercerita pengalamannya sebagai pembatik pewarna alam.

Mengurangi Jumlah Pekerja

Meski lesu tanpa ada penjualan, Sarwidi memilih tetap berproduksi. Agar roda produksi tempat usahanya tetap berjalan, Sarwidi mengurangi jumlah pekerja.

Dari total 30an pembatik, Sarwidi mempertahankan 25 orang yang mayoritas ibu-ibu di sekitar rumahnya. Belakangan, ibu-ibu itu mencanting dari rumah mereka masing-masing untuk menghindari kerumunan.

Jaga Soloraya Kondusif, Ini Imbauan Danrem Warastratama kepada Perguruan Silat

Memiliki tanggung jawab untuk tetap menghidupi para pekerjanya menjadi alasan Sarwidi. Selain itu, dia tak tega ketika awal pandemi sebagian pekerja mendatanginya agar tetap bisa membatik untuk menghilangkan penat.

“Pokoke tetep mbatik ben pikirane ra neko-neko [yang penting tetap membatik agar pikirannya tidak macam-macam],” kata Sarwidi menirukan perkataan pekerjanya saat ditemui di rumahnya, Rabu (30/9/2020).

Soal biaya yang dia gunakan agar tetap berproduksi dan membayar honor para pekerjanya, Sarwidi mengandalkan sisa uang yang dia sisihkan dari hasil pendapatan sebelum pandemi Covid-19.

Membeli Kain Mori

Sebulan lalu, Sarwidi menjual satu unit mobil miliknya seharga Rp40 juta demi roda produksi tetap berjalan. Hasil penjualan itu dia gunakan untuk membeli kain mori untuk dicanting motif batik.

“Banyak dari pihak bank yang datang menawarkan pinjaman. Tetapi saya belum tertarik. Biar tidur tetap nyenyak saja,” jelas dia.

Bapak dua anak itu belum kepikiran untuk menghentikan sementara waktu produksi batik atau beralih ke usaha lain menyusul lesunya penjualan batik.

“Karena membatik sudah menjadi bidang saya,” kata Sarwidi. Selain produksi tetap berjalan, pandemi Covid-19 tak membuat kreativitas Sarwidi terhenti.

Tambah 2, Total 15 Warga Ponorogo Meninggal karena Covid-19

Dia tetap menciptakan motif batik selama tujuh bulan terakhir. Sekitar tujuh motif baru dia bikin dan sebagian mulai ditawarkan via online.

“Sebagian saya online-kan. Responsnya bagus, namun belum ada yang laku,” kata dia.

Sarwidi hanya berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Pasar penjualan batik juga kembali terbuka.

“Tidak harus bentuk bantuan itu berupa uang. Pasar kembali terbuka sudah membuat kami lebih semangat,” kata dia.

Salah satu pekerja di tempat produksi batik milik Sarwidi, Jiyanto, 46, bersyukur dia tetap bisa bekerja di tengah pandemi Covid-19.

Dalam sehari, dia mendapatkan honor Rp60.000 bertugas pada bagian pewarnaan kain. “Kalau kondisi normal itu ada tiga orang. Tetapi karena ada pandemi, yang masuk bergiliran satu-satu,” kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom