Masuk Sekolah Lagi, Siswa SD di Karanganyar Senang Sekaligus Takut
Sejumlah orang tua murid menunggu anaknya saat bersekolah pada hari pertama tahun ajaran baru di SD Negeri 1 Praja Taman Sari di Desa Wonuamonapa, Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (13/7/2020). Pihak sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran dengan tiga kali pertemuan tatap muka di sekolah dalam sepekan karena terbatasnya jaringan telekomunikasi untuk penerapan pembelajaran jarak jauh secara daring guna mencegah persebaran Covid-19. (Antara Foto–Jojon)

Solopos.com, KARANGANYAR--Sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Karanganyar sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas.

Pembelajaran tatap muka secara terbatas yang dimaksud menyerupai kegiatan home visit oleh guru ke rumah siswa. Hal yang membedakan adalah guru kelas menjadwalkan pembelajaran tatap muka di rumahnya. Tidak semua siswa dalam kelas tersebut datang dalam satu waktu. Setiap kali pertemuan dibatasi beberapa siswa.

Ada sekolah yang menjadwalkan siswa datang ke sekolah pada hari dan jam tertentu. Sekolah membagi jam masuk siswa menjadi dua sif, yakni pagi dan siang. Jam belajar tatap muka di sekolah pun terbatas hanya beberapa jam.

Wow! Pemerintah Gelar Lomba Video HUT ke-75 RI, Hadiah Rp1 Miliar

Salah satu sekolah di Kecamatan Kerjo, Karanganyar, SD Muhammadiyah Program Unggulan (MPU) Botok, sudah menerapkan pembelajaran tatap muka secara terbatas.

Solopos.com berkesempatan berbincang dengan salah satu siswa kelas VI yang enggan menyebutkan nama pada Rabu (5/8/2020). Dia pulang sekolah pukul 14.00 WIB. Dia mendapat jatah masuk pukul 11.00 WIB.

Hari itu dia mengaku belajar sejumlah mata pelajaran. Bocah itu terdengar antusias saat menceritakan pengalaman pertama masuk sekolah setelah beberapa bulan belajar di rumah selama pandemi Covid-19.

Duh, Pasien Meninggal Akibat Covid-19 di Salatiga Bertambah

"Saya masuk sekolah lagi. Saya bawa buku, bekal makan siang, alat ibadah. Sekolah yang meminta kami bawa bekal. Kalau sebelum [Covid-19] kami tidak diminta bawa bekal. Masuk sekolah jam 07.00 WIB sampai 14.00 WIB. Kalau sekarang jam 11.00 WIB sampai jam 14.00 WIB," ujar dia.

 

Dua Sif

Dia mengaku hari itu belajar bersama 11 orang temannya. Berbeda dengan sebelum pandemi Covid-19, satu kelas berisi 24 orang.

Sekolah membuat kebijakan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dua sif. Jumlah siswa dibagi sesuai sif. Dia mengaku takut sekaligus senang karena bisa masuk sekolah dan bertemu teman-teman.

Truk Kecelakaan di Jalan Tembus Tawangmangu Karanganyar, Bata Berceceran di Jalan

"Senang bisa ketemu kawan-kawan. Tapi ya takut karena virus corona. Disuruh pakai masker, sebelum masuk [area] sekolah dicek suhu tubuh, lalu kami diminta memakai hand sanitizer. Lalu diizinkan masuk kelas. Awal masuk dijelaskan soal corona, disuruh pakai masker terus, jaga jarak, dan rajin cuci tangan," tutur dia.

Dia mengaku lebih sudah belajar di rumah karena bisa dilakukan sembari istirahat. Tetapi, selama pembelajaran daring, dia mengaku kewalahan mengerjakan pekerjaan rumah.

Kepala SD MPU Botok, Muhammad Anwar, menuturkan kegiatan yang dilakukan di sekolah itu bukan pembelajaran tatap muka. Anwar menyebut siswa datang ke sekolah selama dua hari dalam satu pekan untuk mendapatkan penugasan dari guru. Dia menyampaikan kegiatan itu dilaksanakan atas persetujuan orang tua siswa.

518 Kecelakaan Terjadi di Jateng Selama Operasi Patuh Candi 2020

"Beberapa metode pembelajaran mempermudah orang tua dan siswa. Ini siswa mengambil soal dan lain-lain ke sekolah. Kami bagi sif supaya tidak terjadi kerumunan. Itu semua atas persetujuan orang tua secara tertulis. Kami panggil orang tua kira-kira kalau mengambil tugas di sekolah keberatan atau tidak. Gimana baiknya," kata Anwar saat berbincang dengan Solopos.com melalui telepon, Kamis.

 

Evaluasi

Dia menjelaskan komposisi pembelajaran secara daring lebih banyak ketimbang tatap muka. Kebijakan tatap muka itu diambil setelah melakukan evaluasi pembelajaran daring selama tiga bulan. Menurut dia, rata-rata orang tua mengeluh dan menilai pembelajaran daring kurang efektif. Rata-rata orang tua siswa di SD MPU Botok bekerja sebagai petani.

Selain itu, kondisi geografis dan sarana komunikasi juga menjadi kendala. Tidak semua siswa memiliki handphone yang dapat digunakan untuk pembelajaran daring dan terjangkau sinyal maupun jaringan Internet. Saat ini, mereka menggunakan aplikasi WhatsApp untuk memberikan tugas. Setiap kelas membuat grup.

Unik, Kampung di Bantul Ini Wajibkan Warga Tanam Pohon Anggur

Sekolah juga melaksanakan home visit untuk membantu siswa dan orang tua yang kesulitan saat belajar. Tetapi strategi itu tidak bisa dilaksanakan maksimal karena kondisi geografis dan rumah siswa berjauhan satu sama lain.

"Evaluasi pembelajaran tiga bulan, orang tua mengeluh tidak efektif. Kondisi di desa kan orang tua ke sawah tidak bisa membimbing anak saat jam sekolah. Kalau hanya penugasan daring terkendala aplikasi. Belum tentu handphone ada aplikasi itu dan orang tua paham. Kami sudah coba beberapa aplikasi. Kesulitan kami lokasi siswa berjauhan, misal dari Sragen dan lokasi lain," jelas dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom