ilustrasi (JIBI/Solopos/dok)

Solopos.com, BOYOLALI -- Kemarau panjang di Boyolali memberi dampak paling buruk di sektor peternakan dan pertanian. Dua mata pencaharian itu bersinggungan langsung dengan cuaca, musim, dan ketersediaan air.

Para peternak sapi di lereng timur Merapi bahkan harus menjual sebagian hewan mereka untuk menghidupi ternak yang lain. Istilah sapi memakan sapi pun akrab di telinga warga.

“Memang harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan air dan pakan, tidak hanya untuk manusia tetapi juga ternak,” ujar Gondo, warga Dukuh Sudimoro, Desa Sangup, Musuk, Boyolali, Minggu (6/10/2019).

Gondo bercerita selama musim kemarau telah menjual enam ekor anak sapi seharga Rp4 juta-Rp6 juta. Uangnya untuk memberi makan 10 ekor sapi perah lainnya.

Dikira Kabur, Sopir Mobil Penabrak Motor di Pasar Kliwon Solo Ternyata Lapor Polisi

Boyolali Alami Kemarau Terpanjang dan Terparah dalam 10 Tahun

“Selain itu kami juga harus memberi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Gondo.

Dia menghabiskan hampir Rp500.000 per hari untuk memberi makan sapi, meliputi rumput, air, dan campuran minuman untuk ternaknya.

Dalam sehari, 10 sapinya rata-rata menghasilkan 70 liter susu dengan harga Rp5.000 per liter.

Jika dihitung, Gondo hanya mendapat Rp350.000 per hari atau jauh di bawah modal pembelian pakan ternak.

Baca juga:

Catat! Ini Jadwal Konser Didi Kempot di Soloraya Oktober-November 2019

Inilah Dory Si Pemain Kendang Kesayangan Didi Kempot

Bupati Karanganyar Ingin Soloraya Plus 3 Daerah di Jatim Gabung Jadi Provinsi

Nasib serupa dialami warga lain, Surti. Dia sudah menjual tiga ekor anak sapi masing-masing seharga Rp4 juta untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak lainnya.

“Ditambah lagi harus membeli air untuk minum dan mandi yang harganya mencapai Rp300.000 per tangki,” kata Surti.

Air sebanyak 6.000 liter itu biasanya hanya bertahan untuk satu pekan. Kesulitan pakan ternak juga terjadi di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo.

Lereng Merapi Boyolali Terbakar, 9 Jam Api Baru Padam

Sekretaris Desa Tlogolele, Neigen Achtach, mengatakan beberapa peternak harus turun gunung ke daerah Muntilan, Kabupaten Magelang.

“Di Magelang biasanya ada petani yang cuma-cuma ngasih pakan, tapi kalau pesan untuk dicarikan ya harus mengeluarkan uang lebih,” imbuh Neigen.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten