Insan Film Indonesia Surati Jokowi, Ini Isi Suratnya
Presiden Joko Widodo (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, JAKARTA--Insan film Indonesia surati Presiden Joko Widodo. Ada sejumlah hal mereka sampaikan kepada Presiden Jokowi.

Saat ini, industri film Indonesia merupakan salah satu sektor yang terpukul akibat pandemi Covid-19 yang sudah setahun berlangsung. Dan hal ini menjadi perhatian, khususnya bagi para penggiat dan pekerja film yang terlibat di dalamnya.

Bioskop memang sudah dibuka. Namun kehadiran bioskop belum sepenuhnya direspons publik. Sementara selama ini bioskop menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar yang dapat membuat roda industri perfilman dapat terus berputar.

Permasalahan ini membuat pengelola bioskop hingga sejumlah tokoh pekerja film yang bersama-sama mengatasnamakan sebagai Insan Film Indonesia membuat surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Di dalam surat itu, mereka meminta dukungan pemerintah kepada bioskop yang kini kolaps.

Tidak hanya pada Presiden Joko Widodo, surat itu juga ditembuskan pada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Menko Maritim dan Investasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, juga Jajaran Kabinet Indonesia Maju, serta Satuan Tugas Covid-19.

Baca Juga: Setelah Disuntik Vaksin Covid-19, Sebaiknya Makan Apa Ya?

Menurut Kepala Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, Djonny Syafrudin, insan perfilman Tanah Air meminta sedikit perhatian pemerintah untuk membantu para pengusaha bioskop yang saat ini mengalami kerugian imbas pandemi.

"Bioskop, film, dan karyawan-pekerja film kan sangat produktif sebelum ada pandemi. Mereka menghasilkan uang, memberikan uang kepada pemerintah daerah seluruh Indonesia. Ada yang namanya stimulan, ada namanya hibah, nah itu sudah diminta dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sudah diproses. Saya rasa itu hal yang sangat penting dalam keadaan kolaps gini, stimulan itu paling efektif," ungkap Djonny Syafruddin seperti dikutip dari detikcom, Sabtu (6/3/2021).

Meski sudah diperbolehkan beroperasi, namun bioskop tak sepenuhnya dapat mengatasi biaya operasional yang tiap bulannya masih berjalan. Bahkan sudah banyak bioskop yang sudah memangkas jumlah karyawannya juga.

"Semua karyawan tinggal sepertiga. Bioskop juga ada yang belum berani buka karena akan menyebabkan kerugian kalau semuanya dibuka. PLN juga tetap saja nggak mau tahu mereka pasang tarif. Jadi satu lokasi ada yang kerugiannya sampai Rp150 juta per bulan. Yang independen itu Rp50 juta-Rp60 juta," imbuh Djonny.

Di sisi lain, pandemi juga berdampak pada merebaknya konten film bajakan yang bermunculan di dunia maya. Dalam surat tersebut, insan perfilman juga meminta bantuan pemerintah untuk dapat menindak tegas pelaku pembajakan.

"Pembajakan film harus segera diberantas tuntas karena itu adalah potensi ekonomi digital untuk dieksplorasi pelaku industrinya dan ada hak pemasukan negara di dalamnya untuk membangun Indonesia," bunyi sebagian surat tersebut.

Baca Juga: BTS Digandeng Unicef Lagi, Kampanye Setop Kekerasan Terhadap Anak

Di tengah merebaknya penayangan film lewat OTT dan berkembangnya teknologi, pembajakan film memang seakan makin mudah dijangkau dan dilakukan oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

Industri film Indonesia memang seakan berlomba dengan pandemi untuk dapat bertahan di tengah krisis. Produksi film sudah mulai dilakukan begitu pula dengan bioskop yang sudah kembali dibuka, namun dengan mengurangi kapasitas. Meski begitu, jumlah kasus yang masih meningkat memang tak dipungkiri masih menjadi kekhawatiran publik untuk keluar rumah dan menikmati film di bioskop. Semua itu masih menjadi dilema di masyarakat kebanyakan.

Sebelumnya, dalam audiensi dengan Komunitas Bisnis Film Bioskop di Balai Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat pada Kamis (4/3/2021), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan dukungannya agar industri perfilman Tanah Air kembali bangkit.

Sandi meyakini, situasi yang dialami industri film Indonesia seperti sekarang akan membaik. Sandiaga Uno berkaca dari situasi krisis ekonomi di AS yang pernah terjadi di tahun 1930-an.

Baca Juga: Digelari Pelakor Senior, Mayangsari: Jangan Dicontoh! 

Kala itu, Amerika Serikat tengah mengalami depresi ekonomi. Sepuluh tahun berlalu, perekonomian yang semula terpuruk justru terselamatkan dari sektor pariwisata.

Sandiaga Uno menyebutkan ada lebih dari 80 juta warga Amerika Serikat yang memenuhi Hollywood yang menjadi pusat seni pertunjukkan ketika itu.

"Saat terjadi krisis [ekonomi] great depression di Amerika pada era 1930. Kebangkitan ekonominya ditandai dengan 80 juta orang berduyun-duyun nonton ke bioskop, tahun 1930-an Hollywood malah berjaya karena krisis," papar Sandiaga Uno.



Berita Terkini Lainnya








Kolom