Ini Alasan Penghargaan SBBI 2020 Dinanti Pemegang Merek Soloraya

Penghargaan Solo Best Brand and Innovation (SBBI) 2020 dinantikan para pemegang merek yang bermain di pasar Soloraya.

  • Ini Alasan Penghargaan SBBI 2020 Dinanti Pemegang Merek Soloraya

Solopos.com, SOLO -- Penghargaan Solo Best Brand and Innovation (SBBI) 2020 dinantikan para pemegang merek yang bermain di pasar Soloraya. Penghargaan ini menjadi bukti mereka di terima pasar, sekaligus untuk branding merek.

Salah satu pemegang merek untuk kategori Rumah Sakit Swasta adalah PKU Muhammadiyah Solo. Petugas Humas PKU Muhammadiyah Solo, Betty Andriani, mengatakan penghargaan SBBI Award yang sukses didapatkan rumah sakit ini beberapa kali sangat berarti.

“Penghargaan ini sangat penting. Pertama, ini merupakan apresiasi positif atas pelayanan kami. Apalagi pada SBBI banyak faktor yang diukur, seperti brand awarness dan customer loyality. Kami paling tinggi pada customer loyalty, artinya konsumen kami puas dan setia dengan kami. Kedua, ini reward bagi karyawan bagi semuanya. Kami sampaikan reward ini ada atas kinerja mereka, atas kerja tim yang solid,” papar dia, Minggu (17/5/2020).

Tak Bisa Mudik? Ikutan Lomba Video Mudik Virtual Aja Kuy...

Betty menjelaskan manajemen mulai fokus branding rumah sakit pada 2015. Meski secara formal bernama PKU Muhammadiyah Surakarta, branding dengan nama PKU Solo terbukti sukses. Mau periksa di PKU mana pun, orang banyak menyebut PKU Solo.

Menurut dia, branding ini turut mengubah banyak hal di rumah sakit. Baik dari segi pembenahan fasilitas maupun penataan sumber daya manusia (SDM).

Pelayanan Berbeda

Dengan perubahan ini, rumah sakit dinilai banyak orang. Banyak pihak yang berjasa terhadap rumah sakit. Salah satunya media yang mendukung dalam memberitakan hal positif.

Update Covid-19 Sukoharjo: 1 Kasus Positif Baru di Gonilan Kartasura

“RS kami ini unik, memang produk RS semua sama, ada poliklinik, dokter komplet, rawat inap berbagai kelas, perawat kompeten, harga juga sama karena ada standar biaya, yang membedakan fasilitasnya. Tetapi, kami ada yang lebih membedakan, yakni dari sisi touch atau sentuhan pelayanannya,” ujar dia.

Di tingkat internal, PKU Muhammadiyah Solo juga mengukur kepuasan dan peningkatan mutu rumah sakit. Hal itu dilakukan dengan rutin menyebar kuisioner setiap bulan untuk mendapatkan angka kepuasan pasien.

Ada yang disebut Indeks Kinerja Unit (IKU), yakni dinilai dari kepuasan pasien di berbagai unit kerja yang ada. Misalnya pada pelayanan di kasir, perawat, hingga dokter.

Solopos Hari Ini: Frustasi Masyarakat Abai

“Tentunya kami tunjang dengan SDM yang berkompeten serta adanya kelengkapan alat medis sesuai kebutuhan. Selain itu, kami lebih banyak preventif dan promotif. RS kami ini one stop shopping. Orang sehat pun bisa ke RS untuk melakukan check up misalnya,” imbuh dia.

Melengkapi Survei Internal

Pemegang merek lainnya, Senior PR & Brand Communication Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Pandu Setio, menambahkan SBBI Award 2020 membantu perusahaan memahami seberapa besar masyarakat Soloraya mengapresiasi produknya.

Penghargaan yang digagas Solopos Group ini melengkapi survei sederhana yang mereka lakukan. “Kami juga melakukan survei sederhana di toko dengan mencari informasi seberapa banyak konsumen mencari info mengenai produk hingga memutuskan membeli. Kami juga melakukan riset internal secara rutin,” papar dia.

Komplotan Maling Tertangkap Satroni Rumah Kosong di Sragen, Salah Satunya Napi Asimilasi

Selain berinovasi pada produk-produk sesuai kebutuhan pasar dan masyarakat Indonesia, pihaknya juga meningkatkan layanan purnajual agar konsumen merasa aman dan nyaman menggunakan produk-produk Sharp.

“Kami juga membuat promo penjualan yang menarik dan memudahkan konsumen untuk memiliki produk Sharp dan menguntungkan tentunya,” jelas dia.

Direktur Pemasaran Solopos, Suwarmin, mengatakan SBBI 2020 bisa menjadi barometer dinamika merek karena riset yang dilakukan memotret kekuatan merek (brand equity) secara up to date.

Hikmah Ramadan: Dua Wajah dalam Budaya Islam

“Sampel riset adalah para pengguna merek [end user] dengan kualifikasi tertentu, misalnya dari SES A dan B. Banyak hal yang bisa didapatkan oleh para pengelola merek, seperti bagaimana gambaran produk di benak konsumen, atau kesan lainnya. Secara keseluruhan riset SBBI akan memberi panduan kepada pengelola merek untuk melihat posisi merek mereka di pasar,” ujar dia kepada Solopos.com, Minggu.

Suwarmin menjelaskan riset merek yang up to date tentu penting untuk menentukan strategi pemasaran yang tepat, baik dalam situasi pasar yang normal maupun dalam situasi pasar bergejolak seperti sekarang. Pihaknya berharap secara keseluruhan riset SBBI 2020 ini bisa bermanfaat bagi pengendali merek dan para pelaku usaha di Soloraya.

Info Lainnya