Hikmah Ramadan: Dua Wajah dalam Budaya Islam
Ilustrasi Ramadan. (Istimewa)

Solopos.com--Pascareformasi kekerasan atas nama agama Islam bergulir hingga kini. Persoalan klasik ditampilkan dari penguasaan ruang publik dan politik hingga ingin mendirikan negara Islam.

Hermanu Joebagio
Hermanu Joebagio

Hijrah Nabi Muhammad SAW tidak untuk mendirikan negara Islam, tetapi membangun keadaban moral sosial dengan sistem pemerintahan madani untuk melindungi kaum minoritas. Setelah Rasulullah SAW wafat sistem itu tidak digunakan dan yang dikembangkan sistem feodalisme dan otoritarianisme.

Indonesia sebagai kawasan periferal mengalami islamisasi dan mengikuti pola sistem itu, tetapi tidak lama karena sistem itu tidak sesuai dengan perkembangan politik setelah kemerdekaan.

Pada sisi lain Islam sebagai sistem keyakinan belum utuh membentuk orthodox legalistic Islam. Hal ini disebabkan sifat sinkretis belum hilang akibat padatnya pengalaman religius masyarakat Indonesia.

Karen Amstrong memandang Islam sebagai agama universal, tidak agresif, dan tidak anti-Barat. Pada sisi lain, Bassam Tibi melihat sifat agresif akibat pengeroposan hubungan dengan dunia Barat. Gejala itu melahirkan idealisme dar al-Islam (kekhalifahan), idealisme lapuk pada era modern dewasa ini.

Idealisme dar al-Islam muncul akibat ketidakmampuan elite politik berkontestasi dalam sistem yang berlaku. Dua persoalan dikemukakan Amstrong dan Tibi menggurat wajah janus face (dua sisi wajah) dalam Islam.

Firqah Islam berkembang mengikuti pola janus face antara tarekat dan syariat, tradisional dan modern, atau inklusif dan eksklusif. Di Indonesia ada dua firqah (aliran) utama, modern (Muhammadiyyah) dan tradisional (Nahdlatul Ulama).

Tradisional atau modern adalah habitus dari lingkup intelektualitasnya. Pemikir Islam tradisional bisa jadi berasal atau mereguk makna pemikiranya dari kawasan epistemik itu, sebaliknya juga dengan para pemikir modern.

Firqah modern terpecah menjadi dua, liberal dan konservatif. Yang liberal melahirkan firqah post-tradisional dan fundamentalis, sedangkan konservatif melahirkan firqah jihad-terorisme yang skriptualis.

Kekerasan pascareformasi dan konflik dunia Islam memicu kekhawatiran intelektual inklusif Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafii Maarif, Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, A.M. Syaefuddin, Amien Rais, dan Moeslim Abdurrahman.

Dua Paradigma

Mereka menawarkan dua paradigm. Pertama, inklusif sebagai jalan menuju moral spiritual yang sejuk dan damai. Kedua, tauhid sosial adalah jalan spiritual emansipatoris untuk mengatasi ketimpangan sosial dan memperjuangkan keadilan sosial.

Sementara itu QS Ali Imran ayat 105 memberi sinyal akan ada risiko berat kepada mereka yang merusak struktur sosial dunia Islam,”…dan janganlah kamu (orang beriman) seperti mereka yang telah terpecah belah dan bersilang sengketa sesudah datang keterangan-keterangan. Bagi yang melakukan akan mendapat siksa dahsyat…”
Paradigma inklusif dan tauhid sosial bentuk keberagamaan humanistis yang melahirkan etika rasional dengan sikap toleran serta kesejukan dan kedamaian. Keberagaman humanistis dapat mengatasi persoalan sosial dewasa ini, menumbuhkan kesadaran diri, dan membentuk landasan religius yang kukuh.

Masyarakat Jawa mengidealisasikan hidup tenteram tanpa konflik. Dalam Serat Sasanasunu ada pengutamaan tata krama dalam proses sosial: …den eling salamine yen tinitah sireku saking ora maring dumadi dinadekken manungsa metu saking enur rira Jeng Nabi Muhammad….”

Pupuh 9 bait ke-7: …awak sira angling luwih ing kat awengis sru angas yen tan lawan prayogane pangucap wengis iku ngumbar nepsu kawaron iblis ping tri sira reksaa….” Serat itu mengindikasikan pentingnya kerukunan sebagai kondisi sosial yang terus-menerus diaktifkan.

Kondisi sosial tenteram dan rukun akan membentuk pribadi tercerahkan dan mendapat hidayah cahaya kodrati. Pribadi bercahaya kodrati akan memancarkan moral keteladanan. Dalam perspektif theodicy, cahaya kondrati adalah muslim hanif yang menjunjung tinggi kebenaran, toleran, tidak membedakan the other, dan menghindari kemunafikan.

Hermanu Joebagio
hermanu.joebagio@gmail.com
Kepala Pusat Studi
Pengamalan Pancasila
Universitas Sebelas Maret



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Jadwal Imsakiyah

Jadwal Imsakiyah Kota Solo, Sabtu 23 Mei 2020

Imsak

04.12

Subuh

04.22

Zuhur

11.37

Asar

14.57

Magrib

17.29

Isya

18.42


Ramadhan Kita