Seorang PPL pertanian, Sragen, Dyah Prabantari, menunjukkan lokasi persemaian bibit padi yang ludes dimakan tikus di Desa Pantirejo, Sukodono, Sragen, Rabu (11/12/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Petani di Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Sragen, dibuat pusing dengan banyaknya tikus yang menyerang areal persawahan mereka belakangan ini.

Terkait itu, pemerintah desa setempat menyiapkan anggaran Rp10 juta untuk menggerakkan petani melakukan gropyokan. Tikus hasil gropyokan itu akan dibeli seharga Rp1.000/ekor, hidup atau pun mati, pakai uang tersebut.

Dana Rp10 juta itu diambil dari Pendapatan Asli (PA) Desa Bendo. Dengan alokasi dana tersebut, sebanyak 9.868 ekor tikus berhasil dimusnahkan dalam waktu 18 hari.

Dalam sehari warga Bendo berhasil menangkap 548 ekor tikus. Tikus-tikus itu kemudian dibakar dan dikubur dalam tanah.

10 Menit Puting Beliung Sapu Kalijambe Sragen, Puluhan Pohon Tumbang Timpa Rumah

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Bendo, Dyah Prabantari, saat berbincang dengan Solopos.com di Balai Desa Bendo, Rabu (11/12/2019), mengatakan selama musim kemarau 2019 hanya ada dua jenis tanaman palawija di Bendo, yakni kacang tanah dan jagung.

Setelah memasuki musim penghujan, para petani mulai beralih ke tanaman padi tetapi hama tikus merajalela. Dia menyebut dari luasan lahan 366 hektare di Bendo, 300 hektare di antaranya diserang tikus.

Keluhan mengenai serangan tikus itu diungkapkan para petani saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Kemudian ada usulan supaya dilakukan gropyokan tikus tetapi harus ada stimulan dari Pemdes.

Pemdes menyanggupi dan mengalokasikan dana Rp10 juta dari PA Desa. Dana itu untuk membeli tikus hasil tangkapan.

Joglo Roboh dan 5 Beringin Tumbang, Umbul Pengging Boyolali Ditutup

"Awalnya muncul usulan setiap satu ekor dibeli Rp500. Lalu muncul lagi usulan harga tikus Rp1.000/ekor. Akhirnya disepakati tikus hasil tangkapan dibeli Rp1.000/ekor,” ujar Dyah didampingi Kaur Keuangan Desa Bendo, Yunita.

Dia melanjutkan gropyokan tikus dimulai pada Minggu mulai 20 Oktober lalu sampai 18 hari atau sampai dana habis. Dengan gerakan itu, kata dia, banyak warga yang antusias, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Pemerintah kecamatan pun tertarik dan ikut bergabung untuk membasmi tikus. “Satu kelompok itu bisa mendapat 361 ekor dan ada yang dapat 78 ekor. Uangnya ya dikasih ke mereka,” ujarnya.

Setelah dana stimulan habis, petani tetap memberantas tikus secara mandiri. Ada yang berjaga di malam hari, ada yang membuat pagar sekeliling tanaman padi dan ada pula yang membuat jebakan.

Pencalonan Said Hidayat Di Pilkada Boyolali 2020 Diprediksi Terganjal Masalah Kesehatan

Dyah mengatakan serangan tikus tidak hanya di Bendo tetapi juga di wilayah desa sebelah, yakni Pantirejo. Dia menunjukkan persemaian benih padi yang ludes dimakan tikus dan petani tidak bisa menanam bibitnya.

Dyah juga terpaksa pesan bibit padi sampai ke Sambungmacan agar bisa tanam padi. Hal serupa dilakukan petani di Desa Kecik, Tanon, Sragen.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Sragen Muh. Djazairi yang memiliki sawah dua hektare di Kecik ikut menginisiasi pembelian tikus hasil tangkapan. Inisiasi Djazairi itu dilakukan setelah mendengar inisiatif Pemdes Bendo.

“Kalau di Kecik gropyokan tikusnya bukan siang hari tetapi malam hari oleh anak-anak. Setiap malam bisa mencapai 50-60 ekor dan saya beli semua, per ekornya Rp1.000. Hal itu dilakukan sampai usia tanaman padi tinggi,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten