Cerita Di Balik Transformasi Lahan HP 16 Solo: Pernah Jadi Tempat BABS dan Pembuangan Mayat
Rumah warga di lahan eks HP 16, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, Solo, yang akan ditata menjadi kawasan perumahan, kantor, dan asrama Brimob Polda Jateng. (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.om, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kini mulai menata kawasan lahan hak pakai atau HP 001 yang sebelumnya HP 16, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon. Kawasan itu akan menjadi permukiman, perkantoran, dan asrama Brimob Polda Jateng.

Pemkot Solo menargetkan penataan hunian di lahan tersebut rampung pada 2022 mendatang. Total ada 569 rumah yang akan dibangun untuk warga yang sebelumnya menempati kawasan itu tanpa legalitas yang jelas.

Penataan lahan eks HP 16 itu secara perlahan mengikis stigma kawasan yang terkenal sebagai kawasan hitam itu. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penataan HP 16, Sarjoko, kepada Solopos.com, Kamis (28/1/2021), menyebut penataan oleh Pemkot di bawah kepemimpinan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, itu membuat warga seolah-olah memperoleh emas sak gentong.

Baca Juga: Langgar Aturan PPKM, Hajatan Di Giriwondo Karanganyar Dibubarkan Satpol PP

Warga penghuni lahan HP 16 Solo itu sudah puluhan tahun tinggal di hunian yang jauh dari kata nyaman. Stigma kawasan kumuh hingga rawan kriminalitas pun tidak terhindarkan di lahan yang dihuni 569 keluarga itu.

Cukup Subur

Sarjoko bercerita pada 1980 an, lahan HP 16 merupakan tanah yang cukup subur. Lahan itu ditanami tanaman yang terus berganti setiap tahunnya seperti padi dan tebu.

“Seiring berjalannya waktu tahun tidak ditanami lagi. Mangkrak dan banyak alang-alang. Kemudian dengan pertumbuhan kota sangat pesat, warga yang tidak punya tanah satu per satu menempati lahan itu dari pinggir. Hingga akhirnya bertambah terus seperti saat ini,” paparnya.

Baca Juga: RS Rujukan Covid-19 Kritis, Bupati Sukoharjo Minta Desa Dan Kelurahan Lakukan Ini

Sarjoko menyebut saat lahan HP 16 Solo mangkrak, banyak warga sekitar menggunakan kawasan itu sebagai tempat buang air besar sembarangan (BABS). Ia mengisahkan kala itu setiap magrib, banyak warga membawa ember menuju tanah itu untuk buang air besar.

Sarjoko menyebut dahulu setiap tahun selalu ada teguran dari instansi terkait. Setiap ada operasi penertiban warga pergi meninggalkan rumah. Namun, keesokan harinya rumah-rumah semi permanen itu mereka bangun kembali.

“Yang tiba pertama itu warga asli Solo seperti saya. Namun akhirnya banyak yang datang. Tidak ada penolakan dari warga yang tinggal lebih awal, sama-sama membutuhkan,” paparnya.

Baca Juga: Kasus Premanisme Di BPR Serengan Solo Masih Bergulir, Polisi Buru 4 DPO 

Kabar Penggusuran

Sering kali warga di lahan HP 16 Solo dibuat deg-degan dengan kabar yang beredar. Seperti kabar saat lahan itu hendak dibangun pasar induk, lalu instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan berbagai kabar penggusuran lainnya.

“Bukan hanya kawasan rawan kriminalitas tetapi malah pusatnya kriminal. Dahulu kan berdekatan dengan lokalisasi Silir di sebelah utara. Memang hanya berdekatan tetapi sangat berdampak. Gudangnya molimo lah,” imbuh Sarjoko.

Baca Juga: Mantan Ajudan Ungkap Sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Saat Jabat Kapolresta Solo

Bahkan, ia mengingat pada 1981, lahan itu itu kerap jadi lokasi pembuangan mayat. Kemudian, aktivitas lokalisasi yang kental dengan kejahatan secara langsung membentuk mental para warga saat itu. Pemandangan orang mabuk, perkelahian, perjudian, bahkan pembunuhan terjadi kala itu.

Sarjoko berharap stigma hitam kawasan lahan HP 16 Solo segera terkikis dengan penataan yang tengah dilakukan Pemkot Solo saat ini. Kebersihan dan keindahan HP 16 ia harapkan dapat mengubah pola pikir warga menjadi lebih baik.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom