Bukan Lockdown, Ini Alasan Warga Tutup Akses Masuk Kampung Krapyak Sragen
Sejumlah batang bambu dan spanduk digunakan untuk memblokade jalan utama masuk Kampung Krapyak, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen, Sabtu (28/3/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN – Langkah antisipasi penularan virus corona yang dilakukan warga Kampung Krapyak Sragen viral. Warga Kampung Krapayak RT 028 dan RT 031, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen, menutup akses masuk yang kemudian dikenal dengan istilah lockdown lokal.

Apalagi belakangan viral informasi lockdown di Kampung Krapyak Sragen dilakukan akibat ada warga yang pulang dari luar negeri dan dijemput ambulans.

“Krapyak sudah lockdown karena ada orang Krapyak yang baru pulang dari luar negeri. Sampai rumah langsung dijemput ambulans. Jangan lewat terminal lama ke utara sampai Tegrat. Mohon info om, ini apa benar?” demikian salah satu pertanyaan yang tersebar setelah lockdown di Kampung Krapyak.

Sepi Pembeli, Pasar Tradisional di Sukoharjo Tetap Buka Selama KLB Corona

Menanggapi hal tersebut pengurus RT setempat menegaskan informasi itu hoaks. Sebab, tidak ada pelaku perjalanan (PP) dari luar negeri yang dijemput ambulans.

Warga Kampung Krapyak Sragen juga tidak melakukan lockdown. Melainkan hanya memblokade jalan untuk mengantisipasi persebaran virus corona.

“Semua informasi hoaks itu sudah kami klarifikasi lewat Facebook, jaringan pribadi (japri), dan Whatsapp. Intinya, Krapyak ini tidak lockdown tetapi warga berusaha mengantisipasi Covid-19 sesuai dengan spanduk yang sudah kami pasang,” ujar pengurus RT 028/RW 009, Krapyak, Bambang Sutrisno, saat ditemui Solopos.com di Krapyak, Minggu (29/3/2020).

Via Vallen Tes Corona, Positif atau Negatif?

Tokoh masyarakat Kampung Krapyak, Sragen, Fathurrohman, menyampaikan blokade jalan yang ramai disebut lockdown  itu murni diinisiasi warga.

Kesepakatan Warga

Meskipun tinggal dekat gapura masuk Krapyak yang ditutup, Fathurrohman justru tidak mengetahui keputusan itu.

“Saya tahunya baru bangun tidur kemudian melihat gang sudah diblokade. Kemudian warga memberitahu yang memblokade atas kemauan bersama. Kalau sudah kemauan warga ya saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Fathur menilai penutupan jalan di Kampung Krapyak Sragen viral akibat dibumbui hoaks. Padahal, warga tidak melakukan lockdown seperti yang ramai di masyarakat Sragen. Melainkan hanya melakukan karantina lokal untuk meningkatkan kewaspadaan.

Sekjen MUI Sarankan Indonesia Segera Di-Lockdown

Sementara itu Bambang Sutrisno mengimbau pendatang yang hendak masuk ke Kampung Krapyak melapor ke pengurus RT setempat.

“Kami mohon kepada warga, pendatang, dan tamu yang datang dari kota/daerah zona merah Covid-19 diwajibkan lapor ke lingkungan setempat atau pengurus RT,” sambung dia.

Alasan Lockdown Lokal Sragen

Bambang menyampaikan sampai saat ini Kampung Krapyak masih aman. Tidak ada orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP).

Corona Indonesia: Pakar UI Prediksi 2,5 Juta Orang Kena Corona, Kematian Capai 240.244

Tetapi ada beberapa orang yang masuk kategori pelaku perjalanan (PP) di Kampung Krapyak. Oleh sebab itu, warga tidak mau kecolongan ada pendatang dari zona merah Covid-19 masuk kampung tanpa diketahui.

Sampai Minggu pukul 12.00 WIB, blokade jalan masih belum dibuka di tiga akses masuk Krapyak, yakni di jalan perbatasan RT 027-028, jalan RT 028, dan jalan perbatasan RT 028-031.

Hingga pukul 13.30 WIB, informasi dari Camat Sragen Kota Dwi Sigit Kartanto, blokadi di jalan perbatasan RT 027-028 sudah dibuka dan dua akses jalan lainnya akan dibuka Minggu sore.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom