Bikin Melongo, Ini Detail Arti Prasasti China di Kebun Jati Semarang
Seorang anggota komunitas bersepeda di Semarang berfoto di depan prasasti yang terletak di area perkebunan jati di Semarang, beberapa waktu lalu. (Solopos/Imam Yuda Saputra)

Solopos.com, SEMARANG -- Seorang keturunan Tionghoa pernah mengartikan aksara China yang tertulis di prasasti di kebun jati kompleks Perumahan Bumi Wana Mukti, Sambiroto, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Ternyata, prasasti yang ditulis dengan aksara China itu berisi kutukan yang mengerikan. Meski demikian, kalimat ditulis menggunakan bahasa kuno dengan pilihan kalimat yang sopan.

Seorang pegiat sejarah Tionghoa di Semarang, Irawan Rahardjo, mengaku pernah menggali kisah di balik prasasti tersebut. Kepada Solopos.com, awal Agustus 2020, Irawan menerangkan prasasti itu ditulis dengan huruf China kuno dengan tutur kata yang halus atau sopan. Kendati demikian, isi tulisan itu berisi sebuah ancaman atau kutukan.

Kasus Perusakan Baliho Etik-Agus, Polres Sukoharjo Masih Identifikasi Pelaku

“Itu pakai bahasa kuno dan halus. Saya pernah minta seorang senior untuk menerjemahkan, memang sulit memahami artinya. Sepintas tentang tujuh orang saudara seperguruan yang di kubur di area itu. Dan, prasasti itu berisi kutukan bagi orang yang berani membongkarnya,” jelas Irawan, Selasa (11/8/2020).

Dia menambahkan seniornya yang pernah diminta mengartikan tulisan China di prasasti itu pernah mengunggahnya ke sebuah kanal blog Kompasiana.

Dalam blog yang ditulis Anthony Hocktong Tjio, 12 September 2016 silam itu, diceritakan bahwa prasasti bercorak khas Tionghoa masa Ming dan Qing itu didirikan pada 1916.

Nyeleneh! Kedai Ini Bikin Es Krim Rasa Indomie, Ada Taburan Bawang Gorengnya

Peringatan agar Tak Merusak Prasasti

Tujuan didirikannya prasasti China itu sebagai peringatan atau kutukan kepada siapa saja yang berani merusak atau menggusur kuburan itu, tidak akan diberkati Tuhan.

Berikut arti tulisan di prasasti China itu yang diterjemahkan Anthony Hocktong Tjio dan telah diunggah di blog Kompasiana:

Semenjak kita Tionghoa berbondongan datang di tanah Jawa ini, tidak kurang dari ratusan orang yang pandai ilmu bumi kuburan, kenyataannya memang tidak ada diantaranya yang pernah mendapatkan penuturan perumusan rahasianya [hongshui]

Almarhum Bapak guru Yap Sek Khie (Ye Xi Qi), beserta beberapa sejawat dan saya sendiri dipercayakan untuk membangun lima enam kuburan disini. Mendasarkan aturan yang dikaji dengan seksama, mendirikan bangunan utamanya dengan ketepatan penataan (hongshui-nya) yang melebihi dari bangunan yang sudah ada diatas tanah liar ini. Hal ini membuktikan bahwa kami sungguh memahami rumus rahasia yang diturunkan tanpa melalaikan kebijakan pembangunannya.

Hiii... Prasasti China Berumur Seabad di Kebun Jati Semarang Ini Berisi Kutukan

Dengan demikian kami tegaskan disini dengan batu peringatan ini. Selain itu juga meninggalkan pesan bagi keturunan kita disepanjang masa, meskipun dikemudian hari barang siapa yang memahami ajaran basi dari Keng Cun (Jing Chun). Ataupun yang mengatakan bakal ada Dewa Besar yang mengendarai kuda sembrani turun untuk memerintah anak cucu mengutik bangunan kuburan ini sewenangnya, janganlah mempercayainya. Siapa saja bila melanggarnya, bakal tidak diberkati Allah subhanahu wa ta’ala.

Bos Bisnis Investasi Semut Rangrang Sragen Sugiyono Dikenal Pandai Berkomunikasi

Walaupun dikemudian hari ada yang berani merusak kuburan ini dengan kasar dan kejam. Asal mematuhi pesan jangan mengikuti kata orang lain, masih boleh dipugar keasalnya kembali. Bila demikian, itu tidak berarti melanggar larangan keras orang tua dan gurunya. Melainkan bakal dilimpahi rejeki yang tidak ada batasnya.

Harap diperhatikan dengan saksama.

Pada bulan 12 tahun Naga, tahun ke-5 Republik Tionghoa (1916).

Ditegakkan oleh: Liem Kik Hong (Lin Ji Huang).

Dalam tulisannya, Anthony juga berharap prasasti China dan kuburan tua di area itu tetap dipertahankan. Hal itu dikarenakan prasasti itu memiliki nilai sejarah dan budaya Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom