Sejumlah warga Papua Barat mengikuti kirab budaya di Kartasura, Sukoharjo, Minggu (22/9/2019) sore. (Solopos/Iskandar)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Keraton Kartasura menggelar Kirab Budaya Hamengeti Kaping 339 Ambal Warso Hadeging Karaton Kartasura pada Minggu (22/9/2019) sore.

Acara itu tak hanya diikuti keluarga atau warga di lingkungan Keraton Kartasura, Sukoharjo, tapi juga warga Papua Barat. Mereka mengenakan pakaian adat Papua lengkap dengan senjata dan berjalan kaki membaur dengan peserta kirab lainnya.

“Kami datang langsung dari Papua Barat kurang lebih 37 orang. Kami bisa sampai ke sini karena kami menjadi anggota Yayasan Surya Nuswantara yang anggotanya dari seluruh Indonesia termasuk kami,” ujar Ketua Pengurus Yayasan Surya Nuswantara, Papua Barat, Mesak Doan Siba, ketika ditemui di sela-sela menunggu kirab di Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo, Minggu.

Menurut dia, rombongan dari Papua yang terdiri atas sejumlah laki-laki dan perempuan ini tiba di Sukoharjo pada Rabu (18/9/2019). Selama ini mereka menginap di Boyolali.

Dia berharap kedatangan mereka untuk mengikuti kirab di Kartasura mampu merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Dia mengatakan melalui budaya ini orang tidak lagi memandang asal suku tapi justru semakin mempererat hubungan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sejumlah peserta kirab mengusung pusaka saat kirab budaya di Kartasura, Sukoharjo, Minggu (22/9/2019) sore. (Solopos/Iskandar)
Sejumlah peserta kirab mengusung pusaka saat kirab budaya di Kartasura, Sukoharjo, Minggu (22/9/2019) sore. (Solopos/Iskandar)

Dia menjelaskan teman-temannya yang ikut kirab dengan jalan kaki dilengkapi senjata panah, parang, dan sebagainya. Mereka berjalan sambil memeragakan tari Tumbuk Tanah.

Tarian ini biasanya digunakan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan, pembunuhan, dan perang suku. Tarian ini juga sering disebut tarian ular. Pemainnya bergandengan tangan satu sama lain.

Ketua Panitia Kirab, Agus Mulyadi, mengatakan acara Gebyar Budaya yang diwarnai kirab ini digelar untuk melestarikan budaya nenek moyang yang adi luhung.

Pada kirab tersebut juga dikeluarkan pusaka milik warga seperti keris, tumbak, dan sebagainya. “Jadi benda-benda pusaka yang dikirab itu milik warga. Kirab pusaka ini hanya untuk memeriahkan suasana saja,” kata dia.

Di sisi lain, dia menyambut baik peserta kirab dari Papua Barat. Dengan begitu tampak keberagaman dan kebinekaan.

Kirab yang dimulai dari Perempatan Jl. Slamet Riyadi, Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo, itu berlangsung semarak. Kirab diikuti berbagai elemen masyarakat di antaranya persatuan sepeda onthel Ngadirejo, drumben siswa SMK Pelayaran, Kartasura, dan sebagainya.

Mereka berjalan berurutan menempuh jarak kira-kira tiga kilometer. Kirab ini berakhir di bekas Keraton Kartasura.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten