Tutup Iklan
Warga mengikuti kirab Karaton Kasultanan Padjang, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, dengan memikul pusaka Songsong Agung Tunggul Raja saat dikirab keliling desa, Sabtu (31/8/2019) sore. (Solopos/Iskandar)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sejumlah benda pusaka milik Keraton Padjang dikirab menjelang malam 1 Sura, Sabtu (31/8/2019) sore. Iring-iringan kirab berjalan melalui beberapa ruas jalan di Pajang, Laweyan, https://soloraya.solopos.com/read/20190831/489/1015695/malam-1-sura-air-jamasan-pusaka-mangkunegaran-solo-habis-diserbu-warga-dalam-hitungan-detik" title="Malam 1 Sura: Air Jamasan Pusaka Mangkunegaran Solo Habis Diserbu Warga Dalam Hitungan Detik">Solo, dan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Warga menyaksikan arak-arakan pengusung pusaka berupa songsong atau payung berjuluk Songsong Agung Tunggul Raja dan sejumlah tombak maupun keris yang dibawa puluhan laki-laki berbusana adat Jawa dalam kirab tersebut.

“Ini merupakan acara kirab budaya Karaton Kasultanan Padjang sekaligus penggantian Songsong Agung setiap satu tahun sekali. Acara ini digelar menjelang 1 Sura,” ujar Sekretaris Paguyuban Palenggahan Kasultanan Padjang, Slamet Riyadi, ketika ditemui wartawan di Petilasan Karaton Padjang di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu.

Menurut dia, Songsong Agung dipercaya sebagai lambang pengayoman atau perlindungan bagi https://soloraya.solopos.com/read/20190831/491/1015679/ketua-panitia-pilkades-patihan-sragen-akhir-mundur-setelah-tepergok-hadiri-rapat-internal-cakades" title="Ketua Panitia Pilkades Patihan Sragen Akhir Mundur Setelah Tepergok Hadiri Rapat Internal Cakades">rakyat. Songsong Agung ini dikirab bersama kereta kencana, tombak, dan keris milik para keturunan sentana dan kawula Karaton Padjang.

Dia mengatakan kirab diikuti masyarakat dan disemarakkan drumben SMPN 9 https://soloraya.solopos.com/read/20190831/489/1015669/kirab-jenang-sura-jadi-ungkapan-rasa-syukur-pedagang-pasar-triwindu-solo" title="Kirab Jenang Sura Jadi Ungkapan Rasa Syukur Pedagang Pasar Triwindu Solo">Solo dan lain-lain. Slamet mengungkapkan tujuan kirab ini untuk memperingati 1 Sura dan nguri-uri budaya agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarah Karaton Padjang.

“Generasi muda agar tahu bahwa sebelum Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta berdiri sudah ada lebih dulu Karaton Padjang yang rajanya bernama Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang juga disebut Mas Karebet,” ujar dia.

Rencananya, kirab budaya semacam ini di masa mendatang digelar lebih semarak lagi. Selain itu Keraton Padjang juga merencanakan renovasi situs Kasultanan Padjang.

Saat ini Keraton Padjang tengah dicari berbagai sumber literasi untuk mencari tahu bagaimana bentuk asli Kasultanan Padjang tempo dulu. “Sekarang ini baru ditemukan batu bata yang diduga bekas bangunan Karaton Padjang dan benda-benda lainnya,” kata Slamet.

Sementara itu Ketua Paguyuban Kasultanan Karaton Padjang, Mujono Hadinagoro, mengatakan ada 25 tombak pusaka yang dikirab bersama dengan Songsong Agung mengelilingi kampung sejauh kira-kira 2 kilometer.

“Peserta kirab ini datang dari berbagai daerah di antaranya Klaten, Boyolali, Solo, dan sebagainya,” kata dia.

Salah seorang warga Kartasura yang menyaksikan kirab, Widiyanto, 40, mengapresiasi adanya kirab Karaton Padjang. Acara budaya semacam ini saat ini sudah langka.

“Kirab budaya semacam ini bagus untuk melestarikan budaya Indonesia khususnya Jawa karena anak-anak sekarang belum tentu mengetahui hal semacam ini,” ujar dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten