Dalang Theo Haowe Lie memainkan wayang potehi dengan lakon Pertahanan Militer Jendral Yang di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jateng, Senin (12/1/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)

Solopos.com, SEMARANG – Tahun Baru China atau yang kerap disebut Imlek akan segera tiba. Menjelang perayaan Imlek, kawasan Pecinan Kota Semarang selalu menjadi pusat keramaian.

Beberapa agenda seperti Pasar Semawis, Tuk Panjang, hingga Opera Jalanan kerap digelar di kawasan tersebut menjelang Imlek. Tak terkecuali menjelang Tahun Baru China atau Imlek 2571 yang jatuh pada Sabtu (25/1/2020).

Perayaan Imlek di kawasan Pecinan memang selalu meriah. Maklum, mayoritas penduduk yang tinggal di kawasan tersebut merupakan orang-orang keturunan Tionghoa.

Di kawasan ini tercatat ada sembilan bangunan kelenteng yang digunakan warga keturunan Tionghoa beribadah. Kesembilan kelenteng itu yakni Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur No.38, Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa di Jl. Gang Pinggir No.105-107, Tay Kak Sie di Jl. Gang Lombok No. 62, dan Kong Tik Soe di Jl. Gang Lombok.

Baca juga: Cerita Kelenteng Tertua Di Pecinan Semarang

Kemudian Kelenteng Hoo Hok Bio di Jl. Gang Cilik No.7, Tong Pek Bio di Jl. Gang Pinggir No.70, Kelenteng Wie Hwie Kiong di Jl. Sebandaran I No.26, Ling Hok Bio di Jl. Gang Pinggir No.110, dan Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong di Jl. Sebandaran I No.32.

Storyteller asal Kota Semarang, Jongkie Tio, menyebut terbentuknya kawasan Pecinan di Semarang tak bisa dilepaskan dari peristiwa Geger Pacinan pada 1740 silam.

Saat itu, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau yang karib disebut Kompeni melakukan pembantaian terhadap warga Tionghoa di Batavia, sekarang Jakarta. Orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos lantas melarikan diri hingga ke Semarang.

Jongkie Tio
Sejarawan Semarang, Jongkie Tio. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Di Semarang, orang Tionghoa sempat bergabung dengan Raja Kasunanan Kartasura, Pakubuwono II, untuk menentang VOC. Namun, setelah Pakubowono II kalah dan tunduk dari VOC, warga Tionghoa bersama kaum pribumi kemudian mengangkat cucu Amangkurat III, Raden Mas Garendi sebagai raja.

Baca juga: Ulama Tionghoa Isi Tausiah, Haul Sunan Kuning Dihadiri Ratusan Pejabat

Raden Mas Garendi yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Kuning, karena memimpin kaum berkulit kuning, akhirnya memimpin pemberontakan ke Kartasura pada 1742. Akibat pemberontakan itu, Kasunanan Kartasura pun jatuh.

“Setelah runtuhnya Kasunanan Kartasura itu, akhirnya terbentuk Kasunanan Surakarta dan kemudian Keraton Yogyakarta,” tutur Jongkie saat dijumpai Semarangpos.com, beberapa waktu lalu.

Pasca-pemberontakan itu, Jongkie mengatakan Belanda akhirnya mengeluarkan peraturan yang isinya menempatkan warga Tionghoa di Semarang dalam satu kawasan. Tujuannya, tak lain agar pergerakan atau aktivitas warga Tionghoa bisa lebih diawasi.

Warga mengunjungi lokasi perayaan Pasar Imlek Semawis di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jateng, Selasa (24/1/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Ilustrasi perayaan Imlek di kawasan Pecinan Semarang. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

“Setelah pemberontakan itu, Belanda akhirnya menempatkan warga Tionghoa dalam satu kawasan. Kawasan itulah yang sekarang disebut Pecinan. Sebelum ada Pecinan, warga Tionghoa tinggalnya terpisah-pisah, ada yang di Gedung Batu, bahkan di wilayah Ngaliyan,” cerita pria yang memiliki nama asli Tio Tik Gwan itu.

Baca juga: Ini Bukti Gus Dur Dihormati Masyarakat Tionghoa Di Semarang

Jongkie menambahkan meski terbilang sempit, kawasan Pecinan di Kota Semarang mampu menjadi salah satu wilayah kekuatan ekonomi. Bahkan, beberapa tokoh lahir dari kawasan itu, salah satunya Oei Tjie Sien, yang merupakan ayah Oei Tiong Ham, yang pernah menyandang predikat sebagai orang terkaya di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19.

Sementara itu, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, kawasan Pecinan di Semarang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan Kota Semarang. Kawasan pecinan di Semarang disebut-sebut memiliki nilai sejarah dan merupakan kawasan yang memiliki potensi wisata budaya.

Pada 2005, Pemkot Semarang melalui Surat Keputusan Wali Kota No.650/157 tanggal 28 Juni 2005, mulai mengatur kawasan Pecinan untuk direvitalisasi. Pecinan Kota Semarang yang semula hanya pusat perdagangan berubah menjadi pusat wisata yang menampilkan kebudayaan orang-orang etnis Tionghoa.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten