WISATA SEMARANG : Perjuangan Warga SK Ubah Image Prostitusi Jadi Wisata Religi
Dua orang pekerja tengah memperbaiki gapura permakaman Soen An Ing sebagai persiapan haul yang digelar Sabtu (10/3/2018) nanti.

Wisata religi di Semarang salah satunya ziarah ke makam Soen An Ing di kawasan Sri Kuncoro (SK) atau yang populer disebut Sunan Kuning.

Solopos.com, SEMARANG – Bagi warga Semarang, bahkan seluruh Jawa Tengah (Jateng), nama Sunan Kuning bukanlah sesuatu yang asing. Saat mendengar nama itu, beribu pikiran negatif langsung terlintas.

Ya, Sunan Kuning memang identik dengan kawasan prostitusi di Semarang. Di kawasan yang terletak di Kelurahan Kalibanteng itu terdapat lokalisasi yang berisi perempuan ‘nakal’ dan puluhan tempat karaoke untuk memuaskan nafsu serta hasrat para pria hidung belang.

Namun, di kawasan itu rupanya terdapat sebuah makam keramat yang menyimpan sejarah Kota Semarang. Makam itu milik Soen An Ing, seorang ulama Tionghoa yang diyakini merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Semarang.

Angin berhembus semilir saat Semarangpos.com memasuki gapura Tempat Pemakaman Umum (TPU) Argorejo di Bukit Argorejo, Kampung Taman Sri Kuncoro, Semarang, Senin (5/3/2018) siang. Tampak dua pekerja sedang memperbaiki gapura di salah satu lokasi permakaman yang diketahui merupakan lokasi permakaman Soen An Ing.

Lokasi permakaman Soen An Ing itu terletak di sisi sebelah utara kompleks permakaman. Para pekerja sibuk menggelar perbaikan karena di lokasi itu akan digunakan haul memperingati Soen An Ing pada Sabtu (10/3/2018) nanti.

Dua orang pekerja tengah memperbaiki gapura permakaman Soen An Ing sebagai persiapan haul yang digelar Sabtu (10/3/2018) nanti.
Dua orang pekerja tengah memperbaiki gapura permakaman Soen An Ing sebagai persiapan haul yang digelar Sabtu (10/3/2018) nanti.

Menurut Siti Qomariyah, yang berperan sebagai juru kunci menggantikan suaminya yang baru saja meninggal, Sutomo, haul Soen An Ing ini merupakan yang kali pertama digelar. Sebelumnya, haul belum pernah digelar di kompleks permakaman Soen An Ing. Kalau pun ada, hanya sebatas pengajian atau orang yang ngalap berkah.

“Dulu, sekitar tiga bulan lalu pernah digelar pengajian di sini. Tapi, bukan haul. Kalau orang ziarah sih sering, tapi enggak mesti harinya. Paling ramai kalau malam Jumat Kliwon atau hari besar Maulid Nabi,” tutur Qomariyah saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Qomariyah mengaku senang dengan digelarnya haul di makam Soen An Ing. Ia berharap haul itu bisa membangkitkan gairah warga berziarah ke makam ulama keturunan Tionghoa tersebut.

“Peziarah biasanya ke sini berdoa minta pelarisan, naik pangkat, pengasihan, dan dilancarkan rezekinya. Tapi, akhir-akhir ini jumlahnya berkurang,” tutur Qomariyah.

Terpisah, Ketua RT 06/RW 002, Kampung Sri Kuncoro, Sayem, berharap adanya haul akan mengubah citra kampungnya. Selama ini, orang sering beranggapan negatif saat mendengan Kampung Sri Kuncoro.

“Tahunya SK itu Sunan Kuning. Padahal, SK itu sebenarnya Sri Kuncoro. Orang lebih tahu SK itu kawasan prostitusi. Padahal di sini ada makam salah satu ulama yang dikeramatkan. Citra ini yang ingin kami ubah dengan menggelar haul,” tutur Sayem.

Sayem menyebutkan Haul Soen An Ing itu digelar atas prakarsa petinggi Penerbad Semarang. Nantinya, haul mengundang tak kurang dari 100 pejabat Kota Semarang, mulai dari anggota DPRD hingga Wali Kota Hendrar Prihadi.

Ia pun berharap adanya acara haul bisa memunculkan wisata religi layaknya petilasan Cheng Ho yang jadi daya tarik wisatawan. “Inginnya warga ya seperti itu. Kalau Cheng-Ho saja bisa menarik banyak pengunjung, kenapa Soen An Ing tidak,” tegas Sayem.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom