Kelenteng Siu Hok Bio yang terletak di Jalan Wotgandul Timur, Kranggan, Kota Semarang. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — Bangunan seluas 9x25 meter  di Gang Baru, Wotgandul Timur, Kranggan, Kota Semarang, itu tampak ramai, Kamis (16/1/2020) siang. Kendati, siang itu hujan turun dengan cukup deras.

Beberapa orang tampak berdoa dengan khusyuk di bangunan itu. Sambil membakar yongsua, mereka mengucapkan doa di depan altar Dewa Bumi yang terdapat di dalam bangunan itu.

Bangunan itu tak lain adalah Kelenteng Siu Hok Bio. Kendati kecil dan terletak di tengah-tengah pasar, Kelenteng Siu Hok Bio memiliki sejarah panjang bagi warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Pecinan Semarang.

Dupa atau yongsua tampak berdiri tegak di depan altar Dewa Bumi di Kelenteng Siu Hok Bio, Pecinan Semarang, Kamis (16/1/2020). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Kelenteng itu merupakan yang tertua di kawasan Pecinan Semarang. Bahkan, Kelenteng Siu Hok Bio merupakan satu dari sembilan kelenteng di Pecinan Semarang yang tetap digunakan sebagai tempat ibadah umat Tridharma secara terbuka saat masa Orde Baru (Orba).

"Dulu enggak seramai seperti ini. Saat masa Orde Baru, hanya ada empat kelenteng di sini yang tetap digunakan secara terbuka. Salah satunya ya kelenteng ini," ujar pengurus Kelenteng Siu Hok Bio, Cipto, 67, saat dijumpai Semarangpos.com, Kamis.

Cipto mengatakan Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng tertua di Semarang. Kelenteng itu bahkan telah berdiri sejak tiga abad silam.

Saat perayaan Imlek atau Tahun Baru China, Kelenteng Siu Hok Bio selalu ramai. Apalagi di depan kelenteng yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) pada 1992 itu digelar Pasar Semawis.

Sementara itu Story teller Semarang, Jongkie Tio, yang menyebut Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng tertua di kawasan Pecinan yang berdiri sejak abad ke-17.

Seorang warga tengah berdoa di depan Dewa Bumi di Kelenteng Siu Hok Bio, Pecinan Semarang, Kamis (16/1/2020). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Jongkie menyebut kawasan Pecinan terbentuk sejak abad ke-17. Kala itu, orang-orang Tionghoa yang ada di Batavia melakukan eksodus ke Semarang karena adanya pembantaian dari penjajah Belanda.

"Saat pertama di Semarang, orang Tionghoa itu tidak terkumpul dalam satu kawasan. Setelah mereka terlibat dalam pemberontakan Mataram, baru Belanda mengumpulkan mereka dalam satu kawasan, yang sekarang jadi Pecinan itu," ujar Jongkie.

Pantauan Solopos.com, Kelenteng Siu Hok Bio hingga saat ini masih terawat dengan baik. Meski pun diapit oleh bangunan rumah toko (ruko) di sekelilingnya.

Prasasti benda cagar budaya (BCB) yang menunjukkan bangunan Kelenteng Siu Hok Bio sebagai bangunan bersejarah. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Salah seorang warga Wotgandul Timur, Hari, menyebut tak hanya saat Imlek, Kelenteng Siu Hok Bio juga ramai saat perayaan hari jadinya yang digelar pada bulan ke-9 atau bulan ke-10 setiap tahunnya.

"Biasanya ada pementasan wayang kulit semalam suntuk di depan kelenteng. Kalau enggak bulan ke-9, bulan ke-10 biasanya," terang Hari.

Dikutip dalam buku karangan Bambang Iss Wirya berjudul Langit Pecinan, akulturasi budaya di Pecinan terlihat dalam pementasan wayang kulit di Kelenteng Siu Hok Bio. Beberapa Dalang Kondang pun juga pernah menghibur masyarakat Tionghoa dan Jawa yang ada di sana seperti Ki Joko Edan dan Ki Sigit Ariyanto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten