Begini Cara Kerja EWS Banjir Karya Peneliti UGM di Bendungan Talang Klaten
Early Warning System (EWS) banjir yang dilengkapi panel surya terpasang di Bendungan Talang, Bayat, Klaten, Rabu (23/10/2019). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Satu unit early warning system (EWS) banjir terpasang di Bendungan Talang, Bayat, Klaten, Selasa (22/10/2019), yang berfungsi memantau ketinggian air sungai.

Peralatan tersebut dilengkapi panel surya dan sirene sebagai pendeteksi banjir di kawasan Bayat dan sekitarnya. Alat canggih yang dirintis beberapa peneliti asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja itu telah dihibahkan ke Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten.

Di alat tersebut dipasang sensor ketinggian air alias ultrasonic sensor. Data yang masuk langsung diolah mikrokontroler guna mengirimkan pesan terkait ketinggian air. Data itu langsung dipancarkan melalui internet. Nantinya setiap orang diharapkan dapat mengakses data tersebut sebagai alat pendeteksi dini banjir.

Ada tiga peneliti yang membuat EWS itu. Masing-masing berasal dari Fakultas Teknik UGM dan Fakultas MIPA UGM. Pembuatan EWS banjir memakan waktu sekitar satu bulan.

Selesai dibuat, alat tersebut langsung dipasang di Bendungan Talang, Bayat. Bendungan sungai dinilai menjadi lokasi yang paling gampang mengukur ketinggian air sungai.

“Adanya alat itu sebenarnya ditujukan guna mengukur ketinggian air yang lebih akurat. Ke depan, kami lengkapi juga televisi internet di bagian hilir [di Cawas]. Harapan kami, alat ini dapat meminimalkan dampak banjir, baik material atau pun nonmaterial,” kata salah satu peniliti sekaligus dosen di Fakultas Teknik Mesin UGM Jogja, Gesang Nugroho, kepada solopos.com, Kamis (24/10/2019).

Keberadan EWS banjir itu dinilai semakin membuat nyaman warga di Talang dan sekitarnya. Selama ini, daerah Talang menjadi daerah langganan musibah banjir setiap tahunnya. Warga hanya mengandalkan ilmu niteni saat melihat potensi banjir.

“Saya sendiri ikut memasang alat EWS banjir itu. Semoga, alat itu dapat membantu warga. Biasanya, warga di sini hanya niteni saat terjadi banjir. Ketika terjadi hujan selama berjam-jam atau selama setengah hari, otomatis daerah sudah banjir. Air meluap hingga rumah penduduk. Ketinggian air mencapai satu meter,” kata sukarelawan di Talang, Kecamatan Bayat, Witoyo, 60.

Witoyo mengatakan kawasan Talang tercatat sebagai salah satu daerah rawan banjir karena lokasinya berada di dekat bendungan.

Salah satu warga di Talang, Marimin, 60, mengaku musibah banjir selalu menyusahkan warga di Talang dan sekitarnya.

“Saya ini sehari-harinya menjadi penjual mi ayam. Saat berjualan, saya bisa mengantongi keuntugan Rp100.000-Rp150.000 per hari. Jika banjir tiba, saya sudah tak bisa apa-apa. Saya hanya tenguk-tenguk [duduk-duduk] di rumah. Semoga pemasangan EWS banjir dan perbaikan bendungan di Talang dapat menjadikan daerah di sini bebas banjir. Paling tidak, tidak separah seperti waktu-waktu sebelumnya,” katanya.

Kepala Stasiun Klimatologi Semarang Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng, Tuban Wiyoso, mengatakan awal musim hujan di Klaten berlangsung November dasarian ke-2 alias memasuki pertengahan November 2019. Puncak musim hujan berlangsung, Januari 2020-Februari 2020.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Klaten, Lestari, mengatakan BPBD Klaten sudah memetakan sekaligus mengajak sukarelawan dan seluruh elemen masyarakat meningkatkan kesiagaan menghadapi musim hujan ke depan.

“Sosialisasi pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim hujan terus dilakukan,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho