Banyak Angkringan di Baturetno Wonogiri Jual Nasi Berkat Loh, Mau?
Angkringan milik Bambang Tri Warsito di Batu Tengah, Desa Baturetno, Baturetno, Wonogiri. (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Nasi atau sego berkat yang biasanya disajikan hanya saat ada orang menggelar hajatan kini tengah populer di kalangan masyarakat termasuk di Wonogiri.

Penjual nasi dengan ciri khas dibungkus daun jati tersebut dapat ditemui di beberapa kota, seperti Solo dan Jakarta. Di Wonogiri, sego berkat biasanya diberikan kepada tamu hajatan perempuan untuk dibawa pulang.

Biasanya, tamu laki-laki diberi makan di tempat hajatan. Sementara tamu perempuan tidak diberi nasi. Sebagai gantinya mereka mendapat nasi berkat yang dibungkus daun jati dan dibungkus plastik untuk dibawa pulang ke rumah.

Positif Covid-19 Karanganyar Tambah 2 Orang: ASN Solo dan Pegawai RSUD dr Moewardi

Dalam satu plastik berisi nasi berkat untuk tamu hajatan di Wonogiri itu ada tiga bungkusan. Pertama, nasi putih biasa dengan porsi banyak. Kedua, lauk berupa semur daging sapi, bihun, oseng cabai, serundeng atau parutan kelapa yang digoreng, dan kecambah.

Sedangkan satu bungkus lainnya yakni nasi dengan ukuran kecil, tetapi di dalamnya sudah lengkap dengan lauk-pauknya. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan “pupukan”.

Di Kecamatan Baturetno, Wonogiri, penjual sego berkat sudah ada sejak 2017. Bahkan mulai 2018, beberapa angkringan di wilayah Baturetno juga menjual sego berkat.

Ada ASN Positif Covid-19, Satu Gedung di Balai Kota Solo Ditutup Sementara

Penjual pertama nasi berkat di Baturetno, Wonogiri, yakni Yanti. Namun sejak beberapa bulan lalu, Yanti sakit dan sudah tidak lagi membuat nasi berkat.

Bikin Sendiri

Selain Yanti, ada Bambang Tri Warsito, warga Batu Tengah RT 001/RW 010, Desa Baturetno, Baturetno, yang memiliki angkringan dengan salah satu menunya nasi berkat. Setiap malam ia berjualan di sebelah utara Balai Desa Baturetno.

“Awalnya dulu saya juga sempat kerja sama dengan Bu Yanti. Kemudian saya bikin sendiri untuk dijual di angkringan,” kata dia saat ditemui Solopos.com, Minggu (2/8/2020).

nasi berkat wonogiri
Pemilik angkringan di Baturetno, Wonogiri, Bambang Tri Warsito, membungkus nasi berkat di rumahnya, Batu Tengah RT 001/RW 010, Desa Baturetno, Baturetno, Wonogiri, beberapa waktu lalu. (Istimewa)

Sego berkat yang dibikin Bambang Tri mempunyai ciri khas tersendiri. Ia menambahkan tempe bacem di dalam sego berkat itu. Pada umumnya lauk sego berkat terdiri dari semur daging sapi, bihun, oseng cabai, srondeng atau parutan kelapa yang digoreng, dan kecambah.

Awalnya, ia menyediakan sebanyak 60 hingga 70 bungkus nasi berkat setiap hari di angkringan miliknya di Baturetno, Wonogiri. Namun saat ini ia hanya menyediakan 20-25 bungkus setiap harinya.

Pecah Telur! Kota Madiun Catatkan Kasus Kematian Pertama Akibat Covid-19

Penjualannya menurun setelah beberapa angkringan lain juga menyediakan nasi berkat. “Masing-masing angkringan mempunyai ciri khas sendiri dalam menghidangkan nasi berkat, baik dari bentuk bungkus maupun isinya. Saya senang teman-temean mempunyai kreasi sendiri,” ungkap dia.

Selain dijual di angkringan, ia juga menerima pesanan nasi berkat dari warga. Satu bungkus nasi berkat dihargai Rp6.000.

Cepat Habis

Ia mengatakan di angkringannya di Baturetno, Wonogiri, juga terdapat nasi oseng, bandeng, padang, dan uduk, namun yang cepat habis adalah nasi berkat. Nasi berkat mempunyai keistimewaan dibanding lainnya, yakni lebih awet dan tidak mudah basi.

nasi berkat wonogiri
Menu sego atau nasi berkat di angkringan milik Bambang Tri di Baturetno, Wonogiri, (Istimewa)

Hal itu disebabkan nasi dibungkus dengan daun jati. Sejak nasi berkat populer akhir-akhir ini, saudara dan teman Tri belajar kepada dirinya untuk membuat nasi berkat. Saudaranya berasal dari Solo. Sedangkan temannya berasal dari Karanganyar dan Malang.

“Mereka ke sini kemudian saya ajari membuat nasi berkat. Saudara dan teman saya itu mau pensiun dari pekerjaan mereka, kemudian mau buka usaha nasi berkat,” ujar dia.

Viral Goweser Berfoto di Beton Pemecah Arus, Pengelola Dam Colo Nguter Sukoharjo: Itu Bahaya!

Tri ikut senang dengan kian populernya nasi berkat akhir-akhir ini termasuk di Wonogiri. Ia senang orang lain juga ikut berkembang. Selain itu nasi khas hajatan tersebut bisa tetap dinikmati meski tidak ada orang yang menyelenggarakan hajatan.

Tri menambahkan saat masih kecil ia dan temannya sangat senang ketika menunggu orang tuanya pulang dari hajatan. “Dulu makan dengan teman itu segar sekali. Apalagi bungkusnya daun jati,” kata Tri.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom