Anggota DPR Dari Jateng Ini Khawatir Pembelajaran Daring Bikin Kualitas Generasi Muda Turun
Wakil Ketua Komisi X DPR, Agustina Wilujeng Pramestuti (kiri), saat mengisi Workshop Pendidikan Upaya Peningkatan Kualitas Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 di Lor In Hotel, Colomadu, Karanganyar, Rabu (21/10/2020) siang. (Solopos/Kurniawan)

Solopos.com, SOLO -- Wakil Ketua Komisi X DPR, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai dampak pembelajaran daring terhadap kualitas generasi muda bangsa.

Apalagi ia menilai proses pembelajaran virtual atau daring selama masa pandemi Covid-19 kurang optimal dalam membentuk dan mengembangkan potensi siswa.

Hal itu mengancam kualitas ilmu pengetahuan, mentalitas, dan spiritualitas generasi penerus bangsa. Agustina Wilujeng menyampaikan hal tersebut saat wawancara dengan wartawan di sela Workshop Pendidikan Upaya Peningkatan Kualitas Mutu Pendidikan Masa Pandemi Covid-19 di Hotel Lor In Solo, Rabu (21/10/2020).

Jembatan Flyover Purwosari Solo Sudah Tersambung Sepenuhnya, Kapan Bisa Dilewati?

“Ini ancaman untuk kualitas pengetahuan, mental, dan spiritual generasi penerus kita. Bayangkan, dalam satu hari menghabiskan waktu bersama. Tapi isi pembelajaran ada yang kurang. Guru-guru tidak bisa meneladankan secara optimal karena proses pembelajaran daring tak ada sentuhan, tatap mata, dan sebagainya,” tuturnya.

Agustina menilai perlu adanya proses pemulihan pendidikan kepada para siswa pascapandemi Covid-19. Tahapan itu untuk menutup kekurangan dari proses belajar mengajar secara virtual semasa pandemi.

“Sentuhan kasih sayang, tatap mata dari guru dan teman-teman akan mendewasakan anak-anak hingga matang,” tuturnya.

Politikus PDIP itu meminta semua pihak untuk bersabar menunggu masa pandemi Covid-19 berakhir. Sebelum pandemi selesai masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan dan pembelajaran daring.

Empat Tahap Pendidikan

Protokol kesehatan itu mulai dari memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan memakai sabun. Dengan begitu bisa mencegah persebaran Covid-19.

“Saya memantau pembelajaran jarak jauh, sebagian besar guru dan lembaga atau perkumpulan guru berharap segera ada pembelajaran tatap muka. Tapi kan tidak mungkin. Yang mungkin saat ini bagaimana membuat lingkaran unsur pendidikan seperti guru, siswa dan orang tua, bebas dari Covid-19. Bila pandemi berakhir baru tatap muka,”ujarnya.

Cawawali Solo Teguh Prakosa Sempat Kampanye Di Rumah Keluarga Wanita Terbakar Dalam Mobil Sukoharjo

Lebih jauh, Agustina menerangkan proses belajar menurut Unicef ada empat tahapan penting yaitu how to know, how to do, how to be dan how to life together. Semuanya tidak bisa maksimal dengan pembelajaran daring.

Tahap how to know berlangsung untuk siswa sekolah dasar (SD), sedangkan tahap how to do terjadi pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP), dan how to be untuk siswa sekolah menengah atas.

“Dari empat tahapan ini pembelajaran virtual hanya bisa pada fase how to know yang mana tahap sekolah dasar. Sedangkan jenjang SMP sudah tahap how to do, SMA how to be, dan kuliah how to life together. Ketika ada anak sedih, apakah bisa terobati dengan pembelajaran virtual? Tidak bisa, butuh sentuhan dan tatapan langsung,” terangnya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom