Kategori: Internasional

Afsel Bingung Kasus Infeksi Covid-19 Tak Sebanyak yang Diperkirakan


Solopos.com/Newswire

Solopos.com, JOHANNESBURG - Afrika Selatan mengalami situasi membingungkan kala terjadi penurunan tajam tingkat infeksi harian akibat virus corona. Padahal, pemerintah Afsel telah menyiapkan segala sesuatu mengantisipasi meledaknya jumlah pasien virus corona Covid-19.

Dalam dua pekan terakhir, dokter-dokter dan para pejabat kesehatan di Afrika Selatan menghadapi situasi tak terduga. Semua telah dipersiapkan tempat tidur, bangsal khusus, peralatan medis dan ambulans. Semua operasi yang tidak mendesak juga sudah ditunda atau dijadwal ulang.

Pencurian Kabel Telkom di Plasa Klaten, 4 Oknum Anggota TNI dan 10 Warga Diringkus

Protokol kesehatan sudah disepakati dan selama beberapa pekan para pekerja kesehatan melakukan latihan menghadapi berbagai skenario wabah. Namun, hingga hari Senin (13/4/2020), apa yang digambarkan sebagai "tsunami infeksi", seperti yang diperingatkan oleh sejumlah pakar, tidak menjadi kenyataan.

"Memang aneh sekali situasinya. Misterius. Kami tak tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Dr Evan Shoul, pakar penyakit menular di Johannesburg.

Tom Boyles, dokter ahli penyakit menular di Rumah Sakit Helen Joseph, salah satu pusat kesehatan terbesar di Johannesburg, mengatakan ia dan dokter-dokter lain masih bingung dengan angka penurunan infeksi virus corona. "Kami sudah menyiapkan semuanya. Tapi yang kami khawatirkan tidak terjadi. Aneh sekali," kata Boyles.

Pandemi Corona Global: Amerika Serikat Nomor 1, Indonesia Peringkat...

Prediksi Covid-19 Afsel Meleset

Meski demikian, para pakar kesehatan memperingatkan terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa angka infeksi harian memang menurun. Selain itu, para pakar juga mengatakan tren penurunan bisa mendorong para pekerja kesehatan menjadi "lebih santai", sikap yang harus dihindari.

Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan penurunan angka infeksi harian disebabkan oleh pembatasan sosial dan telah memutuskan untuk memperluas pembatasan tersebut.

Tadinya pembatasan tersebut akan berakhir pada pekan ini namun diperpanjang hingga akhir April. Yang menjadi pertanyaan adalah, negara-negara lain juga menerapkan pembatasan, tapi mengapa hasilnya lain?

Rapid Test Sragen, Bocah 7 Tahun dan Bayi 1 Tahun Positif Covid-19

Kasus pertama virus corona di Afrika Selatan dikonfirmasi sekitar lima pekan lalu dan sejak tanggal 28 kurva yang mencatat jumlah infeksi baru terus menanjak, tren yang juga terlihat di banyak negara lain.

Namun sejak Sabtu dua pekan lalu, tiba-tiba kurvanya turun tajam: dari 243 kasus baru menjadi hanya 17. Sejak itu, jumlah infeksi baru hanya berkisar 50 per hari.

Pada akhir pekan lalu, Presiden Ramaphosa mengatakan masih terlalu awal untuk mendapatkan jawaban yang definitif. Namun ia juga mengatakan, sejak kebijakan karantina wilayah diterapkan, jumlah infeksi baru per hari turun dari 42% "menjadi hanya 4%".

Berkurang Satu, Tinggal 4 Kelurahan di Kota Solo yang Bersih Corona

Data Covid-19 Afsel

Precious Matotso, pejabat yang memonitor pandemi di Afrika Selatan untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan masih diperlukan data yang lebih komplit untuk mengambil keputusan.

"Saya kira, semakin banyak orang yang dites, semakin jelas apakah memang seperti ini situasinya. Kita belum mendapatkan angka yang definitif sejauh ini," kata Matotso.

Stavros Nicolaou, pengusaha yang bergerak di bidang layanan kesehatan di Afrika Selatan, juga berpendapat masih terlalu awal untuk mengambil kesimpulan.

"Memang ada tanda-tanda yang positif. Namun kekhawatiran saya adalah karena data yang terbatas itu, orang-orang merasa puas [dan mengendurkan kerja]," kata Nicolau.

Pandemi Corona, Lelang Master Plan Ibu Kota Baru Jalan Terus

Selagi jawaban yang definitif masih di cari, berbagai rumah sakit belum menerima lonjakan pasien virus corona, terutama pasien yang mengeluhkan infeksi saluran pernafasan.

Salah satu teori yang berkembang adalah warga Afrika Selatan punya kekebalan tambahan atas virus ini. Beberapa pihak berargumen ini mungkin didapat karena setiap warga harus mendapatkan vaksin tuberculosis. Juga mungkin disebabkan oleh fakta bahwa ada orang-orang yang mendapatkan perawatan antiretroviral.

Sejumlah pakar mengatakan mungkin yang terjadi saat ini adalah jeda wabah. Yang menjadi kekhawatiran tentu saja adalah masih akan terjadi peningkatan angka infeksi di waktu ke depan.

Update Corona 14 April 2020: 4.839 Kasus Positif di Indonesia, 10.000-an PDP, 100.000 Lebih Jadi ODP

Selain itu, beberapa pihak mengkhawatirkan kapasitas kesehatan dalam menampung pasien, yang mereka katakan terlalu menggantungkan pada klinik-klinik swasta.

Share
Dipublikasikan oleh
Jafar Sodiq Assegaf