Waspada! Sudah 10 Warga Gunungkidul Diduga Terjangkit Antraks

Sebanyak 10 warga Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diduga terjangkit penyakit antraks karena mengonsumsi daging sapi yang sudah mati.

 Ilustrasi pembakaran daging sapi yang terjangkit antraks. (Dok. Solopos.com)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pembakaran daging sapi yang terjangkit antraks. (Dok. Solopos.com)

Solopos.com, GUNUNGKIDUL — Sebanyak 10 orang warga Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, diduga terjangkit antraks. Sampel dari 10 warga itu pun saat ini telah diuji di laboratorium.

Lurah Hargomulyo, Sumaryanta, membenarkan informasi terkait indikasi warganya terjangkit antraks. Dugaan itu muncul setelah 10 warga itu mengonsumsi sapi yang mati karena terserang penyakit.

PromosiWaduk Gajah Mungkur Tenggelamkan Rel Kereta Api Wonogiri-Baturetno

Peristiwa itu, lanjut Sumaryanta terjadi pada Kamis (19/1/2022). Kala itu, ada sapi milik warga yang mati mendadak. Kemudian, warga desa pun menggalang donasi atau iuran masing-masing Rp100.000 untuk diberikan kepada pemilik sapi, sebagai ganti rugi.

Baca juga: Keterlaluan! Pemuda Gunungkidul Bikin Video Porno Anak di Bawah Umur

Setelah itu, daging sapi yang mati itu pun dibagikan kepada warga yang membayar iuran. “Istilahnya dibrandu, yakni memberikan uang kepada pemilik sebagai pengganti. Kemudian, daging sapi dibagikan ke warga yang ikut iuran,” kata Sumaryanta.

Menurut dia, ada 30 warga yang telah mengonsumsi daging sapi yang terjangkit penyakit itu. Dari jumlah tersebut, 10 orang di antaranya mengalami gejala seperti penyakit antraks mulai dari meriang hingga bagian tangan melepuh karena luka.

“Sudah diberikan penanganan dan sudah diambil sampel untuk kepastian penyakit yang diderita,” katanya.

Selain pengambilan sampel untuk uji laboratorium, sisa daging yang belum diolah juga sudah dimusnahkan dengan cara dibakar. “Kami berharap kepada warga yang mengalami gejala segera ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan,” katanya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan, dan Kesehatan Gunungkidul, Retno Widyastuti, membenarkan adanya dugaan wabah antraks yang menyerang warga di Kapanewon Gedangsari. Meski demikian, hingga saat ini belum bisa dipastikan karena masih menunggu hasil uji laboratorium.

“Hasil pengujian sampel belum keluar,” katanya.

Baca juga: 300 Sapi di Gondangrejo Karanganyar Divaksin Antraks, Wilayah Lain Kapan?

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Abdul Azis, mengatakan penanganan kasus tersebut sudah dilakukan dengan memberikan obat-obatan kepada warga yang bergejala. Selain itu, pihaknya juga telah melakukan pelacakan kasus untuk mengurangi risiko persebaran penyakit diduga antraks tersebut.

“Memang untuk kepastian masih menunggu hasil uji laboratorium. Tapi, upaya penanggulangan juga sudah dilakukan,” katanya.

Azis mengatakan kasus antraks sudah berulangkali muncul di Gunungkidul. Kasus serupa pernah muncul di Kapanewon Bejiharjo, Karangmojo, Gombang, dan Ponjong. Azis mengungkapkan, dugaan kasus di Hargomulyo hampir sama dengan penyebaran di Kalurahan Gombang. Yakni, adanya tradisi brandu yang masih berkembang di masyarakat.

Menurut dia, tradisi brandu sangat berbahaya karena berpotensi menularkan penyakit hewan ke manusia. “Seharusnya hewan mati mendadak harus dikubur dan bukan dibagi-bagikan ke warga. Dalam agama juga sudah jelas, ada larangan memakan bangkai hewan,” katanya.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Berita Terkini

Tenggak Miras Oplosan, 3 Warga Sleman Tewas

Tiga warga Sleman tewas setelah menenggak minuman keras oplosan.

Masih Siaga! Selama 6 Jam, Gunung Merapi Keluarkan Lava Pijar 10 Kali

Gunung Merapi tercatat mengeluarkan guguran lava pijar sebanyak 10 kali selama periode pengamatan Kamis (19/5/2022) pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB.

Rumah Tempat Syuting Film KKN Desa Penari Kini Kosong, Angker Gak?

Beberapa rumah yang menjadi lokasi tempat syuting film KKN Desa Penari di Gunung Kidul, DIY.

Bakpia Kukus Dinggap Bukan Kuliner Khas Jogja, Sepakat?

Bakpia kukus dianggap bukan termasuk kuliner khas Jogja, mengapa demikian?

Terbentur Aturan Usia, 27 Lansia Asal Sleman Batal Berangkat Haji

Sebanyak 27 calon haji asal Kabupaten Sleman tidak bisa diberangkatkan ke Tanah Suci pada tahun ini karena terkendala aturan batas umur dari pemerintah Arab Saudi.

1,2 Juta Pekerja di Yogyakarta Belum Terkover BPJS Ketenagakerjaan

Jumlah pekerja informasi maupun formal di DI Yogyakarta yang belum terkover BPJS Ketenagakerjaan mencapai 1,2 juta orang.

Kenapa di Jogja Tidak Ada Angkot? Ini Alasannya

Jumlah angkot yang beroperasi di Jogja setiap tahun mengalami penurunan.

Jadi Tempat Syuting KKN di Desa Penari, Warga Ketiban Rezeki Nomplok

Warga di Ngluweng, Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul, seperti ketiban rezeki nomplok saat kampung mereka dijadikan lokasi syuting film KKN di Desa Penari.

Bermodus Ajak Usaha Rental Mobil, Pria Ini Tipu Temannya Rp50 Juta

Seorang pria di Kulonprogo tipu temannya sendiri dengan modus mengajak usaha bersama di bidang rental mobil.

Lokasi Syuting Film KKN di Desa Penari Ternyata di Gunungkidul

Tempat syuting film KKN di Desa Penari ternyata di Ngluweng, Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul.

Bus Rombongan Takziah Kecelakaan di Sleman, 1 MD & 26 Orang Luka-Luka

Bus rombongan takziah mengalami kecelakaan di Ring Road Utara, Kalurahan Baturaden, Kapanewon Gamping, Sleman, dan menyebabkan seorang penumpang meninggal.

Pemerintah Kota Jogja Siap Longgarkan Penggunaan Masker

Pemerintah Kota Jogja siap melonggarkan atau memberikan kebebasan bagi warganya untuk menggunakan masker di tempat terbuka.

Ngawur! Puluhan Spanduk Ilegal dan Membahayakan di Bantul Dibongkar

Puluhan spanduk yang dipasang secara ilegal di sejumlah titik di Kabupaten Bantul ditertibkan.

TPA Gunungkidul Menggunung, Setiap Hari Sampah yang Masuk Capai 50 Ton

Volume sampah yang masuk di Tempat Pembuanagn Akhir (TPA) sampah Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, mencapai 50 ton per hari.

Awas! Gelombang Tinggi & Banjir Rob Landa Pantai Bantul Hingga 20 Mei

Masyarakat dimina mewaspadai potensi banjir rob dan gelombang tinggi di pantai Bantul hingga 20 Mei 2022.