Seorang petani, Semen, hendak pulang setelah merawat tanaman padinya yang ada di lahan kering Waduk Dawuhan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jumat (13/9/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN -- Musim kemarau bagi sebagian orang adalah berkah yang patut disyukuri. Seperti sejumlah petani di sekitar Waduk Dawuhan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun.

Saat musim kemarau seperti sekarang, sejumlah petani di sekitar waduk baru justru bisa bercocok tanam. Mereka memanfaatkan lahan waduk yang kering untuk ditanami padi.

Seperti yang dilakukan Semen, 69, warga Dusun Dawuhan, Desa Sidomulyo. Petani tua ini memanfaatkan lahan waduk yang mengering untuk bertani. Kegiatan bertani di waduk yang kering ini sudah dilakoninya bertahun-tahun.

Baca Juga:

Setiap Tahun 1% Lahan Pertanian Di Madiun Beralih Fungsi

PERTANIAN MADIUN : Ini Alasan Petani Madiun Tak Tertarik Ikut Program Asuransi Tani 

Dia mengaku hanya bisa bertanam padi saat musim kemarau. Begitu masuk musim pemghujan, Waduk Dawuhan penuh air, ia kembali berdagang sayur di pasar.

"Saya tidak punya sawah. Saat air waduk penuh, saya ya berjualan sayur di pasar. Saya bertani saat musim kemarau saja," katanya saat berbincang dengan Madiunpos.com seusai merawat tanaman padinya di Waduk Dawuhan, Jumat (13/9/2019) petang.

Petani musiman di Waduk Dawuhan ini tidak hanya Semen, tetapi ada sekitar 50 orang. Lahan waduk yang mengering saat musim kemarau luasnya mencapai 3 hektare.

Lahan kering ini kemudian dibagi kepada petani-petani yang mau menggarap lahan tersebut. "Kalau saya dapat tiga kotak," kata Semen.

Untuk kebutuhan pengairan, ia mengaku tidak perlu bingung karena lokasi tanamnya masih ada sumber air. Berbeda dengan areal persawahan yang ada di luar waduk yang kini kekurangan air.

Petugas penjaga Waduk Dawuhan, Sutono, mengatakan kedalaman air di waduk hanya tinggal 2,5 meter. Sebagian besar mengering.

Air Waduk Dawuhan mulai surut sejak Juli 2019. Lambat laun air yang semula mmenuhi waduk kini habis dan mengering.

Waduk yang pengelolaannya di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo ini, kata Sutono, berfungsi untuk mengairi persawahan di sebagian wilayah Kabupaten Madiun. Namun, saat musim kemarau seperti sekarang, air irigasi disetop. Hal ini karena volume air sudah semakin habis.

Irigasi pertanian dari waduk ini telah dihentikan sejak 11 September lalu. "Saat ini sudah tidak dialirkan lagi ke saluran irigasi petani. Soalnya air yang ada sudah dalam batasan minimal. Saat kedalaman air tinggal 2,5 meter, tidak boleh dikeluarkan. Ini juga untuk menjaga kondisi alat supaya tidak rusak," jelas dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten