Kategori: Leisure

Waduh! Stunting dan Obesitas Masih Jadi Masalah Indonesia


Solopos.com/Astrid Prihatini WD/Newswire

Solopos.com, JAKARTA-Stunting dan obesitas masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Hal itu dikhawatirkan bisa berdampak pada anggaran kesehatan Indonesia.

Simak ulasan stunting dan obesitas di Indonesia dalam ulasan tips kesehatan kali ini. Menurut Riskesdas 2018, kekurangan gizi makro seperti stunting (pendek) dan wasting (kurus) pada anak balita masih tinggi yaitu masing-masing sebesar 30,8 persen dan 10,2 persen. Selain itu, kekurangan zat gizi mikro seperti anemia juga masih tinggi. Data menunjukkan bahwa satu dari dua ibu hamil mengalami anemia (48%).

Berdasarkan Global Nutrition Report pada 2018 menunjukkan prevalensi stunting Indonesia dari 132 negara berada pada peringkat ke-108, sedangkan di kawasan Asia Tenggara, prevalensi stunting Indonesia tertinggi ke dua setelah Kamboja.

Baca Juga: Lakukan Diet Sehat, Pilih Tempe atau Tahu?

“Angka ini tentunya sangat mengkhawatirkan, mengingat sumber daya paling berharga bagi suatu negara adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Masa depan bangsa kita berada di tangan 79,55 juta anak Indonesia (BPS, 2019). Maka, dapat kita bayangkan pentingnya pemenuhan hak anak kita saat ini demi kualitas sumber daya di masa depan. Adapun beberapa faktor penyebab stunting yaitu akibat praktek pengasuhan yang kurang baik, masih terbatasnya layanan kesehatan, masih kurangnya akses keluarga terhadap makanan bergizi, kurangnya akses pada air bersih dan sanitasi. Untuk itu, seluruh pihak harus mengoptimalkan perbaikan gizi demi memastikan pemenuhan gizi seimbang bagi anak,” ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, dalam Webinar Kata Data Regional Summit dengan tema Strategi Mencegah Stunting di Tengah Pandemi seperti dikutip dari kemenppa.go.id.

Presiden Joko Widodo menginstruksikan bahwa pembangunan SDM, termasuk anak merupakan fokus pembangunan pada 2024. Oleh karena itu, menjadi kewajiban seluruh pihak untuk memperhatikan tumbuh kembang anak, mulai sejak dalam kandungan, bayi, sampai mereka memasuki masa emas.

Menteri Bintang menegaskan perlunya membangkitkan kesadaran semua pihak akan pentingnya pencegahan stunting, apalagi dengan adanya bencana non-alam pandemi Covid-19. “Hal ini menjadi momentum tepat untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), sejalan dengan upaya mewujudkan pemulihan kesehatan dan pemerataan yang berkelanjutan,” ujar Menteri Bintang.

Baca Juga: Jadi Serial Drama Terbaik Golden Globe, Ini Fakta "The Crown"

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, angka stunting nasional mengalami penurunan dari 37,2 % pada 2013 menjadi 30,8 % pada 2018. Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019, angka ini menurun menjadi 27,7 %. Penurunan angka stunting telah dinyatakan sebagai program prioritas nasional. Saat ini, Pemerintah terus bergerak menata perangkat pelaksanaan percepatan pencegahan stunting dan menyusun Strategi Nasional (Stranas) Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) 2018-2024. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, juga menetapkan target angka stunting nasional agar bisa turun mencapai 14 %.

Baca Juga: Wah Keren! 4 Artis K-Pop Ini Taat Bayar Pajak Loh

Bukan hanya stunting, obesitas juga jadi masalah di negeri ini. Dikutip dari Bisnis.com, Jumat (5/3/2021), Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan,  Dhian Dipo,  memaparkan saat ini Indonesia mengalami beban ganda mengenai masalah gizi. Di satu sisi Indonesia menghadapi masalah berupa kekurangan gizi yaitu stunting (kerdil) dan wasting (kurus). Di sisi lain, Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan gizi lebih (obesitas) terutama pada usia dewasa, baik pada pria maupun wanita dengan prevalensi obesitas pada wanita lebih tinggi dari pria.

Ilustrasi obesitas (Freepik)

Data menunjukkan bahwa tingkat obesitas pada orang dewasa meningkat dari 14,8 persen menjadi 21,8 persen dan prevalensi berat badan berlebih juga meningkat dari 11,5 persen di 2013 ke 13,6 persen di 2018. Kondisi pandemi saat ini menghadirkan tantangan tersendiri karena adanya perubahan gaya hidup dan kondisi lingkungan.

Pembatasan aktivitas keluar rumah yang dibarengi dengan peningkatan waktu berada di depan gadget, menyebabkan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan konsumsi makanan, terutama makanan siap saji dan pangan olahan yang dipesan secara online. Kondisi ini dapat menjadi faktor risiko terjadinya obesitas, yang kedepannya dapat berdampak pada peningkatan penyakit tidak menular dan beban ekonomi negara.

Ketua PERSADIA Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Mardi Santoso, mengatakan orang yang kelebihan berat badan dan obesitas memiliki risiko prediabetes dan diabetes, penelitian di beberapa negara ada sekitar 47% sampai dengan 90% penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah kelebihan berat badan atau obesitas.

 

Share
Dipublikasikan oleh
Astrid Prihatini WD