Umbul Ponggok Disiapkan untuk Wisata Kuliner Malam, Begini Konsepnya

Saat ini terdapat empat personel dari tim SAR yang bersiaga untuk meningkatkan keamanan pengunjung di Umbul Ponggok mengingat kedalaman air kolam ada yang mencapai 2,7 meter.

 Suasana Umbul Ponggok saat dinikmati dari lantai II tempat pengunjung, Sabtu (14/5/2022). (Solopos.com/Fahmi Ghiffari)

SOLOPOS.COM - Suasana Umbul Ponggok saat dinikmati dari lantai II tempat pengunjung, Sabtu (14/5/2022). (Solopos.com/Fahmi Ghiffari)

Solopos.com, Klaten – Pada libur panjang, Sabtu-Senin (14-16/5/2022), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri selaku pengelola Taman Rekreasi Air Umbul Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, terus fokus terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes) dan keamanan penunjung.

BUMDes Tirta Mandiri juga sedang mempersiapkan wisata kuliner malam di kawasan Umbul Ponggok. Kepala Divisi Wisata BUMDes Tirta Mandiri, Suryantoko, mengatakan saat ini ada empat personel dari tim search and rescue (SAR) dengan tujuan meningkatkan keamanan pengunjung di Umbul Ponggok mengingat kedalaman air kolam ada yang mencapai 2,7 meter.

PromosiFajar Kebangkitan Industri Penerbangan Makin Terang

“Untuk fasilitas direncanakan ada beberapa tambahan seperti smaco, yaitu alat selam portable dan inshaallah akan ada tambahan properti untuk wahana underwater,” kata Suryantoko saat ditemui Solopos.com, Sabtu (14/5/2022).

Suryantoko mengungkapkan pada 2022, pengelola Umbul Ponggok direncanakan membuka wisata kuliner malam, nantinya lantai II tempat pengunjung Umbul Ponggok akan disulap menjadi kafe.

“Jadi nanti pengunjung bisa makan sambil menikmati suasana Umbul Ponggok dari atas,” kata dia.

Baca Juga: Disdik Klaten Imbau Sekolah Tidak Gelar Studi Wisata ke Luar Daerah

Nantinya wisata kuliner malam akan dijadwalkan buka mulai pukul 16:00 WIB setelah Umbul Ponggok tutup.

Ketenaran Umbul Ponggok sendiri sudah dikenal luas, tidak sedikit pengunjung yang merasa takjub dengan keindahan Umbul Ponggok.

Baca Juga: Relokasi PKL Alun-Alun Klaten, Ini Tanggapan PKL Jl. Bali

Salah seorang pengunjung asal Cirebon, Agung Gumelar, mengatakan sudah tahu informasi mengenai Umbul Ponggok pada 2014. Ia merasa takjub dengan fasilitas yang ada di Umbul Ponggok terutama wahana underwater.

“Barang-barang yang biasanya bukan di dalam air ada di dalam air, takjub lah mas,” kata Agung.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Fakta Tak Sehijau Kata-Kata, Greenwashing Jadi Arus Besar Perbankan

+ PLUS Fakta Tak Sehijau Kata-Kata, Greenwashing Jadi Arus Besar Perbankan

Lembaga keuangan nasional dan global masih berdiri dua kaki. Membiayai sektor energi kotor dan perusak lingkungan sekaligus membiayai sektor energi bersih. Komitmen green financing belum optimal, justru greenwashing yang menguat.

Berita Terkini

Jukir CFD Diduga Ngepruk, Ini Tarif Parkir Resmi Kota Solo Sesuai Perda

Ketentuan mengenai besaran tarif resmi parkir berbagai jenis kendaraan di Kota Solo diatur dalam Perda No 1/2013 tentang Penyelenggaraan Perhubungan.

Sosok Mantan Bupati Wonogiri Oemarsono yang Menginspirasi, Ini Kisahnya

Mantan Bupati Wonogiri periode 1985-1995, Oemarsono, dikenal sebagai sosok yang menginspirasi warga setempat menjadi PNS itu telah meninggal dunia pada Minggu (22/5/2022).

Tugu Tapal Batas Keraton Surakarta di Cawas Klaten Tak Terawat, tapi...

Di Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Klaten, Jawa Tengah terdapat tugu tapal batas Keraton Surakarta.

Catat Jadwal Konser Andika Kangen Band di Sragen Biar Ga Ketinggalan

Pemkab Sragen memastikan konser musik Kangen Band dalam rangka hari jadi ke-276 Sragen akan terbuka untuk umum dan cuma-cuma.

Ini Deretan Wisata yang Dibangun Pemilik "Istana Negara" di Wonogiri

Pengusaha tajir asal Wonogiri, Suparno dikenal memiliki "Istana Negara". Selain bangunan unik itu, ternyata Suparno juga memiliki deretan objek wisata lainnya di Wonogiri.

Kenapa di Boyolali Banyak Terdapat Sapi? Ini Jawabannya

Kota Susu adalah julukan dari Kabupaten Boyolali yang lokasinya di kaki sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Kisah Wanita-Wanita Pemetik Daun Teh Kemuning, Upahnya Rp700 Per Kg

Sebagai besar buruh pemetik daun teh di Desa Kemunging, Ngargoyoso, Karanganyar adalah dari kalangan wanita dan berusia lanjut. Sehari rata-rata mereka memetik 25 kg daun teh.

2 Menteri Jokowi Ini Diam-Diam Telah Blusukan ke Klaten, Ada Apa Ya?

Sebanyak dua menteri di era Presiden Joko Widodo alias Jokowi diam-diam blusukan ke Klaten dalam waktu kurang dari satu pekan terakhir.

Sejarah Pabrik Teh Kemuning, Awalnya Didirikan 2 Warga Belanda

Pabrik teh pertama di Desa Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar didirikan oleh dua bersaudara asal Belanda, Van Mander Voot. Dalam perjalanannya, pabrik dan perkebunan tehnya bergonta-ganti kepemilikan.

BPCB Jateng: Penjebolan Tembok Keraton Kartasura Masuk Tindak Pidana

Acara gelar perkara tersebut dihadiri oleh PPNS BPCB Jawa Tengah, Kepala BPCB Jawa Tengah dan Korwas Polda Jawa Tengah yang usai sekitar pukul 13.20 WIB.

Beda Cara Pengolahan, Beda Jenis Teh yang Dihasilkan

Ditentukan cara pengolahannya, teh secara umum dibagi menjadi empat jenis yakni teh hitam, teh hijau, teh oolong dan teh putih.

Petani Klaten Pernah Coba-Coba Tanam Kacang Hijau, Hasilnya Mengagetkan

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan swasembada kedelai pada 2026. Di sisi lain, Sejumlah petani masih menyimpan keresahan di tengah pemerintah menggenjot produktivitas kedelai.

Mbok Karti, Pelopor Penjual Teh Tradisional di Kemuning Ngasgoyoso

UMKM teh rumaha di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, baru berkembang signifikan dalam 10 tahun terakhir. Usaha ini dipelopori seorang wanita yang dikenal dengan nama Mbok Karti.

Sempat Tutup 2 Tahun Saat Pandemi, Begini Kondisi Umbul Susuhan Klaten

Pengunjung di tempat pemandian Umbul Susuhan di Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menurun drastis selama pandemi Covid-19.

Aksi Gladiator Rampokan Macan, Satu Penyebab Punahnya Harimau Jawa

Aksi pertarungan antara manusia dengan hewan sebagai tontonan publik layaknya gladiator pernah berlangsung di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20, berjuluk Rampokan Macan yang diduga menjadi salah satu penyebab menyusutnya populasi hingga punahnya harimau Jawa.