Tokoh-tokoh agama Hindu menyiramkan air dari kendi ke lingga dan yoni di situs Watu Genuk dalam acara Murwa Candhika/ritual bersih candi, Sabtu (16/11/2019). (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Pemerintah Desa (Pemdes) Kragilan, Kecamatan Boyolali, Boyolali, berencana mengakuisisi tanah di lingkungan situs Candi Watu Genuk di desa setempat dari kepemilikan pribadi menjadi tanah kas desa.

Rencananya Pemdes akan membeli tanah tersebut tahun depan.

Kepala Desa Kragilan, Dedi Saryawan, mengatakan Pemerintah Desa akan menggunakan dana dari hasil tukar guling tanah kas terdampak pembangunan Alun-alun Lor Boyolali beberapa tahun lalu. Dana tersebut ditaksir senilai kurang lebih Rp4 miliar.

“Nanti setelah semua dana cair sebagian akan kami gunakan untuk membeli tanah yang ditempati situs Watugenuk, sebagian lagi kami belikan tanah kas di tempat lain,” ujar Dedi ketika berbincang dengan solopos.com, Sabtu (16/11/2019).

Lebih lanjut Kades menerangkan rencananya pemerintah desa akan membeli 2000-an m2 tanah termasuk lingkungan sekitar situs. Sementara situs Watu Genuk hanya menempati lahan seluas kira-kira 1.200 m2.

Kini tanah itu masih dimiliki Paidi, seorang warga yang juga tinggal di Kragilan. Kendati demikian, Pemdes belum melakukan lobi untuk menentukan kesepakatan harga dengan pemilik tanah.

Rencananya setelah tanah diakuisisi menjadi milik desa, program kebudayaan akan menjadi agenda rutin tiap tahun. Pemerintah desa akan menganggarkan dana khusus untuk festival budaya yang rencananya rutin digelar tiap tahun.

Sebelumnya, kegiatan pelestarian cagar budaya berbasis masyarakat dimulai dengan Murwa Chandika. Kegiatan yang diinisiasi sejumlah komunitas pecinta cagar budaya ini dilakukan dengan pembersihan candi menggunakan sembilan sumber mata air/sumber songo.

Sesepuh sekaligus tokoh agama Hindu di Kragilan, Sumastopo berharap kegiatan kebudayaan bisa dilakukan secara rutin di situs Watu Genuk yang merupakan peninggalan kebudayaan Hindu itu.

“Kegiatan kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang tampak tetapi juga menghormati yang tidak tampak,” urai Sumastopo yang juga aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Boyolali itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten