Takut Nyadran Karena Corona, Pedagang Bunga Tabur Sukoharjo Sepi Pembeli
Pedagang bunga tabur di kawasan Pasar Ir Soekarno, Sukoharjo mengeluhkan sepi pembeli karena Corona. Omset penjualannya anjlok hingga 70 persen dibanding Lebaran tahun lalu. Foto diambil Senin (25/5/2020). (Espos/Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Momentum Lebaran biasanya menjadi berkah bagi pedagang musiman bunga tabur di Kabupaten Sukoharjo. Namun, Lebaran kali ini para pedagang mengeluh sepi pembeli hingga pendapatan anjlok 70 persen dibanding momentum Idulfitri tahun lalu.

Pedagang musiman bunga tabur di Pasar Ir Soekarno, Widyasrini, mengatakan sepinya pembeli mulai dirasakan sejak sepekan menjelang Ramadan. Biasanya masyarakat melakukan ritual nyadran ke makam saudara atau keluarga menjelang Ramadan. Begitu pula seusai Salat Idulfitri atau Salat Id juga melaksanakan ritual nyekar ke makam keluarga.

"Sejak sebelum puasa sudah sepi sampai sekarang," keluh dia saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (25/5/2020).

Round Up Covid-19 Wonogiri: PDP dan Positif Tinggal 1 Orang

Dia menyebut sepinya pembeli karena kebijakan pemerintah terkait larangan mudik saat Lebaran karena pandemi Covid-19. Belum lagi selama pandemi Covid-19, aktivitas warga dibatasi seperti diimbau tetap di rumah.

Kondisi ini memukul para pedagang musiman bunga tabur di Sukoharjo. Momentum Lebaran yang mestinya menjadi berkah, namun pedagang harus gigit jari.

Pendapatan Anjlok 70 Persen

Sepinya pembeli juga dirasakan pedagang bunga tabur di Sukoharjo lainnya, Parmi. Ia mengeluhkan omset penjualan anjlok hingga 70 persen dibanding tahun lalu. Dia mengatakan penyebaran virus corona sangat terasa dampaknya bagi pedagang bunga tabur.

Sebab, sepinya pembeli dipicu ketakutan masyarakat. Selain itu adanya larangan kerumunan massa sehingga para peziarah di tempat pemakaman umum juga ikut sepi. "Pembeli sangat sepi," ujarnya.

Viral! Ditelepon Bupati Klaten, Mbah Minto Malah Menangis, Ada Apa?

Sepinya pembeli berdampak pada anjloknya harga bunga tabur pada momen nyadran. Apabila menjelang hingga Lebaran tahun lalu satu wadah berukuran kecil bisa laku Rp15.000 maka sekarang hanya Rp5.000. Sedangkan wadah besar Rp30.000 sekarang hanya Rp10.000.

Bahkan dalam sehari omzet penjualannya dulu bisa Rp1 juta, namun kini maksimal Rp200.000. "Pernah sehari hanya dapat Rp40.000. Tapi saya tetap bersyukur, memang kondisinya lagi seperti ini," katanya.

Ajloknya harga membuat pedagang di Sukoharjo ini tidak berani mengambil stok bunga tabur dalam jumlah banyak dari petani. Sebab, bunga tabur yang tidak laku akan kering dan rusak sehingga tidak bisa dijual lagi.

"Kami sangat prihatin dengan kondisi sekarang karena sepi pembeli. Tradisi nyadran yang setiap tahun selalu ramai sekarang sangat sepi karena Corona," tuturnya.

Hari Pertama Lebaran, Tak Ada Pemudik Turun di Terminal Klaten


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho