Survei PGRI: Anak-anak Ingin Kembali Sekolah, Orang Tua Cemas
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi dan Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) Pengurus Besar (PB) PGRI Ahmad Wahyudi memberikan keterangan di Mapolres Sleman, Kamis (27/2/2020). (Harian Jogja-Hafit Yudi Suprobo)

Solopos.com, JAKARTA -- Persatuan Guru Repulik Indonesia atau PGRI melakukan survei terhadap rencana pembukaan sekolah pada tahun ajaran mendatang. Hasilnya, anak-anak berharap kembali bersekolah, sedangkan orang tua mengaku cemas.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Prof Unifah Rosyidi, mengatakan dari survei itu 85,5 persen orang tua mengaku cemas anaknya kembali bersekolah di tengah pandemi.

"PGRI juga melakukan sejumlah survei terkait dengan harapan orang tua, anak, dan guru terhadap rencana pembukaan sekolah. Sebanyak 85,5 persen orang tua cemas jika sekolah dimulai pada pertengahan Juli ini," kata Unifah di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (6/5/2020).

Sedangkan, respons berbeda ditunjukkan oleh anak-anak yang menyatakan 65 persen responden ingin kembali bersekolah. Unifah menilai hal ini bisa dipahami lantaran anak sudah terlalu lama belajar di rumah. Mereka merasakan jenuh dan rindu terhadap suasan sekolah.

Unik! Sambut New Normal, Pencet Tombol Lift di Sleman City Hall Pakai Kaki

Di kalangan guru, Unifah melanjutkan, sebanyak 57 persen menyatakan siap kembali mengajar di sekolah. Sedangkan sisanya memilih mengajar dari rumah.

Tak hanya itu, PGRI juga melakukan serangkaian survei periodik terkait dengan kesiapan guru dengan pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh.

"Hasilnya sangat menarik karena gerakan untuk belajar diirasakan di mana-mana. Pemerintah harus memanfaatkan ini sebagai suatu momentum untuk melakukan pembenahan pendidikan nasional dalam waktu dekat," terang dia.

Kendati demikian, PGRI meminta agar tahun ajaran baru tetap dengan menggunakan metode pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh.

PGRI juga meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kemendikbud diharapkan mendengar pertimbangan para ahli dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan anak, guru dan warga sekolah lainnya.

"Pemerintah juga perlu berhati-hati dalam penetapan zona. Sebab, ada zona sekolahnya hijau namun zona tempat tinggal guru atau muridnya di zona merah," tutur Unifah.

Video Helikopter Mi17 TNI AD Jatuh di Kendal, 3 Tewas

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho