Gambaran virus HIV. (Wikimedia.org)

Solopos.com, SOLO -- Ada kisah tak biasa dari mereka yang hidup dengan HIV. Virus paling menakutkan itu bisa menyebar ke siapa saja, bukan hanya pengguna jarum suntik narkoba atau mereka yang akrab dengan seks bebas. Itulah yang dialami seorang ibu rumah tangga asal Solo saat virus itu datang meski tanpa diundang.

Dari puluhan kursi kosong di salah satu kafe di pinggiran Kota Bengawan, Kamis (28/11/2019) malam, Nona (bukan nama sebenarnya) memilih duduk di sudut taman depan ayunan.

Ditemani sang suami, Anton [bukan nama sebenarnya] perempuan berkulit kuning bersih dan punya rambut lurus sebahu itu sesekali mengamati kedua putrinya tengah asyik berlarian di sekitarnya.

“Mami, aku juga mau,” rengek si bungsu merajuk camilan kentang goreng yang dikudap Nona. “Sudah, bawa ke sana sama kakak ya?” jawab dia dengan nada suara lembut. “Kak, adiknya dijagain ya?” pesan Nona kepada si sulung yang beda tujuh tahun dengan adiknya.

Keluarga kecil ini sekilas tampak bahagia bisa berbagi tawa. Namun siapa sangka, beberapa tahun sebelumnya mereka tak sanggup berdiri tegak hanya untuk menatap matahari.

11 Ibu Hamil dan 32 Anak di Klaten Terjangkit HIV/AIDS

Nona tengah bergelimang kebahagiaan saat masih bersama mendiang suaminya waktu itu. Rumah tangganya baru dikaruniai momongan. Namun tiba-tiba suami pertamanya yang bekerja di bidang pelayaran kolaps lantaran mengidap HIV/AIDS.

“Hancur sekali waktu itu. Usia pernikahan baru dua tahun. Anak baru satu tahun. Tiba-tiba ditinggal suami. Sedih sekali saat tahu ternyata saya juga kena. Makin hancur waktu diberitahu anak juga positif. Saya enggak sanggup membayangkan kehidupan dan masa depan dia,” bebernya sembari menahan tangis.

Saat kali pertama mengetahui hasil tesnya positif HIV, fisik Nona masih terbilang prima. Ia diketahui masih dalam fase stadium satu dengan level CD4 di angka 255. Namun setelah syok mengetahui statusnya sebagai orang dengan HIV (Odiv), kondisi tubuhnya melemah.

“Hampir dua pekan saya sakit sampai enggak bisa bangun sama sekali. Sampai muncul candisiasis. Enggak mau keluar rumah juga karena malu dan takut nanti kalau tetangga tanya macam-macam dan tahu bagaimana. Takut dikira aneh-aneh. Padahal saya cuma ibu di rumah dan mengurus anak saja,” terangnya.

8 Ibu Hamil di Sukoharjo Idap HIV/AIDS karena Tertular Suami

Dalam fase tergelap dalam hidupnya itu, uluran tangan keluarga inti menguatkan Nona. Afirmasi positif dari sekitarnya agar ia fokus merawat putri tunggalnya waktu itu membuahkan semangat untuk bangkit. Ia pun tergerak menjalani terapi medis antiretroviral (ARV). “Yang bikin bangkit ya nanti kalau sampai aku drop, sampai mati, terus yang mengasuh anak siapa,” ujar Nona.

Dukungan komunitas sesama penyandang HIV/AIDS di tempat kelahiran Nona juga membantunya semangat menjalani hidup. Ia pun turut bergabung di kelompok dukungan sebaya (KDS) setempat untuk menguatkan sesama pengidap.

Hidup Baru

Hingga akhirnya di suatu acara komunitas pendukung sebaya di dekat Semarang, Nona bertemu Anton. Pria pengidap HIV dari golongan pengguna narkoba jarum suntik (penasun) ini menunjukkan keseriusannya berkomitmen dengan Nona.

48.000 Warga Jateng Diprediksi Idap HIV/AIDS, Baru 50% Terdeteksi

Awalnya Nona tak langsung setuju lantaran masih menutup diri dan cuma ingin fokus membesarkan putri semata wayangnya. Tapi melihat kegigihan pria asal Solo itu, hatinya tersentuh. Keduanya pun menikah.

Setelah beberapa waktu membina rumah tangga dengan sesama orang dengan HIV (Odiv), Nona sempat gamang apakah ingin program memiliki anak lagi. Ada kekhawatiran anak-anaknya kelak tidak ada yang merawat ketika ia dipanggil Tuhan. “Aku merasa egois kalau enggak mau punya anak dari dia. Sementara dia sudah menerima aku dan anakku. Akhirnya kami program momongan,” jelasnya.

Nona pun menjalani program kondisi khusus kehamilan dan persalinan untuk Odiv. Salah satu persyaratannya, dia wajib memastikan level sel darah putih yang berperan penting dalam memerangi infeksi HIV (CD4) cukup tinggi. Selain itu hasil tes viral load juga dalam status tak terdeteksi.

Hari Kerja, Reuni 212 Dijanjikan Bubar Senin Pagi Pukul 08.00 WIB

“Kehamilannya sangat dipantau. Persalinan dilakukan dengan operasi. Setelah persalinan juga masih dipantau ketat. Puji Tuhan anakku yang kecil negatif dan sehat,” tutur dia.

Kini keluarga kecil pasangan Nona dan Anton saling menguatkan satu sama lain. Selain juga sokongan sesama dari KDS dan keluarga intinya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten