Kasus temuan HIV/AIDS di Sukoharjo selama enam tahun terakhir. (Whisnu Paksa/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Tren penularan HIV/AIDS di Sukoharjo beralih dari kelompok lelaki suka lelaki (LSL) atau gay menjadi perilaku heteroseksual. Sementara pengidap HIV/AIDS di Sukoharjo yang meninggal dunia hingga Agustus 2019 sebanyak 102 orang.

Koordinator Yayasan Sahabat Sehat Mitra Sebaya (Yasema) Sukoharjo, Garis Subandi, mengatakan selama beberapa tahun terakhir, tren penularan virus HIV/AIDS didominasi kalangan LSL.

Pada 2019, tren penularan virus HIV/AIDS beralih ke perilaku heteroseksual dengan bergonta-ganti pasangan.

“Jumlah penderita baru dari kalangan heteroseksual sebanyak 14 orang. Sementara penderita baru dari kelompok gay hanya empat orang. Artinya, ada perubahan tren penularan virus HIV/AIDS,” kata dia, saat berbincang dengan solopos.com, Minggu (17/11/2019).

Selain heteroseksual dan gay, ada delapan ibu hamil positif mengidap virus HIV/AIDS. Para ibu hamil rawan terjangkit virus HIV/AIDS yang ditularkan dari suaminya. Para ibu hamil diminta menjalani tiga tes infeksi menular secara sukarela yakni HIV, sifilis dan hepatitis B.

Para pengidap baru virus HIV/AIDS ditemukan saat menjalani voluntary counseling test (VCT) di puskesmas maupun rumah sakit. Mereka terbanyak ditemukan di wilayah perbatasan dengan Kota Solo seperti Kartasura, Grogol, dan Mojolaban.

“Banyak juga pengidap baru HIV/AIDS yang ditemukan di wilayah pinggiran. Ada tujuh pengidap baru HIV/AIDS yang ditemukan di wilayah Polokarto,” ujar dia.

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) harus menjalani pengobatan antiretroviral (AVR) guna menekan jumlah virus di dalam tubuh. Di Sukoharjo, terapi ARV dilakukan di RSUD Ir. Soekarno dan tiga puskesmas yakni Puskesmas Nguter, Kartasura dan Grogol.

Pria yang akrab disapa Bandi ini mendorong agar setiap puskesmas bisa melayani ODHA yang melakukan terapi ARV.

“12 puskesmas di Sukoharjo telah memiliki klinik VCT. Namun, belum semua puskesmas menyediakan obat ARV untuk ODHA. Kami dorong agar setiap puskesmas menyediakan obat ARV agar para ODHA tak perlu menempuh perjalanan jauh jika hendak menjalani terapi,” papar dia.

Berdasarkan data DKK Sukoharjo, total jumlah kasus HIV/AIDS selama 2008-Agustus 2019 sebanyak 560 kasus. Perinciannya, 263 kasus virus HIV dan 297 AIDS. Sementara jumlah pengidap virus HIV/AIDS yang meninggal dunia sebanyak 102 orang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan mengoptimalkan klinik VCT di 12 kecamatan dan rumah sakit di Sukoharjo. Selain itu, mobil VCT bakal berkeliling ke perdesaan sebagai upaya penemuan baru penderita virus HIV/AIDS.

“Kasus virus HIV/AID ibarat fenomena gunung es. Hanya sedikit yang terdeteksi padahal masih banyak pengidap HIV/AIDS. Klinik VCT di setiap puskesmas bakal lebih dIoptimalkan,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten