Sri Sultan HB X Cabut Jabatan Dua Adiknya, Konflik Internal Keraton Yogyakarta Mencuat Lagi?
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jl. Rotowijayan, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Jogja, DIY. (Kratonjogja.id)

Solopos.com, YOGYAKARTA -- Situasi di Keraton Yogyakarta kembali menghangat belakangan ini. Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X, dikabarkan mencabut jabatan struktural keraton yang disandang oleh dua adiknya, GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat.

Langkah Sri Sultan ini tidak terlalu mengagetkan para pengamat setelah konflik internal yang terjadi selama di keraton.

Dalam surat resmi keraton yang tertanda atas nama Hamengku Bawono Ka 10, Sultan mencabut jabatan struktural atau bagian dari tatarakite peprintahan Keraton Yogya yang selama ini disandang GBPH Yudhaningrat dan GBPH Prabukusumo.

Kerbau Bule Tertua Keraton Solo Mati, Dimakamkan Seperti Manusia

Posisi GBPH Yudhaningrat selaku Penggedhe Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya Keraton Yogyakarta digantikan putri sulung Sultan, GKR Mangkubumi. Sedangkan Pengedhe Kawedanan Hageng Punakawan Nityabudaya Keraton Yogya yang semula dipegang oleh GBPH Prabukusumo, dipercayakan pada salah putri sultan yang lainnya, GKR Bendara.

"Sabar bersabar, kalau saya dengan Dhimas Yudho [GBPH Yudhaningrat] dipun jabel kalenggahanipun, artinya itu dipecat. Karena itu saya membuat ini [pernyataan tertulis] agar warga DIY tahu, kalau saya dan Dhimas Yudho itu tidak salah," kata Prabukusumo, Selasa (19/1/2021).

Sabdatama

Lebih lanjut, Gusti Prabu mengaku mengambil keputusan untuk tidak aktif lagi di Keraton sejak enam tahun silam. Tepatnya setelah adanya Sabdatama dan Sabdaraja dari Sri Sultan kala itu.

Nyai Manis Sepuh, Kerbau Bule Tertua di Keraton Solo Mati

"Artinya, mengapa orang salah tidak mau mengakui kesalahannya, malah memecat yang mempertahankan kebenaran, yaitu kesungguhan pikiran, niat dan hati yang mulia untuk mempertahankan adat istiadat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak HB I hingga HB IX," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Penghageng Parentah Hageng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Yudhahadiningrat menyebut keduanya bukan dicopot. Namun keduanya masih berstatus pangeran rayi dalem Keraton.

"Nggak dicopot kok beliau. Beliau tidak dicopot. Diganti. Diganti kan beda dengan dicopot. Klo dicopot kan dipecat. Nggak kan," kata saat dihubungi wartawan, Rabu (20/1/2020).

Roda Ekonomi Wisata Kawasan Keraton Solo Mulai Berputar Lagi

"Beliau masih GBPH Prabukusumo kok. Tapi jabatan beliau diganti, tidak dicopot," imbuhnya.

Terlebih, menurutnya, pergantian jabatan struktural di Keraton adalah hal yang biasa. Mengingat perlunya regenerasi di dalam suatu struktur.

Komentar Pengamat

Sedangkan Dosen Fisipol UGM Bayu Dardias Kurniadi mengaku tidak kaget dengan hal tersebut. Mengingat GKR Mangkubumi dan GKR Bendara adalah wakil keduanya saat menjalankan posisi di struktural Keraton.

"Setahu saya, saat interview dengan Sultan (HB X) waktu itu sudah sejak lama putri-putri Sultan itu menjadi wakil dari om-omnya (GBPH Yudhaningrat dan GBPH Prabukusumo)," ucapnya saat dihubungi wartawan, Rabu (20/1).

"Nah, sudah sejak 5 tahun terakhir sebenarnya fungsi itu sudah diambil alih oleh putri-putrinya. Jadi sekarang ini, om-omnya ini sudah tidak terlibat sudah cukup lama," lanjutnya.

Cegah Covid-19, Keraton Solo Tiadakan Grebeg Maulud dan Sekatenan Tahun Ini

Seperti halnya GBPH Prabukusumo sudah tidak lagi mengurusi museum sejak lama karena secara de facto diambil alih oleh putri-putri Sultan. Oleh karena itu sekarang hanya tinggal secara de jure saja.

"Karena itu saya tidak kaget, misal saat nyebar udhik-udhik itu saya lihat 3 tahun yang lalu, biasanya kan yang nyebar omnya," katanya.

"Waktu omnya masih pegang udhik-udhik itu menurut cerita Gusti Prabu [Prabukusumo] diambil alih oleh putri-putri Sultan kemudian disebarkan oleh Sri Sultan sehingga omnya mundur. Sejak saat itu om-omnya sudah tidak terlibat lagi di dalam urusan Keraton," imbuhnya.

Sumber: Detik.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom