Solopos Institute Luncurkan Program Literasi Keberagaman untuk Sekolah
Hasil tangkapan layar suasana diskusi tim penulis modul literasi keberagaman dengan tim ahli Akhmad Ramdhon yang dilakukan via Zoom, baru-baru ini.(Tim Solopos)

Solopos.com, SOLO--Lembaga pelatihan jurnalistik di Solopos Group, Solopos Institute, baru-baru ini meluncurkan program literasi keberagaman yang berlokasi di delapan sekolah SMA/SMK di Soloraya. Program ini bertujuan meningkatkan literasi keberagaman kepada guru dan siswa sehingga tercipta sekolah inklusif berbasis keberagaman.

Program yang berjudul Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme untuk Guru dan Pelajar SMA/SMK di Soloraya ini berlangsung selama satu tahun, mulai 3 Agustus 2020 hingga 2 Agustus 2021.

Project Leader Program Literasi Keberagaman, Sholahuddin, menjelaskan program ini dilatari oleh masih minimnya pemahaman tentang literasi di masyarakat, khususnya tentang keberagaman yang menjadi realitas sosiologis masyarakat, khususnya di Soloraya. Sekolah, lanjut dia, menjadi tempat yang tepat untuk menyemai nilai-nilai toleransi melalui produk jurnalistik yang bisa menjadi narasi yang bagus di ruang publik.

10 Berita Terpopuler : Gubernur Ganjar Sidak Warung Makan

Berbasis Jurnalisme

Program literasi keberagaman ini berbasis jurnalisme. Program ini ingin membumikan prinsip-prinsip jurnalisme sebagai alat untuk internalisasi literasi keberagaman sekaligus meningkatkan keterampilan jurnalistik di lingkungan sekolah. “Jadi ada tiga hal yang menjadi kata kunci dalam program ini, yakni peningkatan di bidang literasi, keberagaman dan praktik jurnalistik,” jelas dia, Rabu (23/9/2020).

Prinsip-prinsip jurnalisme, lanjut dia, sangat kaya akan nilai-nilai keberagaman serta bernilai edukasi tinggi di bidang literasi. Terlebih banyak masyarakat menerima informasi intoleransi selama ini dari media, terutama media sosial.

Oleh sebab itu program literasi keberagaman ditekankan untuk meningkatkan literasi sekolah, baik pada saat mengkonsumsi informasi maupun memproduksi informasi. Dengan program ini diharapkan menjadi pemicu masyarakat untuk bisa menerima dan memproduksi informasi secara benar.

“Apapun bentuk penyebaran informasi kepada publik, nilai-nilai jurnalisme selalu relevan untuk digunakan,” katanya.

Secara garis besar, program ini akan diawali dengan riset baseline untuk mengukur pengetahuan tentang literasi, toleransi dan perdamaian serta keterampilan jurnalistik guru dan siswa.

Hasil riset ini akan menjadi data penting saat penyusunan modul dan buku panduan literasi keberagaman. Modul ini akan dilatihkan melalu training of trainer kepada empat orang guru tiap sekolah, masing-masing guru agama, guru Bahasa Indonesia, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan guru pembina ekstrakurikuler jurnalistik. Guru hasil training of trainer akan menjadi fasilitator/pelatih untuk workshop literasi keberagaman baik kepada sesama guru maupun kepada siswa di lokasi program.

Sabar Dulu, Simulasi PTM SMA Dan SMK Di Solo Tunggu Covid-19

Ekstra Kurikuler Jurnalistik

Selain training of trainer dan berbagai workshop literasi keberagaman, program ini juga ada aktivitas pembentukan atau penguatan ekstra kurikuler jurnalistik, penerbitan media sekolah, publikasi karya jurnalistik peserta workshop, lomba karya jurnalistik, serta festival literasi keberagaman yang berisi pameran karya jurnalistik masing-masing sekolah dan talkshow tentang keberagaman.

“Kami berharap modul dan buku panduan literasi keberagaman nantinya tidak hanya digunakan dalam proses belajar mengajar di delapan sekolah, tapi juga bisa diterapkan di sekolah SMA/SMK lainnya,” jelas Sholahuddin.

Guru calon fasilitator literasi keberagaman, Retno Winarni, menyambut antusias sekaligus mengucapkan terima kasih SMAN Kerjo dipilih menjadi lokasi program. Mengingat semangat yang diusung dalam program ini yaitu keberagaman yang sangat penting disebarluaskan kepada publik terutama juga generasi muda sebagai penerus bangsa. “Agar mereka memiliki dasar yang kuat tentang keberagaman,” jelas dia.

Sholahuddin menjelaskan terdapat delapan sekolah yang akan menjadi lokasi pelaksanaan program, yakni SMAN 3 Solo, SMAN 4 Solo, SMAN 1 Cawas Klaten, SMKN 2 Klaten, SMAN 1 Sukoharjo, SMKN 3 Sukoharjo, SMAN Kerjo Karanganyar, dan SMKN Ngargoyoso Karanganyar.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom