Pemandangan Kota Solo dari ketinggian. (JIBI/Solopos/Dok.)

Solopos.com, SOLO — Kendati telah merubah narasi sebagai sebagai city of craft and folk art (kota kerajinan dan kesenian rakyat), tahun ini Solo kembali gagal menjadi anggota Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) Creative City Network (UCCN) atau Jaringan Kota Kreatif.

Kegagalan tersebut merupakan kali kedua setelah pada 2017, Kota Bengawan mengusulkan diri sebagai kota desain. Kabid Ekonomi Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Solo, Francisco Amarai, mengaku tak mengetahui alasan kegagalan tersebut.

“Kalau dibilang kecewa, ya, kecewa. Karena pengajuan ke UCCN ini bukan ujug-ujug (mendadak). Kami sudah menginisiasi sejak 2014, meski dokumen resmi yang tercatat dan dibalas UNESCO adalah yang 2017 dan 2019. UNESCO tidak memaparkan kenapa kami gagal. Surat bertanggal Rabu [30/10/2019] itu hanya mengapresiasi keikutsertaan kami membangun kota kreatif,” kata dia, kepada Solopos.com saat dijumpai di ruangannya, Selasa (3/11/2019).

Berbeda nasib dengan Solo, Ambon yang baru kali pertama maju sebagai kota musik atau city of music justru lolos. Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay menetapkan kota terbesar di Provinsi Maluku itu bersama 65 kota lain di dunia sebagai jaringan kota kreatif.

Dengan penetapan itu, jumlah kota-kota yang menjadi anggota UCCN mencapai 246. Kota-kota kreatif tersebut diminta bekerja bersama menuju misi bersama menempatkan kreativitas dan ekonomi kreatif sebagai inti dari rencana pembangunan perkotaan untuk membuat kota-kota aman, tangguh, inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan Agenda PBB 2030 untuk pembangunan berkelanjutan.

“Meski kami enggak lolos, kami enggak akan patah arang. Justru memacu untuk lebih kreatif. Solo kan gudangnya event pergelaran seni dan budaya. Masuk atau tidaknya ke UCCN tidak akan membuat agenda itu dibatalkan atau dihilangkan. Selain itu, kami juga telah menyandang gelar kota kreatif nasional bersama 9 daerah lain,” jelas Francisco.

Kegagalan kali kedua dan berturut-turut ini membuat Solo tak lagi bisa mengajukan keanggotaan pada 2021. Aturan dari UNESCO, peserta yang sudah dua kali gagal harus jeda selama satu periode untuk memberi kesempatan pada kota lain. “Kami belum tahu apakah pada 2023 akan ikut lagi atau tidak. Masih panjang waktunya. Dokumen yang kemarin saja penyusunannya hampir satu tahun,” kata dia.

Dihubungi terpisah, Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang juga anggota Komite Kota Kreatif, Kusumaningdyah Nurul Handayani, mengucapkan hal senada. Ia tidak tahu pasti mengapa Solo gagal masuk UCCN.

“Dalam proses penilaian ini, UNESCO hanya melakukan verifikasi dokumen dan kelengkapannya saja seperti website Pemkot, website komunitas dan lain sebagai. Tapi, mungkin juga kegagalan ini baik. Kalau benar-benar masuk UCCN, apakah Solo siap dengan konsekuensinya. Dari sini, Solo bisa intropeksi,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten