Siswa SMKN 1 Miri mengikuti terapi psikososial untuk menghilangkan rasa trauma akibat ambruknya aula yang melukai 22 siswa, Kamis (21/11/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Dinas Sosial (Dinsos) Sragen mendirikan posko di kompleks SMKN 1 Miri di Desa Jeruk, Kecamatan Miri, Sragen, selama beberapa hari ke depan.

Para sukarelawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sragen diberi tugas untuk memberi terapi psikososial kepada siswa sekolah setempat.

Terapi itu dilakukan secara bergantian dari satu kelas ke kelas lainnya. Terapi psikososial itu akan terus dilakukan untuk menghilangkan rasa trauma di benak siswa akibat ambruknya aula sekolah setelah diterjang puting beliung, Rabu (20/11/2019) lalu.

“Besok Senin [25/11/2019] anak-anak akan menghadapi ujian. Jangan sampai musibah ini memengaruhi persiapan mereka menghadapi ujian. Mereka harus bisa beradaptasi dengan trauma. Bisa menyemangati diri sendiri. Mereka harus bisa memahami ada kekuatan yang di luar kemampuan kita sebagai manusia,” ucap Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinsos Sragen, dr. Finuril Hidayati, Kamis (21/11/2019).

Dia berharap terapi psikososial itu bisa membantu para siswa SMKN 1 Miri supaya tidak takut akan bencana. Kalau ada bencana, ungkap Finuril, tetap bisa menerima dan menghadapinya.

Pada Kamis, para siswa SMKN 1 Miri diajak berdoa untuk kesembuhan teman-teman mereka yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Setelah berdoa, para siswa diajak bermain dan bernyanyi. Ada beberapa game kecil yang mereka mainkana. Para siswa merasa terhibur. Mereka tertawa lepas. Untuk sejenak, mereka melupakan kejadian ambruknya aula yang melukai 22 teman mereka pada Rabu sore.

Pascaambruknya aula itu, tidak dimungkiri sejumlah siswa masih trauma. Perasaan panik saat mereka mengabaikan guyuran hujan untuk menyelamatkan teman-teman mereka yang tertimpa reruntuhan bangunan masih terngiang kuat dalam ingatan.

“Saat itu saya masih berada di ruang kelas yang berdekatan dengan aula. Saya bersama teman-teman menunggu waktu pulang karena masih hujan. Tiba-tiba terdengar suara bangunan ambruk disertai jeritan histeris teman-teman. Seketika kami berlari keluar dan menyadari bila aula sudah ambruk rata dengan tanah. Kami pun langsung turun untuk mengevakuasi teman-teman yang tertimpa reruntuhan bangunan aula,” kata Angga Saputra, salah seorang siswa seusai mengikuti terapi psikososial pascabencana di ruang kelasnya.

Diakui Angga, pascaambruknya bangunan aula itu, dirinya sempat merasa ketakutan kalau kejadian serupa akan terulang. Setelah mengikuti terapi psikososial, rasa trauma itu berangsur menghilang.

Rasa trauma itu diharapkan tidak mengganggu persiapan siswa yang akan mengikuti ujian. “Sekarang saya dan teman-teman harus fokus kembali belajar. Semoga kami dimudahkan dalam ujian nanti,” paparnya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten