Puing-puing aula terbuka SMK 1 Miri, Sragen, yang ambruk diterjang angin kencang, Rabu (20/11/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 22 siswa terluka akibat tertimpa atap bangunan aula SMKN 1 Miri, Sragen, yang ambruk, Rabu (20/11/2019) sore.

Wakil Bupati Sragen, Dedy Endriyatno, yang langsung meninjau ke lokasi mengaku belum bisa memastikan penyebab ambruknya aula itu. Apakah murni karena angin puting beliung atau karena faktor lain.

"Ini masih proses penanganan, kami belum tahu apakah ini murni karena faktor alam yaitu saking kencangnya angin, faktor bangunan atau apa, masih diselidiki," ujar Dedy kepada wartawan.

Aula SMK 1 Miri Sragen Ambruk Diterjang Angin, Belasan Siswa Terluka

Di sisi lain, Kapolsek Miri, AKP Marsidi, menilai ambruknya aula terbuka SMKN 1 Miri itu murni karena faktor tiupan angin puting beliung. Menurutnya, bentuk bangunan aula tanpa dinding beton membuatnya mudah terangkat oleh angin yang bertiup kencang.

"Saya pikir bukan karena kondisinya kurang layak, tetapi memang tiupan anginnya yang terlalu kencang. Apalagi dampak angin puting beliung itu juga dirasakan di wilayah Gemolong," papar Marsidi.

Bangunan aula terbuka itu berukuran 12 meter x 24 meter. Sebagian besar struktur bangunan terbuat dari kayu.

Detik-Detik KA Tabrak Pemuda Difabel di Makamhaji Sukoharjo Terekam CCTV

"Aula itu dibangun pada 2015. Semuanya terbuat dari bahan kayu tanpa dinding. Pada Kamis besok [hari ini] aula itu rencananya mau dipakai sosialisasi program pajak kepada siswa. Karena sudah ambruk ya nanti dipindah ke lokasi lain," papar Kepala SMKN 1 Miri, Sragen, Sarno.

Sarno mengatakan siswa yang tidak menjadi korban ambruknya aula itu tetap akan masuk seperti biasa pada Kamis (21/11/2019).

Sebagaimana diberitakan, puting beliung melanda wilayah Miri dan Gemolong, sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, puluhan siswa Kelas XI dan XII Program Keahlian Teknik Pengelasan tengah praktik mengelas pagar Lapangan Tenis di samping aula.

Berikut Daftar UMK 2020 di 35 Kabupaten/Kota se-Jateng

Begitu hujan datang, para siswa berteduh di aula. "Saat angin datang, sudah ada tanda-tanda aula itu akan ambruk. Pak Manto [guru] sudah berteriak minta anak-anak meninggalkan aula. Tapi karena hujan dan angin, teriakan dia tidak terdengar jelas oleh para siswa. Tak lama kemudian, aula ambruk," papar Sarno.

Ambruknya aula itu sontak membuat para siswa dan guru geger. Mereka lantas berhamburan menuju aula yang sudah rata dengan tanah untuk menyelamatkan teman-teman mereka.

Sembilan siswa dilarikan ke RS Assalam Gemolong, empat siswa dirawat ke RSU Yakssi Gemolong, satu siswa di RSUD dr. Soeratno, lima siswa dilarikan ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, dan tiga siswa dilarikan ke RS Karima Utama Kartasura.

Ada-Ada Saja, Pelat Nomor Motor Di Karanganyar Ini Diganti Tulisan Aku Jomblo dan ABG Sapi

Tiga siswa yang mengalami patah tulang harus menjalani operasi di RS Karima Utama. Mereka adalah Bayu Samudra, Alfian Yudianto, dan Bagas Dwi.

Hingga pukul 19.00 WIB, sebagian siswa sudah bisa pulang dari RS. Kebanyakan mereka hanya mengalami luka lecet dan trauma. Sebagian lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kejadiannya begitu cepat. Saat hujan, kami langsung berteduh. Tiba-tiba atap aula ambruk," kata Bagas Arya Putra, salah seorang siswa yang dirawat di RS Assalam Gemolong.

Selain 22 siswa, seorang guru bernama Manto juga mengalami luka lecet. Namun, dia masih bisa membantu proses evakuasi siswa yang tertimbun atap bangunan aula.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten