Sukarelawan memberishkan puing-puing aula terbuka SMKN 1 Miri Sragen yang roboh, Kamis (21/11/2019). (Solopos-Moh. KHodiq Duhri.)

Solopos.com, SRAGEN -- Kerugian material akibat bencana puting beliung yang menerjang wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Rabu (20/11/2019) sore, mencapai Rp200 juta. Angka itu berasal dari kerusakan akibat ambruknya aula SMKN 1 Miri serta robohnya bangunan waterboom di Gemolong.

"Sudah dihitung [kerugiannya] Rp200 juta, untuk semuanya," ungkap Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sudaryanto, saat meninjau ke SMKN 1 Miri Sragen, Kamis (21/11/2019) pagi.

Sudaryanto sebagaimana dilaporkan wartawan Solopos, Moh. Khodiq Duhri, menjelaskan angin kencang yang menerjang Sragen kemarin sore dipicu siklon tropis yang biasa terjadi saat musim pancaroba.

"Kalau dilihat di sekelilingnya ini gak ada apa-apa. Tapi ketika lihat situasi di sini ini, kelihatannya anginnya langsung dan bangunannya joglo gak ada dindingnya sehingga terangkat, maka ini hancur. Nah kebetulan kemarin ada adik-adik kita jam sekolah sudah habis tapi ada praktik kegiatan pas di sini, nah ini roboh ada 22 [orang] cedera, yang 3 luka [berat] dan 19 luka ringan. Tapi yang sembilan [korban] menurut informasi yang saya dengar sudah pulang, yang lain masih di rumah sakit," kata dia.

Pihaknya mengupayakan adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu korban bencana puting beliung itu.

Dia menjelaskan kejadian angin kencang tak hanya terjadi di Sragen tapi juga di Kabupaten Magelang juga ada. "Justru di sana lebih dulu, malah dua kali," ungkap Sudaryanto.

Jadi sebelumnya, beber dia, ada 10 kabupaten/kota di Jateng [dilanda puting beliung] sehingga menyebabkan bangunan rusak sebanyak 3.200 rumah.

"Tetapi sudah kami selesaikan dan [angin kencang] datang lagi, mudah-mudahan ini yang terakhir. Kita berdoa supaya masyarakat tenteram," ungkap dia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten