Sekolah di Wonogiri Siap Gelar Pembelajaran Tatap Muka, Tapi Tunggu Ini
Ilustrasi sekolah (Freepik)

Solopos.com, WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten Wonogiri sudah sejak lama siap menjalankan pembelajaran tatap muka pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Wonogiri menyambut baik rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang akan memulai pembelajaran tatap muka atau PTM pada Juli mendatang.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, saat ditemui wartawan di kawasan kota Wonogiri, Selasa (3/3/2021), menyampaikan persiapan PTM sudah dilakukan sejak lama. Bahkan, sejak dulu sebenarnya dia ingin PTM segera dilaksanakan dengan sistem sif.

Baca juga: 253 RT di Klaten Zona Kuning Covid-19, Ini Maksudnya

Dia menyambut baik sinyal Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau Mendikbud yang ingin memulai PTM pada Juli. Ke depan mekanisme PTM akan disesuaikan dengan skenario tingkat pusat.

“Kami masih menunggu kepastian rencana PTM ini,” kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wonogiri, Yuli Bangun Nursanti, mengatakan skenario PTM Mendikbud sudah sesuai dengan skenario yang disiapkan dinas. Alhasil, dinas tak perlu banyak mengubah skenario.

Baca juga: Sragen Dapat 12.000 Dosis Vaksin Covid-19 Lagi, untuk TNI 200 Dosis, Polri 800 Dosis

Skenario tersebut disiapkan sejak sebelum tahun ajaran 2020/2021 lalu. Saat itu ada rencana menjalankan PTM. Namun, rencana dibatalkan lantaran kasus terkonfirmasi melonjak.

“Kalau menurut skenario Mendikbud, PTM dijalankan dengan sistem sif agar tidak 100 persen PTM dalam satu hari. Dalam satu kelas maksimal 18 siswa. Itu sudah sama dengan skenario PTM di Wonogiri,” ucap Yuli.

Murid Dibagi Berdasar Kelas

Skenario PTM sekolah menengah pertama atau SMP di Wonogiri, yakni masuk sekolah dibagi berdasar kelas. Contohnya, pada Senin kelas VII masuk pagi, kelas VIII masuk siang, sedangkan kelas IX pembelajaran jarak jauh atau PJJ.

Pada Selasa kelas VII bergeser menjadi masuk siang, kelas VIII menjalani PJJ, dan kelas IX masuk pagi. Begitu seterusnya pada hari berikutnya.

Jika jumlah siswa dalam satu kelas lebih dari 18 orang bisa dibagi menjadi dua kelas. Sekolah dapat menggunakan kelas yang tidak ditempati siswa karena menjalani PJJ.

Baca juga: Buruan Daftar, Ini 5 Keuntungan Menjadi Peserta UMKM Virtual Expo 2021

“Misalnya kelas VII-IX masing-masing ada 10 kelas. Jika skenario diterapkan berarti ada 10 kelas yang kosong karena ada siswa PJJ. Kelas yang kosong itu bisa dioptimalkan, sehingga tempat duduk siswa bisa berjarak,” ulas Yuli.

Sementara, PTM untuk jenjang pendidikan anak usia dini atau PAUD dan sekolah dasar atau SD menyesuaikan jumlah siswa. Jumlah siswa PAUD dan SD tak banyak.

Ada satu kelas yang berisi sembilan siswa. Dengan jumlah itu siswa tanpa dibagi pun sudah berjarak tempat duduknya.

Baca juga: Lagi Dilelang, Mal Pelayanan Publik Karanganyar Didesain Serupa Kafe

“Semua guru dan tenaga kependidikan akan divaksin dulu. Kami masih menunggu kepastian vaksinasinya,” ujar dia.

Sebagai informasi, dari hasil pendataan yang pernah dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 98 persen SD dan 91 persen SMP sudah siap menjalankan PTM. Sekolah-sekolah itu sudah memiliki sarana pendukung penerapan protokol kesehatan.

Sementara, sebanyak 93,8 persen orang tua/wali siswa SD mendukung/setuju pelaksanaan PTM. Sedangkan, 78,2 persen orang tua/wali siswa SMP mendukung PTM.



Berita Terkini Lainnya








Kolom