Sekolah di Karanganyar Sudah Siap Terapkan KBM Tatap Muka
Ilustrasi sekolah (Freepik)

Solopos.com, KARANGANYAR – Sekolah di Karanganyar diklaim sudah siap menerapkan metode KBM tatap muka. Meskipun begitu, kebijakan tersebut masih belum bisa dilakukan lantaran belum adanya pembicaraan ulang setelah dibatalkannya rencana semula.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Tarsa, ketika ditemui Solopos.com di ruangannya belum lama ini. Dia mengatakan status zona Covid-19 di Karanganyar sudah berubah dari yang sebelumnya merah menjadi oranye.

Meskipun begitu, pembicaraan ulang untuk menerapkan sekolah tatap muka masih belum bisa dilakukan dan masih menunggu zona oranye berubah menjadi kuning.

“Belum, belum bisa dilaksanakan. Kami masih menunggu keputusan gugus tugas untuk pembicaraan lebih lanjut. Memang sekarang jadi oranye statusnya tapi minimal kuninglah untuk membahas lagi soal metode tatap muka. Saat ini masih pakai metode daring dan luring,” jelas dia.

Jago Bela Diri hingga Main Burung, Ini 5 Fakta Unik Nunggal Si Preman Solo Pimpinan Gondhez’s

Menurut Tarsa, pada prinsipnya sekolah di Karanganyar sudah siap kapanpun jika nantinya metode tatap muka diumumkan. Pasalnya, pihaknya secara pribadi mengaku kerap mengecek kelengkapan protokol kesehatan dasar dan melihat lingkungan sekolah di Karanganyar.

Penerapan metode tersebut hanya tinggal menunggu waktu mengikuti status zona Covid-19 di Karanganyar.

“Hanya tinggal menunggu waktu saja. Sebenarnya, kami seumpama mau mengumumkan besok tatap muka saja sekolah sudah siap. Hanya saja kami memang berhati-hati karena kondisi zona yang belum sepenuhnya aman untuk dilakukannya metode tersebut,” beber dia.

Inilah Profil Bams DKW 9 Alias Bambang Surono Si Didi Kempot KW Asal Boyolali

KBM Tatap Muka

Sebelumnya, beberapa kepala sekolah mengaku rata-rata orang tua murid di tempat mereka menginginkan KBM tatap muka. Salah satunya diungkapkan Kepala SMPN 1 Matesih, Nardi, yang mengaku sebanyak 85% dari total 672 siswa di sekolahnya memilih pembelajaran tatap muka. Sedangkan 15% lainnya memilih tidak menyumbangkan suara saat disurvei.

“Sebenarnya kalau situasi di sekolah kami kebanyakan malah lebih memilih tatap muka. Kemungkinan karena selain permasalahan lama juga anak-anak itu sudah bosan di rumah terus. Saat ada luring dengan mengumpulkan tugas di sekolah, anak-anak itu dari raut mukanya kelihatan senang sekali. Mungkin itu faktor kenapa mereka lebih memilih tatap muka,” ucap dia.

Janda Bolong Jadi Primadona, Harganya Tembus Rp100 Juta



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom