Sedih, Produksi Kedelai Lokal Wonogiri Terus Menyusut Sejak 1 Dekade Terakhir
Ilustrasi pertanian kedelai (Dok. Bisnis)

Solopos.com, WONOGIRI — Produksi kedelai lokal di Wonogiri teus menyusut dari tahun ke tahun sejak satu dekade terakhir. Alhasil, kedelai lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam daerah.

Ini terjadi karena petani enggan menanam tanaman kedelai. Komoditas pangan tersebut dinilai kurang menjanjikan, lantaran konsumen lebih memilih kedelai impor.

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan Pangan) Wonogiri, produksi kedelai lokal mencapai puncaknya pada 2010. Saat itu Wonogiri memproduksi 34.275 ton kedelai. Sejak itu, produksi terus menurun. Hingga pada 2019 lalu, produksi kedelai anjlok dalam, tercatat hanya 2.411 ton. Pada 2020 produksi diproyeksikan kembali turun di angka lebih kurang 1.200 ton. Angka produksi itu masih proyeksi karena belum semua data masuk ke Dispertan Pangan.

Harga Kedelai di Wonogiri Naik Lagi, Nyaris Rp10.000 per Kg

Penurunan produksi terjadi karena petani semakin enggan menanam kedelai. Tren itu dapat dilihat dari kian menyusutnya luas tanam kedelai sejak 10 tahun lalu. Pada 2010 luas tanam kedelai mencapai 23.091 hektare (ha). Namun setelahnya terus menyusut. Pada 2016 luas tanam kedelai tercatat 7.643 ha. Pada 2020 lalu luas tanam mencapai titik terendah, yakni hanya 992 ha atau turun 1.064 ha dibanding 2019 yang tercatat 2.056 ha.

Sulit Untung

Lantaran minim, produksi kedelai tak dapat memenuhi kebutuhan dalam daerah. Bahkan, pada 2020 ketersediaan kedelai lokal mencapai minus 20.654 ton dari kebutuhan daerah. Tahun lalu kebutuhan kedelai 21.612 ton, tetapi produksi kedelai lokal hanya lebih kurang 1.000 ton.

Kepala Seksi (Kasi) Tanaman Pangan Bidang Produksi Dispertan Pangan Wonogiri, M. Shidiq Purwanto, Senin (18/1/2021), menyampaikan petani semakin enggan menanam kedelai lantaran sulit memperoleh keuntungan. Itu karena harga jual kedelai lokal kalah bersaing dengan kedelai impor, meski secara kualitas kedelai lokal lebih baik.

Kedelai Melejit, Harga Tahu dan Tempe di Wonogiri Ikut Naik

Ketika kedelai lokal kualitasnya baik harga jualnya lebih tinggi daripada harga kedelai impor. Petani tak bisa menekan harga. Jika harga diturunkan, petani rugi besar karena biaya produksi saja sudah tinggi. Petani dapat menjual kedelai lokal dengan harga lebih rendah dari pada harga kedelai impor, tetapi kualitasnya rendah. Pada kondisi itu konsumen, seperti pengrajin tempe dan tahu, memilih kedelai impor.

Ketersediaan dan Penampakan

Pada sisi lain, pengrajin tahu tempe atau memilih kedelai impor karena beberapa alasan. Pertama, faktor ketersediaan untuk menjamin keberlangsungan usaha. Kedelai impor selalu ada di pasaran. Kedua, alasan penampakannya. Bentuk kedelai impor lebih bagus dan secara umum ukuran bijinya lebih besar. Ada kedelai lokal yang ukuran buahnya besar-besar, tetapi tak selalu ada di pasaran.
“Ketika kedelai impor penampakannya bagus dan harganya relatif lebih murah, perajin tentu lebih melirik kedelai impor,” kata lelaki yang akrab disapa Shidiq itu.

Sementara itu, Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan Bidang Ketahanan Pangan Dispertan Pangan, Haryadi, mengatakan meski produksi kedelai lokal minus, tetapi kebutuhan dalam daerah selalu bisa terpenuhi. Pengusaha lokal memenuhi kekurangan kebutuhan itu dengan mengambil dari distributor di Solo dan sekitarnya.

Harga Kedelai Impor Melejit, Perajin Tempe Wonogiri Menjerit

Mayoritas kedelai yang dipasok dari luar daerah adalah kedelai impor. Berdasar survei pedagang, stok untuk memenuhi kebutuhan Wonogiri selama 2020 tercatat 22.395 ton. Produksi kedelai pernah mencapai surplus pada 2010, yakni saat produksi mencapai 34.275 ton.

“Saat harga kedelai impor eceran sekarang menjadi Rp10.000/kg, harga kedelai lokal Rp13.000/kg-Rp14.000/kg. Karena itu kedelai lokal kalah bersaing. Ini yang membuat petani dari waktu ke waktu enggan menanam kedelai,” ulas Haryadi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom